Universitas Terkemuka Iran Dibombardir Saat Serangan AS-Israel Menghebat; 34 Tewas

Teheran menyatakan akan membalas ‘secara setimpal’ atas serangan terhadap infrastrukturnya, menyebut ancaman Trump sebagai ‘hasutan untuk kejahatan perang’.

Minimal 34 orang tewas, termasuk enam anak-anak, menyusul serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel di berbagai wilayah Iran yang menyasar universitas terkemuka hingga kawasan permukiman. Serangan ini dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump menetapkan batas waktu hingga Selasa bagi Teheran untuk membuka sepenuhnya Selat Hormuz atau menghadapi serangan ke pembangkit listrik dan jembatannya.

Badan berita Fars melaporkan pada Senin bahwa sebuah serangan udara menewaskan 23 orang, termasuk empat anak perempuan dan dua laki-laki di bawah usia 10 tahun, di Kabupaten Baharestan, Provinsi Teheran.

Rekomendasi Cerita

list of 3 items
end of list

Setidaknya lima orang tewas dalam serangan ke sebuah gedung tempat tinggal di kota Qom, menurut Wakil Gubernur bidang Politik dan Keamanan, Morteza Heydari. Enam lainnya tewas di Bandar-e Lengeh, Iran selatan, menurut pihak berwenang.

Rentan dua belas kota di Iran diserang, termasuk Bandar Abbas, Ahvaz, Mahshahr, Shiraz, Isfahan, dan Karaj.

Serangan AS-Israel juga menghantam Universitas Sharif di Teheran, salah satu universitas sains terkemuka Iran yang sering dibandingkan dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) AS. Jurnalis Al Jazeera, Tohid Asadi, melaporkan dari Teheran bahwa fasilitas tersebut terkena dampak parah, dengan kerusakan luas dilaporkan di masjid dan laboratorium kompleks kampus.

“Kawasan Sharif juga menyaksikan serangan lainnya, termasuk satu serangan ke fasilitas gas,” kata Asadi, menambahkan bahwa fasilitas sipil lain, termasuk jalan, pembangkit listrik, dan jembatan juga menjadi sasaran di seluruh Iran.

“Kementerian Sains dan Teknologi Iran memberitahu kami bahwa setidaknya 30 universitas telah diserang” sejak perang dimulai pada 28 Februari, ujarnya.

MEMBACA  Pasukan Israel membunuh enam warga Palestina dalam serangan di Tepi Barat | Berita Konflik Israel-Palestina

Iran Sumpah akan Membalas Serangan

Serangan-serangan ini menyusul ancaman penuh makian Trump di Truth Social, yang menuntut Iran membuka Selat Hormuz atau menghadapi “neraka”. Iran telah memperingatkan serangan balasan, dengan menyatakan akan membalas “secara setimpal” atas serangan terhadap infrastrukturnya. Pejabat tinggi Iran mengutuk pernyataan presiden AS tersebut sebagai “hasutan untuk kejahatan perang”. Selat yang dilalui sekitar 20 persen minyak dan gas dunia itu telah berada di bawah blokade efektif oleh Iran sebagai tanggapan atas perang.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei menyatakan rakyat Iran tidak gentar dengan ancaman Trump dan tidak akan dipaksa menerima kesepakatan yang merugikan. Ia mengatakan pernyataan Trump merupakan “indikasi pola pikir kriminal” dan sama dengan “hasutan untuk kejahatan perang serta kejahatan terhadap kemanusiaan”.

Baghaei juga memperingatkan bahwa Iran akan membalas setiap serangan terhadap infrastrukturnya dengan melancarkan serangan serupa di kawasan itu.

Ali Akbar Velayati, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, menyatakan satu kesalahan langkah oleh salah satu negara dapat sangat mengganggu aliran energi global dan perdagangan internasional.

Velayati menambahkan bahwa meskipun AS telah mempelajari beberapa pelajaran dari sejarah Iran, mereka “belum memahami geografi kekuasaan”.

Sementara itu, Israel juga menghadapi beberapa serangan misil, dengan sirene berbunyi di sejumlah wilayah negara itu. Menurut stasiun radio resmi Israel, empat gelombang misil Iran diluncurkan pada dini hari Selasa.

Petugas penyelamat mengangkat dua mayat dari reruntuhan sebuah gedung yang diserang di Haifa, sementara dua warga masih dinyatakan hilang.

Layanan ambulans dan pertahanan sipil melaporkan sejumlah korban luka-luka, beberapa dalam kondisi serius, di lebih dari 20 lokasi, termasuk Tel Aviv, Petah Tikva, dan Ramat Gan.

MEMBACA  Sutradara Twin Peaks yang merangkul yang aneh

Media Ynet News menyebut seorang wanita berusia 34 tahun “luka serius” akibat misil penangkis di Petah Tikva.

Penyiar Channel 2 menerbitkan gambar asap membubung di atas Gush Dan dan Bnei Brak, serta video kerusakan minor pada sebuah gedung di Tel Aviv.

Tinggalkan komentar