Alasan di Balik Sederhananya Adegan Pembuka ‘A Knight of the Seven Kingdoms’

Seri A Knight of the Seven Kingdoms telah menyimpang dari tradisi Game of Thrones dalam beberapa aspek penting.

Berbeda dengan pendahulunya, Game of Thrones dan House of the Dragon, A Knight of the Seven Kingdoms tidak menampilkan naga atau intrik untuk memperebutkan Iron Throne. Seperti yang terungkap di episode 2, serial ini juga kehilangan elemen khas lain dari serial Game of Thrones: urutan judul pembuka yang rumit.

BACA JUGA:
Silsilah Keluarga Targaryen di ‘A Knight of the Seven Kingdoms’: Hubungan Antar Karakter

Di mana Game of Thrones memiliki peta bergerak dan House of the Dragon memiliki pohon keluarga Targaryen serta permadani sejarah, A Knight of the Seven Kingdoms hanya menampilkan kartu judul sederhana. Hanya teks putih di latar belakang hitam, tanpa iringan tema epik Game of Thrones karya Ramin Djawadi. (Meski terkadang menyelipkan tema Djawadi, musik serial ini dikomposeri oleh Dan Romer.)

Perbedaan urutan pembuka ini sangat kontras, apalagi mengingat judul House of the Dragon jelas terinspirasi dari Game of Thrones. Lalu, mengapa A Knight of the Seven Kingdoms melakukan perubahan besar ini?

BACA JUGA:
Ulasan ‘A Knight of the Seven Kingdoms’: Prequel ‘Game of Thrones’ yang Menghibur secara Tak Terduga

Bagi showrunner Ira Parker, keputusan ini berakar dari karakter sentral serial ini, Ser Duncan "Dunk" the Tall (Peter Claffey).

"Semua keputusan bermuara pada Dunk, berusaha menyalurkan sifatnya ke setiap aspek pertunjukan, bahkan urutan judulnya," kata Parker kepada Entertainment Weekly.

Ia melanjutkan, "Urutan judul di serial asli dan House of the Dragon itu besar, epik, dan luar biasa. Skor Ramin Djawadi orkestral, megah, dan indah. Itu bukan sifat Dunk. Dia polos, sederhana, dan langsung ke pokok persoalan. Dia tidak suka pamer."

MEMBACA  Menteri Dalam Negeri Ungkap Fakta Mengejutkan di Balik Kenaikan PBB 250% oleh Bupati Pati (Catatan: Format visual disesuaikan dengan pemisahan elemen judul untuk penekanan dan keterbacaan yang lebih baik.)

Sifat Dunk yang sederhana ini inti dari novella Dunk and Egg karya George R.R. Martin, yang menjadi dasar serial ini. Ini bukan kisah epik perang di seluruh Westeros, melainkan cerita akar rumput tentang rakyat jelata Tujuh Kerajaan. Dengan pemikiran itu, skala yang lebih kecil memerlukan urutan judul yang lebih sederhana.

Kartu judul ini juga memiliki keuntungan membedakan A Knight of the Seven Kingdoms dari serial lain di dunia Westeros, membangun identitasnya sendiri dan membuktikan ada ruang untuk cerita berbagai skala di Tujuh Kerajaan.

A Knight of the Seven Kingdoms kini tersedia untuk ditonton di HBO Max, dengan episode baru tiap Minggu pukul 22.00 ET.

Tinggalkan komentar