Penelitian menunjukkan bahwa apnea bisa muncul secara berbeda saat tidur REM:
"Banyak konsolidasi memori dan regulasi emosi terjadi saat fase REM," jelas Mander. "Kalau kamu terbangun di fase REM karena gangguan pernapasan, proses itu jadi terpecah. Jika ini terjadi berulang selama bertahun-tahun, dampaknya akan menumpuk."
Diagnosis dini sangat penting—tapi saat ini masih kurang optimal. Seringkali diagnosis bergantung pada pasangan yang mendengar dengkuran keras, yang sebenarnya kurang akurat.
"Nyatanya, wanita—terutama yang hamil—kerap diabaikan dalam masalah gangguan tidur," kata Brown. "Standar diagnosis apnea saat ini berdasarkan demografi sempit, biasanya pria paruh baya. Padahal gejalanya bisa beda pada wanita."
"Apa yang diklasifikasi sebagai apnea ‘ringan’ pada pria bisa jadi sedang atau bahkan berat pada wanita, apalagi saat hamil," tambahnya. "Penelitian pada ibu hamil membuktikan bahwa gangguan pernapasan ringan sekalipun bisa meningkatkan risiko hipertensi, preeklampsia, dan diabetes gestasional."
Perusahaan teknologi wearable berlomba mengisi celah diagnosis. Jam tangan Samsung Galaxy Watch baru-baru ini jadi perangkat pertama yang dapat deteksi tanda-tanda OSA setelah dapat izin FDA. Tapi para ahli masih waspada.
"Wearable dan tes tidur rumah semakin baik, tapi belum bisa gantikan diagnosis klinis penuh," kata Malhotra. "Bisa menipu—orang lihat skor bagus lalu mengira mereka aman, padahal tidak."
Mander juga skeptis: "Akurasinya belum cukup untuk gantikan diagnosis medis. Lebih baik daripada tidak ada—asal tidak dianggap sebagai jawaban final." Meski bisa lacak detak jantung, wearable masih kurang handal deteksi pola pernapasan.
Standar emas diagnosis adalah polisomnografi—tes tidur yang pantau gelombang otak, oksigen, detak jantung, dan aktivitas otot. Tapi ini mahal dan memakan waktu.
Sekarang ada perangkat rumahan yang lebih baik. Mander menyoroti WatchPAT, yang pakai sensor jari, pergelangan, dan dada untuk lacak apnea lewat perubahan pembuluh darah. Ada juga ARES, headband yang ukur aliran udara dan oksigen, serta NightOwl, alat ujung jari yang dapat izin FDA.
"Lompatan besar, terutama untuk yang sulit akses lab tidur," kata Mander. Tapi tetap ada keterbatasan. "Tes rumah saat ini tak bisa bedakan fase tidur. Bisa saja luput deteksi apnea dominan REM."
Setelah terdiagnosis, CPAP tetap jadi standar pengobatan terbaik—walau bagi sebagian orang tidak nyaman. Alat ini memompa udara lewat masker untuk jaga saluran napas tetap terbuka.
"CPAP memperbaiki gejala, tekanan darah, dan mungkin kurangi risiko jantung," kata Malhotra.
Bagi yang tidak cocok CPAP, ada alternatif baru seperti alat hidung. Bahkan intervensi unik seperti belajar memainkan didgeridoo terbukti efektif—karena latih otot tenggorokan.
Yang terpenting adalah kesadaran. "Dulu mendengkur dianggap cuma mengganggu atau lucu," kata Malhotra. "Sekarang kita tahu itu bisa jadi tanda masalah serius. Kalau sering mendengkur atau lelah terus, jangan diabaikan—periksakan diri ke dokter."*