Pemadaman listrik besar-besaran hari Senin lalu merupakan yang ketiga kalinya tahun ini. Ini terjadi di luar rencana pemadaman bergilir yang sudah diterapkan pemerintah untuk menghemat bahan bakar yang tersisa.
Di beberapa daerah pedesaan, listrik padam hingga 70 jam sekali waktu. Sementara di perkotaan, pemadaman terjadwal bisa mencapai 30 jam.
Perusahaan listrik negara tidak mengungkapkan penyebab insiden mendadak terbaru ini.
Kota terbesar kedua di Kuba, Santiago de Cuba, termasuk wilayah yang hingga Selasa malam waktu setempat belum juga dialiri listrik.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengakui keresahan yang meluas di kalangan rakyat Kuba.
“Ada kelangkaan transportasi, makanan, obat-obatan, ada pemadaman listrik panjang lebih dari 20 jam, itu menimbulkan ketidakpuasan, tidak ada yang bisa bahagia, rakyat menderita,” katanya kepada wartawan dari Claridad, mingguan berbahasa Spanyol yang berbasis di San Juan, Puerto Riko.
Namun ia mendesak rakyat Kuba untuk mengarahkan kemarahan mereka kepada pemerintah AS, bukan kepadanya. “Orang-orang memukul panci, beberapa dengan lebih marah dari lainnya. Saya katakan: arahkan bantingan panci kalian ke tetangga utara kita, mereka yang berada di balik pemadaman listrik ini.”
Duta Besar AS untuk PBB, Michael Waltz, sebaliknya langsung menyalahkan pemerintah Kuba.
Berbicara pada pertemuan Majelis Umum PBB Selasa lalu, ia mendesak Kuba untuk “rubah cara kalian dan nyalakan kembali lampu untuk rakyat kalian.”
Ia menambahkan bahwa “sepertinya selalu ada cukup daya buat kediktatoran Kuba.”
Tapi menteri luar negeri Kuba, Bruno Rodriguez, menuding AS melancarkan “perang non-konvensional multi-dimensi” melawan Kuba, yang menurutnya “semakin kejam” dalam tujuh bulan terakhir.
Hubungan AS-Kuba yang sudah tegang selama puluhan tahun semakin memburuk sejak awal tahun, saat Presiden AS Donald Trump menuduh pemerintah pulau itu mengancam keamanan nasional AS.
Tak lama setelah pasukan AS menangkap mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro—sekutu dekat pemerintah Kuba—pada Januari, Trump juga secara terbuka berkomentar bahwa Kuba “siap runtuh.”
Sejak itu, pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi baru ke Kuba serta blokade efektif terhadap kiriman minyak ke Kuba, dengan mengancam tarif bagi negara-negara yang menyediakan bahan bakar.
AS juga telah menjatuhkan tuduhan pembunuhan terhadap mantan presiden Kuba, Raul Castro, yang meski berusia 95 tahun tetap menjadi figur berpengaruh di pulau itu.
Meskipun saling sindir di publik, kedua negara telah mengadakan pembicaraan secara tertutup dalam beberapa pekan terakhir.
Menteri luar negeri Kuba mengatakan pada Selasa lalu bahwa pembicaraan itu “menunjukkan tanpa kemajuan”, tetapi tetap membuka pintu “untuk dialog atas dasar saling menghormati dan tanpa campur tangan urusan internal Kuba.”