Bagi para insinyur perangkat lunak, riset terbaru dari sebuah firma analitik perekrutan menunjukkan bahwa ‘Kiamat Pekerjaan AI’ belum terwujud. Data dari TrueUp, yang dilaporkan Business Insider pada 3 April, menyatakan jumlah lowongan untuk insinyur perangkat lunak telah melonjak 30% sejak awal tahun ini.
Temuan ini menjadi komplikasi penting bagi narasi bahwa AI sedang menggantikan manusia. Namun, jika Anda seorang *koder* dan kehidupan profesional terasa tidak sebaik yang digambarkan laporan ini, mungkin ada alasan kuat dibaliknya.
Pada Februari lalu, pasar saham sempat mengalami penurunan akibat sesuatu yang sangat rasional dan berbasis fakta: sebuah fiksi spekulatif tentang AI dan kehilangan pekerjaan yang diposting di Substack. Judulnya adalah “The 2028 Global Intelligence Crisis”, berasal dari firma analisis bernama Citrini Research. Bayangkan, tawaran narasinya, jika pengangguran AS melonjak ke 10,2%, terutama karena AI menggantikan pekerjaan kerah putih. Lalu bayangkan orangutan yang bisa menyetir mobil. Bukankah imajinasi itu menyenangkan?
Saya tidak bermaksud meremehkan. Saya mungkin lebih menghargai spekulasi liar daripada kebanyakan orang, dan kisah dari Citrini Research patut untuk direnungkan. Hanya saja, jika Anda percaya pada Mark Cuban ketika dia berkata pada Februari bahwa, “Perangkat lunak mati karena semuanya akan dikustomisasi sesuai pemanfaatan unik Anda,” lalu berinvestasi sesuai dengan itu, Anda setidaknya terlalu terburu-buru.
Tampaknya, hingga publikasi laporan TrueUp, terdapat 67.000 lowongan pekerjaan terkait—angka absolut yang lebih tinggi daripada dalam lebih dari tiga tahun terakhir, dan lebih dari dua kali lipat jumlah pada titik terendah di tahun 2023.
Tetapi kini, lebih dari sebelumnya, laporan semacam ini harus dilihat sebagai sebuah data poin yang menarik, alih-alih tanda bahwa semuanya baik-baik saja.
Bahkan jika, seperti kata TrueUp, jumlah lowongan meningkat pesat, penting diingat bahwa dalam tahun-tahun belakangan, pengalaman yang dilaporkan pencari kerja di semua bidang—tidak hanya rekayasa perangkat lunak—secara kualitatif semakin suram akibat *ghost jobs* dan proses HR yang terotomasi. Seperti ditulis Annie Lowrey dalam sebuah artikel di The Atlantic, “Anak muda menggunakan ChatGPT untuk menulis aplikasi lamaran; HR menggunakan AI untuk membacanya; tidak ada seorang pun yang direkrut.”
Dan seperti ditulis Eleanor Margolis di The Guardian, “Proses perekrutan telah menjadi begitu termekanisasi, baik secara kiasan maupun harfiah, sehingga sulit dipercaya bahwa orang yang akhirnya dipekerjakan bukan semata-mata yang paling mahir memanipulasi sistem.”
Dan pekerjaan itu sendiri, sekali diperoleh, mungkin bukan seperti yang pernah dibayangkan oleh para *coder*. Bukti-bukti mulai bermunculan bahwa alat-alat AI mungkin justru meningkatkan jumlah perangkat lunak yang dibuat. Misalnya, terjadi kenaikan 30% dalam jumlah aplikasi baru di Apple App Store dari 2024 ke 2025, yang oleh The Information diasosiasikan secara tentatif dengan ”efek *vibe coding*.”
Sebagaimana diungkapkan seorang insinyur perangkat lunak anonim di Google kepada newsletter Blood in the Machine tahun lalu:
“Semua ini akan berujung pada kualitas perangkat lunak yang lebih buruk. ‘Siapa pun bisa menulis kode’ terdengar baik di atas kertas, tetapi ketika kode yang buruk diproduksi secara masif, semua pihak akan dirugikan, termasuk mereka yang tidak memintanya dan selama ini mempercayai industri perangkat lunak.”
Jadi, mungkin “efek *vibe coding*” memang telah menciptakan pekerjaan. Itu tidak serta-merta berarti dunia harus bersorak sorai.