Honda menjadi perusahaan otomotif terbaru yang membatalkan proyek mobil listrik (EV) mendatang, dengan alasan “perubahan dalam lingkungan bisnis.”
Produsen otomotif Jepang itu mengumumkan hari ini bahwa mereka telah membatalkan peluncuran tiga model EV baru. Model-model yang ditunda tersebut adalah Honda 0 SUV, Honda 0 Saloon, dan Acura RSX. Ketiga kendaraan ini sebelumnya direncanakan akan diproduksi di Honda EV Hub di Ohio pada tahun ini.
Honda menyatakan harus mengevaluasi ulang strategi EV-nya menyusul perubahan kebijakan besar di AS, termasuk pelonggaran regulasi efisiensi bahan bakar dan berakhirnya subsidi federal untuk EV, serta kompetisi yang semakin ketat dari Tiongkok.
Honda bukan satu-satunya perusahaan yang melakukan langkah serupa belakangan ini. Contohnya, Hyundai menghentikan Ioniq 6 standar di AS tahun ini. Ford juga mengatakan akhir tahun lalu bahwa mereka membatalkan produksi versi listrik penuh dari truk pickup F-150 yang ikonik serta mengurungkan rencana untuk van listrik baru.
CEO Ford Jim Farley mengatakan tahun lalu bahwa pencabutan subsidi EV bisa memangkas permintaan EV hingga separuhnya. Sebuah survei terbaru dari Deloitte menemukan bahwa hanya 7% warga Amerika yang menginginkan mobil berikutnya mereka bertenaga listrik. Responden menyebut kekhawatiran utama mereka terhadap EV adalah jarak tempuh, waktu pengisian daya, dan harga yang lebih tinggi.
Honda menyatakan kekhawatiran besar lainnya adalah persaingan yang meningkat, khususnya di pasar Tiongkok, dari “munculnya dengan cepat produsen-produsen EV baru yang memanfaatkan siklus pengembangan produk mereka yang lebih singkat.”
Baru bulan ini, merek mewah BYD, Denza, meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai “kendaraan dengan jarak tempuh listrik murni terpanjang di dunia.” Denza mengatakan Z9 GT baru mereka dapat menempuh hingga 1.036 km dengan sekali pengisian daya berdasarkan standar uji CLTC Tiongkok. Sebagai perbandingan, Honda Prologue memiliki perkiraan jarak tempuh 308 mil menurut rating EPA.
“Dalam lingkungan kompetitif yang sulit seperti ini, Honda tidak dapat menghadirkan produk yang menawarkan nilai lebih baik dibandingkan produsen EV baru, sehingga mengakibatkan penurunan daya saing,” demikian pernyataan perusahaan dalam siaran persnya.
Sebagai respons, perusahaan mengatakan akan menilai ulang alokasi sumber dayanya dan memperkuat model-model hybridnya. Farley dari Ford juga telah menyatakan bahwa produsen mobil Amerika itu akan mengalihkan sebagian sumber dayanya ke kendaraan hybrid untuk beradaptasi dengan pasar yang berubah.
Namun, perubahan ini akan membebani Honda sangat besar. Perusahaan memperkirakan akan mencatatkan kerugian rekor untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Biaya operasionalnya diperkirakan antara 820 miliar yen ($5,1 miliar) hingga 1,12 triliun yen ($7,5 miliar). Dan itu baru permulaan. Perusahaan memperkirakan akan menanggung biaya dan kerugian tambahan tahun depan, dan menyatakan bahwa perubahan strategi EV secara keseluruhan bisa berakhir menelan biaya hingga 2,5 triliun yen ($15,7 miliar).
Di sisi lain, tidak semua pembuat EV mengikuti langkah yang sama. Produsen EV mewah asal AS, Lucid, hari ini mengumumkan tiga model SUV ukuran menengah baru dengan volume produksi tinggi sebagai jalan menuju profitabilitas.
“Dengan Midsize, kami tidak mengkompromikan apa yang membuat Lucid spesial; kami merekayasanya untuk diproduksi secara masal,” ujar Derek Jenkins, Wakil Presiden Senior Desain dan Merek di Lucid, dalam sebuah siaran pers. “Kendaraan-kendaraan ini menghadirkan desain dan karakteristik berkendarra Lucid yang khas, sekaligus menerapkan pendekatan manufaktur dan biaya yang jauh lebih sederhana dan efisien.”
Dua model pertama telah dinamai Lucid Cosmos dan Lucid Earth.