Pada Oktober lalu, Netflix merilis seri wawancara baru, *Famous Last Words*. Diadaptasi dari seri Denmark *The Last Word*, acara ini menampilkan wawancara dengan tokoh-tokoh ternama yang hanya dirilis setelah mereka meninggal dunia.
Episode perdananya menampilkan wawancara dengan primatologis dan antropologis tersayang, Jane Goodall, yang direkam beberapa bulan sebelum wafatnya dan tersedia secara anumerta. Hari ini, episode 2 telah tayang, menampilkan aktor Eric Dane, yang meninggal pekan ini setelah berjuang melawan ALS, dikenal juga sebagai penyakit Lou Gehrig.
*Famous Last Words* dibawakan oleh Brad Falchuk, kerap berkolaborasi dengan Ryan Murphy (dan, mungkin lebih terkenal sebagai suami Gwyneth Paltrow). Falchuk juga bertindak sebagai koproduser bersama Mikkel Bondesen, pembawa acara asli dari versi Denmark.
Ketika pertama tayang, seri ini terasa seperti sebuah ruang di mana mereka yang berpengalaman puluhan tahun dapat mewariskan kebijaksanaan hidup yang diperoleh susah payah. Itulah yang membuat episode Dane semakin mengharukan. Aktor yang terkenal lewat peran “McSteamy” di *Grey’s Anatomy* ini mengumumkan diagnosis ALS-nya pada April 2025 dan meninggal di usia 53 tahun. Semuanya terjadi begitu cepat pada seseorang yang sepertinya berada di puncak kehidupannya.
Episode pertama dengan Goodall, yang wafat di usia 91 tahun, terasa seperti perayaan akan warisannya. Episode Dane terasa berbeda. Berbicara dari kursi rodanya, ia mengungkapkan bahwa wawancara ini adalah hadiah untuk putri-putrinya, sebuah cara untuk memastikan mereka benar-benar mengenal siapa ayah mereka. Terkadang, ini bukan tontonan yang mudah, mengingat pengakuannya yang polos dan sesekali penuh air mata.
Episode 2 mengupas trauma emosional masa lalu akibat Dane kehilangan ayah dan neneknya di usia muda, serta perjuangannya membentuk ikatan yang berarti dengan ibunya. Jika episode Goodall terasa membangkitkan semangat, episode Dane lebih tentang kemampuannya mencapai ketenangan pikiran meski dihimpit berbagai kesulitan. Pada akhirnya, ini adalah pesan tentang pentingnya hidup dalam masa kini.
Bisa dikatakan wawancara Goodall penuh sorotan dan blak-blakan. Ia tidak sungkan mengkritik beberapa pemimpin dunia dan memberikan sindiran tentang kisah cinta tak berbalas di masa lalu. Episode Dane lebih muram saat ia merenungkan bagaimana tantangan hidup membentuknya dan perihal meninggalkan kedua putrinya, Billie dan Georgia.
Meski kita kini tahu identitas dua interviewee pertama, The New York Times melaporkan pada Oktober bahwa setidaknya tiga wawancara telah direkam dan disimpan. Netflix tidak, dan tidak akan, mengungkap identitas mereka sebelumnya.
Hal ini bisa memicu permainan tebak-tebakan mental yang muram, mirip menebak siapa yang akan muncul di segmen *In Memoriam* Oscars tahun depan. Prosesnya sangat rahasia hingga hanya Falchuk dan subjek wawancara yang ada di ruangan, dengan kamera yang dioperasikan dari jarak jauh.
Falchuk menyatakan bahwa sensasi atau pengakuan di detik-detik terakhir bukanlah tujuan acara ini. “Ini bukan untuk membuat mereka mengungkap rahasia hidup yang layak jadi berita utama … Ini adalah bentuk pelayanan kepada orang-orang ini untuk menyampaikan kata-kata terakhirnya.”
*Famous Last Words* adalah model yang unik. Episode hanya tayang setelah orang tersebut meninggal, sehingga tak seorang pun dapat memprediksi dengan pasti kapan episode berikutnya akan dirilis.
Tapi seperti yang dinyatakan dalam judul pembuka acara, “Ketika seseorang yang penting meninggal, yang kau rindukan hanyalah sedikit waktu lagi bersamanya.” Dan itulah tepatnya yang diberikan acara ini. Untuk sekarang, kita simpan saja tebakan tentang siapa yang akan muncul di episode berikutnya.