CEO Xbox, Asha Sharma, naik ke atas panggung—mau tidak mau—untuk menyampaikan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin didengar para gamer: harga perangkat keras gim sudah terlalu mahal. Akibat lonjakan harga memori, para pemain mungkin tak mampu lagi membeli konsol anyar yang akan datang. Karena itu, Xbox harus mengambil langkah drastis, dan hal itu kemungkinan besar berarti menghidupkan kembali Xbox Cloud Gaming dengan—tebakan Anda benar—iklan.
Keseluruhan bisnis Xbox tengah menuju ke arah “reset,” sebagaimana dikemukakan dalam sebuah memo terbuka yang dikirim ke karyawan Xbox, ditulis bersama oleh Sharma dan kepala divisi penerbitan Xbox, Matt Booty. Keadaannya genting. Para eksekutif gim Microsoft memberi tahu staf bahwa komponen penyimpanan konsol kini dua kali lebih mahal dibandingkan musim gugur tahun lalu. Pimpinan Xbox memperkirakan harga memori akan melonjak hingga lima kali lipat dari yang sebelumnya mereka bayarkan setahun lalu. Ini jelas akan menjadi masalah bagi konsol generasi mendatang “Project Helix” milik Xbox.
“Meskipun seluruh industri menghadapi krisis komponen, kami percaya bahwa dampak yang kami terima lebih besar dibandingkan banyak pesaing kami, akibat keputusan yang kami ambil dalam lima tahun terakhir,” kata Sharma dan Booty dalam surat mereka kepada staf, mempersiapkan landasan bagi kemungkinan pemutusan hubungan kerja dan restrukturisasi bisnis yang lebih besar bulan depan. “Saat ini kami tidak sanggup memproduksi konsol sebanyak yang ingin dibeli pemain, dan kami membutuhkan model bisnis baru serta kemitraan untuk perangkat keras, sejalan dengan komitmen kami terhadap Helix.”
Apa pun dampaknya terhadap konsol, tahap berikutnya juga menuntut Xbox untuk memikirkan ulang cara perusahaan memandang seluruh lini produknya—termasuk konsol Xbox, PC, dan langganan Game Pass. Kepala stratègi Xbox yang baru diangkat, Matthew Ball, mengatakan kepada The Game Business bahwa strategi Xbox sebelumnya yang hanya terfokus pada Game Pass telah membuat perusahaan tertinggal dari para pesaingnya, yang berujung pada masalah pasokan. Ball, mengutip sumber industri, mengklaim ketersediaan memori bisa terhambat 30% hingga 40% pada tahun depan. Karena ketidaktersediaan memori inilah, kepala perencana strategi Xbox mengatakan bahwa perusahaan sedang “memikirkan ulang” Project Helix “untuk memastikan harganya terjangkau.”
Pertanyaan utamanya adalah, apakah yang dimaksud terjangkau di saat seperti ini? Analis utama industri gim dari Circana, Mat Piscatella, menulis di Bluesky bahwa mayoritas rumah tangga yang membeli konsol pada kuartal keempat tahun 2025, yaitu sekitar 53%, berpenghasilan US$100.000 atau lebih per tahun. Untuk sedikit memberi gambaran, data sensus AS menyebutkan pendapatan rata-rata rumah tangga di AS berkisar sekitar US$80.000. Chris Dring dari The Game Business mengemukakan angka-angka itu, meskipun Ball tidak secara langsung mengatakan berapa perkiraan Xbox bagi sebagian besar keluarga untuk mengeluarkan uang pada satu konsol.
Xbox telah menaikkan harga konsol dua kali pada 2025, itu pun sebelum biaya memori mulai melonjak pada akhir tahun lalu. Xbox Series X kini berharga sekitar US$650 untuk versi dengan pemutar cakram—US$150 lebih mahal dari harga saat peluncurannya pada 2020. Hal itu terjadi sebelum harga memori meroket. Pada Oktober tahun lalu, Xbox bekerja sama dengan produsen PC Asus untuk memasarkan perangkat genggam gim ROG Xbox Ally X dengan harga US$1.000. Selain itu, terdapat model baru ROG Xbox Ally X20 yang akan diluncurkan pada 2026 dengan layar OLED yang lebih menawan—yang oleh Asus sudah dipastikan harganya akan lebih tinggi lagi. Berapa lebihnya? Itu sangat tergantung pada harga RAM dalam enam bulan ke depan.
Menurut Ball, Xbox bisa menggunakan iklan “untuk menawarkan berbagai alternatif yang lebih terjangkau,” kemungkinan dalam bentuk langganan Game Pass atau Xbox Cloud Gaming dengan level harga baru. Ball membandingkannya dengan yang sudah Anda lihat pada layanan streaming seperti Netflix dengan tingkatan beriklan (dan, harus kami akui, benar-benar sangat mengganggu) dibandingkan dengan tingkatan tanpa iklan yang semakin mahal nian.
“Pertanyaannya, apakah ada peluang bagi kita untuk menghadirkan produk yang palig murah, produk yang berbeda, dan model pengiriman yang berbeda, agar bisa menjaring orang-orang yang tak mampu, atau yang tak pernah mencoba, atau mereka yang enggan untuk mengenal properti dan waralaba kita?” ujar Ball.
Tidak bisa kita harapkan untuk kembali ke masa lalu, saat sebuah konsol modern harganya di bawah Rp7-8 juta. Strategi Xbox kemungkinan adalah memperbanyak layanan cloud gaming sebagai jalan tol untuk menawarkan konsol mereka. Namun jangan berharap konsol itu bukan sekadar barang mewah.**