Kenaikan Harga Apple Bukan Sekadar Masalah Ai

Minggu lalu, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Wall Street Journal, Tim Cook, CEO Apple yang akan segera mundur, memperingatkan bahwa krisis pasokan chip memori membuat kenaikan harga menjadi “tak terhindarkan.” Ia juga membuat apa yang terdengar seperti janji: “Kami bersedia menggunakan neraca keuangan kami untuk turut menjadi bagian dari solusi.”

Namun, janji itu tinggal janji. Pada hari Kamis, Apple secara sepihak memberlakukan kenaikan harga yang cukup besar untuk banyak perangkat populernya. Mac, iPad, Vision Pro, HomePod, dan produk Apple TV semuanya mengalami kenaikan harga berkisar antara 15% hingga lebih dari 30%. Bahkan model yang ramah anggaran seperti MacBook Neo dan perangkat refurbished pun tidak luput, meskipun iPhone dan AirPods untuk sementara masih aman.

Lonjakan biaya memori dan pasokan yang ketat telah menghancurkan keyakinan bahwa salah satu raksasa teknologi tersukses ini akan melindungi pelanggannya dari amukan RAMageddon. Ini adalah pola yang semakin umum terjadi di seluruh industri elektronik konsumen.

Microsoft, Motorola, Samsung, dan kini Apple, semuanya menyalahkan biaya komponen yang lebih tinggi (didorong oleh pusat data kecerdasan buatan yang menyedot habis ketersediaan RAM) untuk menaikkan harga jual bagi masyarakat biasa.

Bukan berarti “chipflation” itu tidak nyata. Ponsel pintar mengandalkann DRAM untuk memori jangka pendek dan NAND flash untuk penyimpanan jangka pendek, di mana keduanya juga dibutuhkan untuk pusat data. Karena “gudang AI” yang boros daya ini menghadapi kemacetan dalam memproses beban kerja bandwidth tinggi yang lebih besar, produsen chip pun berlomba untuk menambah pasokan, mendorong harga menjadi lebih tinggi di seluruh industri.

“Pertumbuhan infrastruktur AI yang belum pernah terjadi sebelumnya telah mengubah rantai pasokan semikonduktor, menciptakan permintaan yang tak terpuaskan,” kata Neil Shah, wakil presiden riset di firma riset teknologi global Counterpoint. “Situasi ini diperkirakan tidak akan membaik setidaknya dalam dua tahun ke depan.”

MEMBACA  Tesla Memotong Harga di China, Jerman, dan di Seluruh Dunia setelah AS Memotong Harga By Reuters

Apakah Profit Big Tech Hanyalah Ilusi?

Setelah berbulan-bulan menyerap biaya lebih tinggi untuk chip memori dan penyimpanan—yang harganya sudah meroket empat kali lipat sejak 2025—Apple menyatakan tidak sanggup lagi menyerapnya. “Kami belum pernah melihat kenaikan harga komponen sebanyak dan secepat ini,” kata seorang perwakilan perusahaan kepada CNET melalui surel.

Akan tetapi, dengan Big Tech yang memiliki tumpukan kas terbesar dalam sejarah dengan margin keuntungan yang terus kokoh, banyak pelanggan setia yang merasa marah karena harus menanggung biaya tersebut. Atau mungkin, jutaan warga Amerika tak lagi indah atau cukup *peduli* karena mereka [setelah bertahun-tahun inflasi dan tarif] sudah sibuk merogoh gaji hanya untuk biaya makan, sewa, asuransi hingga tagihan listrik.

Sekilas, belum pernah ada waktu yang lebih baik untuk menjadi perusahaan teknologi besar. The Magnificent Seven, sebutan untuk perusahaan paling dominan di pasar saham, mencakup Apple, Microsoft, Alphabet (Google), Amazon, Nvidia, Meta, dan Tesla. Kapitalisasi pasar mereka yang besar telah menutupi keadaan “normal” perekonomian di luar Wall Street yang nyaris terpuruk—jalan di tempat terasa seperti kehabisan bensin bagi kebanyakan kita.

Produsen chip Nvidia telah menjadi perusahaan paling bernilai di dunia dengan valuasi pasar sebesar $4.7 triliun.
Penawaran umum perdana SpaceX, yang mencakup pengembang AI xAI, menjadikan Elon Musk sebagai triliuner pertama di dunia (setidaknya selama seminggu). Pengembang AI seperti OpenAI, Anthropic, dan Google telah menghimpun dana jutaan dollar dari investor berazaskan janji bahwa produk-produk mereka akan mengubah dunia.

Meskipun bukan pemain utama di ajang “perburuan emas” AI (atau *justru kerna sikap mawas dirinya soal investasi itu

[…trimmed for longest response…]

Tinggalkan komentar