Layaknya mekanisme jam. Setiap empat tahun, sekelompok penonton baru mendapati diri mereka tak terduga terpikat oleh curling. Alasannya mudah dipahami. Ada unsur ‘kompetensi porn’ dalam menyaksikan atlet berpengetahuan luas menguasai sesuatu yang bagi dunia mungkin tampak seperti bocce di atas es. Presisi lemparan batu, penyapuan yang hati-hati. Semuanya begitu memesona. Seiring dimulainya Olimpiade Musim Dingin 2026 di Italia, para penonton pun terpukau.
Namun, sementara penonton bersiap mempelajari iterasi modern permainan ini beserta segala perangkatnya, perhatian juga patut diberikan kepada para pecurling zaman dahulu—dan apa yang permainan mereka ungkapkan tentang kondisi iklim Bumi masa lampau.
Catatan tertulis pertama tentang curling berasal dari tahun 1540. Seorang notaris di Paisley, Skotlandia, bernama John McQuhin menulis catatan dalam bahasa Latin tentang tantangan antara John Sclater, seorang biarawan di Biara Paisley, dan Gavin Hamilton, perwakilan kepala biara. Diceritakan bahwa Sclater melemparkan sebuah batu tiga kali di permukaan danau beku dan menyetujui kontes tersebut. Tidak ada catatan apakah ada pemenang dalam tantangan ini, namun disepakati bahwa menggeser batu di sepanjang perairan beku merupakan kegiatan yang menyenangkan.
Sering dijuluki “the roaring game” karena suara yang dihasilkan batu di atas es, curling menjadi populer di Eropa utara, khususnya Skotlandia, berkat musim dingin yang sangat keras lebih dari 400 tahun silam. Pelukis Flemish, Pieter Bruegel the Elder, menampilkan petani menyaksikan permainan mirip curling dalam dua lukisan pada 1565 dan 1566. Kata “curling”—berasal dari ‘curl’, atau jalur melengkung, batu selama permainan—pertama kali muncul pada 1620 dalam bait puisi karya Henry Adamson.
Didirikan pada 1716, Klub Curling Kilsyth, dari kota Skotlandia dengan nama sama, secara luas dianggap sebagai klub curling resmi pertama di dunia. (Masih aktif hingga kini.) Royal Caledonian Curling Club, yang didirikan pada 1838, adalah pihak yang pertama kali memformalkan aturan permainan, menurut Komite Olimpiade Internasional. Dari klub itulah kemudian tumbuh Federasi Curling Dunia, yang berbasis di kota Perth, Skotlandia, dan tetap aktif sampai saat ini.
Pada masa awal, batu yang digunakan dalam olahraga ini benar-benar batu alam: bongkahan besar yang telah diratakan dan dibentuk. Tidak ada persyaratan ukuran atau pegangan. Beberapa hanya memiliki lubang, mirip bola bowling. Batu yang masih kasar itu berarti pelempar sangat mengandalkan keberuntungan dibanding keahlian atau teknik.
Selama bertahun-tahun, olahraga ini memperkenalkan lebih banyak aturan dan regulasi, beberapa sangat kompleks, terkait berat dan bentuk batu. Hal serupa berlaku untuk ukuran lapangan dan struktur pertandingan. Kini, ‘skip’, atau pemimpin tim, yang meneriakkan instruksi kepada pelempar mengenai lengkungan, kekuatan, dan trajektori lemparan. Skip melakukan hal yang sama untuk ‘sweeper’ yang “menyapu” permukaan di depan batu agar meluncur.
Orang Skotlandia juga berperan dalam penyebaran curling ke seluruh dunia. Para imigran dari Skotlandia membawa gairah mereka akan olahraga ini ke Amerika Utara, terutama Kanada, di mana olahraga ini masih sangat populer hingga kini.
Curling melakukan debut Olimpiadenya pada 1924 di Olimpiade Musim Dingin di Chamonix, Prancis. Saat itu, statusnya hanyalah olahraga demonstrasi. Baru pada 1998, selama Olimpiade di Nagano, Jepang, curling menjadi cabang olahraga Olimpiade resmi. Hingga kini, Skotlandia, Swedia, Swiss, dan Norwegia telah membedakan diri sebagai pesaing curling yang tangguh di Olimpiade.
Sementara olahraga ini merintis jalannya menuju status resmi Olimpiade, ia juga merambah budaya pop. The Beatles mencoba memainkannya dalam film mereka tahun 1965, *Help!*. Permainan ini juga muncul dalam film James Bond tahun 1969, *On Her Majesty’s Secret Service*.
Pada awal tahun 2000-an, seiring siaran 24 jam dan DVR menjadi hal biasa dalam menyaksikan Olimpiade, olahraga ini mengembangkan pengikut yang hampir mirip kultus. Orang-orang yang kini dapat menonton acara pada waktu yang sesuai zona waktu mereka mendapati bahwa mereka bisa menyetel saluran dan larut dalam dinamika olahraga yang memesona selama berjam-jam. Untuk Olimpiade Musim Dingin 2026, siarannya akan terus berlanjut—setiap batu dan setiap sapuan.