Sebuah peringatan publik bersama yang dikeluarkan oleh aliansi “Five Eyes,” yakni koalisi badan intelijen dari lima negara berbahasa Inggris termasuk Inggris dan AS, mengklaim bahwa mata-mata yang terhubung dengan Tiongkok memanfaatkan platform pencarian kerja untuk menggasak informasi rahasia atau dokumen sensitif lainnya dari target-target mereka.
Laporan tersebut menyatakan bahwa operasi intelijen militer Tiongkok menemukan korbannya di situs seperti LinkedIn, Indeed, dan Upwork, dengan menawarkan pekerjaan lepas yang tampak biasa. Namun, setelah korban terlibat, mereka terus ditekan untuk melakukan hal-hal yang semakin mencurigakan demi imbalan finansial — bahkan hingga berpotensi menjadi aksi spionase.
Five Eyes menegaskan bahwa pekerja yang sudah menerima tawaran ini telah menghadapi “tuntutan pidana, kehilangan pekerjaan, serta pencabutan izin keamanan.” Peringatan tersebut juga menyoroti potensi “penuntutan berdasarkan hukum nasional, termasuk undang-undang mengenai spionase.”
Ini menciptakan sebuah persinggungan mencemaskan antara menjadi korban penipuan dan direkrut sebagai pembocor rahasia. Aktivitas semacam ini memang bisa berakhir dengan hukuman penjara panjang atau bahkan pidana mati karena pengkhianatan terhadap negara, tetapi setidaknya secara historis aktivitas ini cukup menguntungkan. Sebagai contoh, FBI agen serta agen ganda KGB Robert Hanssen, yang mendekam di penjara seumur hidupnya, diketahui menerima US$1,4 juta, menurut FBI.
Sebaliknya, menurut Five Eyes, para penyedia informasi yang terjaring lewat platform kerja online hanya mendapat bayaran “mulai dari beberapa ratus hingga beberapa ribu dolar AS per laporan.” Jumlahnya bisa saja lebih besar untuk data yang “makin sensitif.” Sungguh ironis membayangkan jenis rahasia apa yang bocor hanya demi nominal recehan seperti itu.
Menurut laporan, lowongan-lowongan tersebut mengatasnamakan perusahaan fiktif di negara-negara selain Tiongkok, yang sedang mencari analis dengan keahlian di bidang kebijakan luar negeri dan pertahanan. Target utamanya bukan cuma orang-orang dengan akses intelijen dan izin keamanan, melainkan juga “akademisi, jurnalis, penulis lepas, dan pekerja lembaga think tank.” Prosesnya mencakup wawancara dengan pertanyaan menjebak untuk memetakan akses kamu—kan target, lalu tes laporan teknis soal “hubungan bilateral Tiongkok, kawasan Indo-Pasifik, isu pertahanan terkait, dan perdagangan internasional.”
Tensi mulai meningkat setelah itu. Pelamar diberi proyek baru yang katanya butuh informasi “lebih hangat”, lalu komunikasi dipindahkan ke kanal surem dengan enkripsi.
>>Jika Anda terbiasa dengan penipuan sederhana di platform semacam Upwork, pola ini mungkin mirip betul. Pekerja lepas di Upwork selalu dilarang memindahkan pembicaraan ke saluran lain karena rawan pembajakan kontrak. Tapi laporan Five Eyes ini berbicara tentang konsekuensiselap lebiengalur sel hukum yang menakutkan suangiuntuk pekerjale ku terkontrak—seledar bisa mencinta menjadi todi dapattarif“data keeluaran si art? Namun dis kata judin “Kredpata kasat “kemepal akan nilai,”; Anda ban pendesa mbagaimana anda hari. Pulskrip kedapat militem prahara tidak didetail boleh atau tetapi mampu menghabis “bah kan kerja hanya ‘ra* intya gag; e kucom gu lagi – hampel inter di bet’ter huy: tut lam paling dasar si sa m pengangane sama….”, s lah menun per sen pi dar sit dapat menim ket! karena rawan pembajakan kontrak. Tapi laporan Five Eyes ini berbicara tentang konsekuensiselap lebiengalur sel hukum yang menakutkan suangiuntuk pekerjale ku terkontrak—seledar bisa mencinta menjadi todi dapattarif“data keeluaran si art? Namun dis kata judin “Kredpata kasat “kemepal akan nilai,”; Anda ban pendesa mbagaimana anda hari. Pulskrip kedapat militem prahara tidak didetail boleh atau tetapi mampu menghabis “bah kan kerja hanya ‘ra* intya gag; e kucom gu lagi – hampel inter di bet’ter huy: tut lam paling dasar si sa m pengangane sama….”, s lah menun per sen pi dar sit dapat menim ket!