hampir sepuluh tahun lalu, Billie Eilish, yang saat itu berusia 13 tahun, mengunggah “Ocean Eyes” ke SoundCloud dan melesat menuju ketenaran global bak meteor.
ini adalah lonjakan karir yang diimpikan setiap penyanyi pendatang baru; terdorong oleh platform yang pada masanya belum dikenal sebagai tempat lahirnya bintang pop. tetapi jika kamu tanyakan sekarang, bahkan Eilish yang kini berusia 24 tahun pun tak yakin apakah ada orang lain yang bisa menyamai kesuksesannya. “ya ampun!” ucapnya ketika ditanyai di mana Billie Eilish berikutnya mungkin ditemukan. “aku benar-benar tidak tahu.”
Foto: Darrell Jackson
saat ini, sudah lazim bagi artis baru untuk membagikan musik mereka di SoundCloud, tetapi dulu itu masih terbilang baru. “aku sangat penasaran untuk melihat bagaimana masa depan nanti,” kata Eilish. “aku entah dari mana asalnya Billie Eilish berikutnya. aku tak sabar untuk melihat mereka dan tak sabar untuk menjadi cheerleader bagi mereka, siapa pun itu”.
jika mereka benar-benar datang. sepuluh tahun lalu, artis bisa membangun basis penggemar, seperti yang dilakukan Eilish, melalui siaran langsung (livestreams,red.), unggahan Instagram, dan video di media sosial. pada tahun 2026, medannya tampak sangat berbeda. seakan semua orang tahu, atau mengklaim tahu, cara mengakali algoritma untuk menggapai streaming dan penayangan, namun hanya sedikit dari itu yang terasa otentik, terutama di dunia yang dipenuhi oleh sampah AI. Eilish dan para penggemarnya tumbuh dewasa di dunia maya, tapi mungkin mereka tak lagi betah berlama-lama di sana seperti dulu.
untuk lebih jelasnya, Eilish masih percaya bakat sejati bisa menerobos hingar-bingar noise. seni, katanya, semestinya “terjangkau untuk semua orang” dan internet, meski berantakan, mewujudkannya. “ada begitu banyak teknologi dewasa ini dimana kita rasanya seperti sudah binasa, padahal tidak,” ujar Eilish pada WIRED. “jika kita terus menghasilkan hal orisinil, seni nyata buatan manusia—musik live, penonton langsung—saya rasa, hal itu tidak akan pernah punah.”