YouTuber Jeremy Fielding pada umumnya membuat video seputar rekayasa teknik, yang jelas-jelas layak untuk ditonton sendiri jika judul seperti “The Ultimate Guide to Linear Actuators” terdengar menarik bagi Anda. (Bukan bermaksud merendah, video tersebut memang bagus.) Namun, video terbaru Fielding cukup berbeda: sebuah wawancara mendetail dengan temannya, Anand Varma, seorang fotografer sains yang foto anak ayamnya yang baru menetas menjadi salah satu foto terbaik tahun 2025 menurut National Geographic.
Meski foto peraih penghargaan itu menakjubkan, itu bukan bahkan karya terkait ayam paling menarik yang Varma hasilkan. Gelar itu milik rekaman *time-lapse* perkembangan embrio ayam di dalam telur. Fielding penasaran bagaimana caranya Varma mendapatkan rekaman ini—dan juga, bagaimana pendekatannya terhadap proyek-proyek memorabel lainnya, seperti merekam perkembangan lebah dari larva menjadi drone; rekaman super *high-speed* burung kolibri membersihkan diri; serta jamur menyeramkan yang mengubah semut menjadi zombie dan menginspirasi *The Last of Us*.
Rasa ingin tahu Fielding terbukti menguntungkan bagi kita semua, karena kunjungannya ke Berkeley untuk menemui Varma menghasilkan tayangan yang sangat memukau. Kita menyaksikan Varma memberi tur dadakan di studionya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah terungkap, seperti “Bagaimana cara menginseminasi buatan ratu lebah?” (Dengan tangan yang sangat mantap, kalau Anda penasaran.) Sebagai seorang insinyur, pertanyaan Fielding banyak berfokus pada aspek teknis proses kerja Varma, meski ada satu percakapan lucu tentang misteri seni yang berlangsung seperti ini:
Fielding: “Kamu bisa menjalankan semuanya dengan tepat, tapi tetap melihat foto akhir dan merasa, ‘Bukan ini.’”
Varma: “Ya. Ada unsur rasa yang tidak bisa begitu saja dipecahkan.”
Fielding: “Ini bukan hal yang bisa begitu saja dimasukkan ke dalam persamaan.”
Varma (tersenyum kecut): “Itulah cawan suci, kamu tahu. Memiliki Persamaan untuk Kekaguman.”
Seni: Kok bisanya sih?
Bagaimanapun, meski tidak memiliki akses ke Persamaan untuk Kekaguman, karya Varma memang memunculkan momen-momen autentik akan, ya, kekaguman. Proyek telur itu, khususnya, sungguh memesona, hingga bisa saja membuat non-veggan berpikir ulang untuk sarapan besok. Hal itu juga membuktikan bahwa karya tersebut sama-sama merupakan sebuah pencapaian teknik dan karya seni.
Kita melihat Varma dengan hati-hati membelah cangkang telur menggunakan *die grinder* dan menggunakan potongannya sebagai cetakan untuk membuat replika cetak 3D. Lalu, ia secara harfiah memecahkan telur ke dalam cangkang ini, menutupnya dengan kaca, dan menempatkan “telur” ini ke dalam inkubator yang dipasangi kamera menghadap ke bawah. Rekaman yang dihasilkan dikirim ke komputer yang menyusun video *time-lapse*.
Beberapa karya lain Varma tak kalah memesona: seekor kolibri mengibaskan air dari tubuhnya seperti anjing mungkin tidak terdengar seperti formula untuk foto yang menawan, namun hasilnya—diambil dengan kecepatan rana sangat tinggi untuk menangkap burung mungil itu sedang terbang—membuktikan Varma tahu apa yang ia bicarakan saat menanggapi sang editor yang berpendapat bahwa semua foto menarik kolibri sudah pernah diambil. Terkait hal itu, ada juga diskusi menarik tentang proses di balik layar—Varma menjelaskan bagaimana ia berkolaborasi (dan terkadang berdebat) dengan editornya untuk merumuskan dan memperhalus konsep proyek, suatu proses yang akan akrab bagi siapa pun yang pernah berkecimpung di dunia jurnalistik.
Seluruh videonya sangat layak ditonton—Fielding adalah pewawancara yang tenang dan penuh pertimbangan, membiarkan Varma menjelaskan sejarah dan karyanya, serta membagikan perspektifnya sendiri tentang tantangan teknis yang terlibat.