Dalam dunia *first-person shooter*, Bungie — dari Halo hingga Destiny — telah lama menempati kelasnya sendiri. Kini studio tersebut kembali ke game lawas — Marathon, yang awalnya dirilis pada 1994.
Setelah memainkan versi 2026 dari Marathon selama 6 jam, kesan pertama saya positif. *Gunplay*-nya mengesankan, arahan seninya menarik.
Tempo permainan yang lebih lambat mungkin tak cocok untuk semua orang — tapi secara pribadi, saya justru ingin lebih.
Apa itu ‘Marathon’?
Marathon terjadi di planet Tau Ceti IV, di mana kolonis manusia mengunggah kesadaran mereka ke tubuh sibernetik sekali pakai, mengubah mereka menjadi “Pelari.” Tugas para Pelari adalah menjelajah Tau Ceti IV, mengais sumber daya, artefak, dan data untuk dibawa kembali ke faksi mereka.
Marathon tidak menempatkan *backstory*-nya di depan; namun, tersedia banyak detail tentang faksi-faksi jika Anda ingin mengetahuinya, dan semuanya cukup menarik. Aspek ini mengingatkan saya pada Concord, di mana membaca ensiklopedia dalam game lebih menyenangkan daripada memainkan gamenya sendiri.
Kredit: Tangkapan layar Bungie
Syukurlah, Marathon juga memiliki gameplay yang solid. Ini adalah *extraction shooter*, mirip dengan ARC Raiders, di mana pemain terjun ke sebuah peta, mengumpulkan item, dan mengekstrak diri. Jika Anda pemain Destiny yang giat — dengan kata lain, terbiasa menyerbu dengan senjata — Marathon mungkin terasa asing.
Persediaan Anda terbatas, dan semua item yang Anda bawa atau kumpulkan di lapangan akan hilang jika Anda mati. Jadi, Anda perlu merencanakan rute dengan metodis dan menjelajah dengan hati-hati untuk menghindari pertempuran sebisa mungkin. Ini menciptakan atmosfer tegang yang tak terduga; meresahkan, namun seru.
Mashable Top Stories
Berserakan di lapangan ada NPC dan pemain manusia lain — dan percayalah, mereka tangguh. NPC robotik sangat tahan lama, sementara pemain manusia lain sama sekali tak menunjukkan belas kasihan.
Ini membuat Marathon terasa sangat berbeda dari Halo, Destiny, bahkan ARC Raiders. Jika Anda mencoba melawan NPC dalam baku tembak, kemungkinan besar Anda akan dihabisi — berbeda dengan shooter Bungie lainnya. Di ARC Raiders, Anda akan menemui banyak pemain manusia yang ramah; di Marathon, mereka tak akan ragu untuk menyingkirkan Anda.
Kredit: Tangkapan layar Bungie
Cara baku tembak pecah terasa organik, dan menciptakan banyak pengalaman yang muncul secara spontan. Senjata terasa lancar dan berdampak, momen demi momen dalam baku tembak mengasyikkan. Secara keseluruhan, Tau Ceta terasa seperti tempat yang menindas, tapi menyenangkan secara masokistik.
Jika Anda berhasil mengekstrak, item yang Anda bawa pulang otomatis dijual. Uangnya bisa digunakan untuk membeli senjata dan perlengkapan lain, guna memberi keuntungan saat Anda diterjunkan kembali. Namun, bahkan dengan mainan baru Anda, karakter bisa mudah mati dan kehilangan semua yang dibawa. Meski begitu, saat Anda mati, Anda tak pernah merasa tertinggal jauh. Para pemain tampaknya berada di lapangan yang cukup seimbang.
Masalah Terbesar ‘Marathon’
Saya suka estetika retro-futurisme Marathon. Font dan menunya persis seperti antarmuka Apple dari tahun 1980-an, mengacu pada asal-usul Marathon di komputer Macintosh awal.
Meski demikian, masalah terbesar game ini ada pada antarmuka pengguna, khususnya menunya yang kikuk. Menu itu kikuk karena aksi serupa tidak menggunakan *input* yang sama. Misalnya, Anda membuka kotak dengan tombol kotak pada *controller*, lalu harus memindahkan item dari kotak itu ke inventaris dengan tombol X. Ini tidak terasa intuitif dan bisa mengacaukan pemikiran Anda seiring waktu.
Fontnya sulit dibaca, bahkan di layar besar. Tidak ada opsi untuk memperbesar ukurannya — sesuatu yang kami harap akan diperbaiki dalam pembaruan dini.
Dengan semua itu, saya cukup menikmati beberapa jam pertama saya dengan Marathon. Saya tak sabar melihat apa lagi yang ditawarkan game ini saat dirilis pada 5 Maret untuk PC, PS5, dan Xbox Series X|S.
Nantikan ulasan lengkap kami nanti bulan ini.