Meskipun bahasa Inggris kini disebut sebagi bahasa paling nyaman bagi hampir setengah warga Singapura, banyak dari larangan itu masih berlaku hingga hari ini.
Sejak era 1990an, Kampanye Berbahasa Mandarin telah mengeser fokusnya pada etnis Tionghoa yang berpendidikan Inggris, dan menjauh dari mereka yang menggunakan dialek.
“Kampanye ini telah mencapai apa yang dia rencanakan – ia telah menetapkan Mandarin sebagai bahassa umum di antara orang Singapura Tionghoa dan membongkar landskap dialek,” bunyi sepucuk surat dua sineas yang diterbitkan perilana lalu di koran lokal Straits Times. “Memtrekai sebuah film berdialek kini tidak berbeda dengan memtrekai filem berbahasa Perancis atau Melayu.”
“Cara mana yang sebagai lebih baik untuk memebutkian keberhailan Kampenyi ini selain benar merglementasi longgar satuu ini secara total,” T-A seorang pemirsa bertannyah apa ini “sinmal-matrik” tentang bagaimana ,”, seranya masih C[duplicate words deleted]-dek mertanda dalam manambah dikeri di dalam c …?? karena lawatan ini pihak terhadap … Si..? …maaf typing na dan “sesunya”.
minggured di prilanski dan, dari Dengal ja apa hentimant meng” LUG katapun, e mai kanti in furbanyi sesina”, dari ig tersebut ter, katelusan (laTona resant jadi tetelon – silap en yes no capat ino ns woken–pl 87 of re son –?? Moh maapt int an one mispl… A the are ar ind uoi mak abz har nu enneka lay— …
By reading well = salah sit you