Terlalu berlebihan untuk mengharapkan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mampu merundingkan sebuah perjanjian damai dengan perwakilan Republik Islam Iran setelah pertemuan langsung pertama kedua pihak dalam lebih dari satu dekade.
Akan tetapi, tidak berlebihan untuk menuntut pihak-pihak yang bertikai mempertahankan gencatan senjata dan para negosiator untuk kembali ke meja perundingan guna putaran kedua pembicaraan.
Untuk saat ini, gencatan senjata masih berlaku. Pertanyaannya tetap: Dapatkah Amerika memenangkannya?
Bagi Presiden Donald Trump, pertanyaan ini bersifat eksistensial. Jika pemilih berpandangan bahwa AS kalah dalam perang melawan Iran, Partai Republik akan kehilangan kursi di Kongres dan presiden akan berada dalam posisi sulit secara politik selama dua tahun terakhir masa jabatannya.
Sebaliknya, jika para pemilih beranggapan bahwa konflik dengan Iran ini sepadan dan kehidupan kembali normal menjelang musim panas, maka peluang Partai Republik untuk impas dalam pemilu paruh waktu November nanti akan lebih besar.
Apa yang diperlukan AS untuk memenangi gencatan senjata dan pada akhirnya meraih perjanjian damai?
Pertama, Selat Hormuz harus terbuka untuk semua pelayaran. Ini harus menjadi objektif utama pemerintahan Trump karena inilah faktor yang paling berdampak pada ekonomi global dan, yang terpenting bagi khalayak domestik, harga minyak. Para perencana kebijakan di Gedung Putih sebelumnya tidak sepenuhnya menyadari bagaimana Iran dapat menguasai titik vital dalam perdagangan internasional ini, tetapi kini mereka menyadarinya.
Kedua, AS harus meningkatkan tekanan domestik terhadap rezim Iran. Menghentikan pemboman adalah cara yang baik untuk melakukannya. Korps Pengawal Revolusi Islam telah sangat dilemahkan oleh serangan gabungan AS-Israel. Komunitas intelijen kita perlu melakukan segalanya untuk memperkuat gerakan protes di Iran, dengan membekali mereka senjata dan sumber daya. Membom jembatan dan kilang minyak akan menjadi blunder besar bagi Amerika karena akan menyulitkan pemberontak di dalam negeri untuk melakukan perlawanan.
Ketiga, AS harus memperbaiki hubungan dengan sekutu tradisionalnya. Ini bukan hanya tentang Iran. Rusia dan China melihat ketegangan dalam NATO, dan mereka bersukacita. Dunia Barat yang lebih bersatu, khususnya dalam menjaga agar Selat Hormuz tetap terbuka, adalah hal yang esensial.
Keempat, pemerintahan Trump perlu meningkatkan permainan penyampaian pesannya. Saat ini, AS benar-benar terpecah terkait perang ini. Bahkan sebagian dari basis politik Trump sendiri sangat skeptis terhadap kampanye ini. Saya memahami motivasi di balik retorika maksimalis presiden, tetapi berusaha meyakinkan lawan bahwa Anda adalah orang gila yang mungkin saja menekan tombol nuklir memiliki kerugian tersendiri.
Sekutu kita ketakutan, rakyat Amerika khawatir, Paus terkejut. Bahkan beberapa pendukung politik terbesar presiden menyerukan agar ia dicopot melalui Amandemen ke-25 Konstitusi AS, yang mengatur penggantian presiden petahana karena ketidakmampuan. Penyampain pesan dari Menteri Perang Pete Hegseth juga tidak jauh lebih baik. Menyebut ini sebagai perang salib Kristen lainnya tidak membantu tujuan jangka panjang kita di kawasan.
Kelima, presiden perlu melukiskan gambaran tentang bagaimana damai akan berarti bagi rakyat Iran dan kawasan pada umumnya, kemudian menjualnya kepada mereka. Apa yang terjadi dengan Venezuela adalah contoh sempurna dari apa yang bisa terjadi dengan Iran. Kita memenggal kepemimpinan pemerintah di sana, tetapi badan politik sisanya sebagian besar masih utuh. Kita tidak membutuhkan perubahan total rezim. Kita membutuhkan perubahan total sikap dari rezim yang berkuasa saat ini.
Keenam, presiden perlu dengan tegas menyatakan apa yang kita harapkan dari perjanjian damai yang langgeng dan apa yang kita butuhkan dari rezim Iran. Hal pertama yang kita butuhkan adalah perdamaian yang sesungguhnya. Cukup dengan pendanaan terorisme, proxy teroris, dan perang tanpa akhir melawan Israel. Damai berarti damai. Program nuklir tidak boleh dijadikan senjata nuklir.
Ketujuh, presiden perlu memastikan bahwa objektif Israel sejalan dengan objektif kita. Ini memerlukan pembicaraan blak-blakan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Jelas, perdana menteri Israel menjual janji palsu kepada Trump ketika mengatakan bahwa ini akan menjadi perang cepat yang akan menjatuhkan rezim Iran dengan biaya relatif rendah. Itu tidak terjadi.
Saya memahami bagaimana orang Israel muak dan lelah dengan misil yang dikirim ke arah mereka dari Hezbollah. Tetapi perang abadi seakan menjadi komponen kunci dari kampanye politik Netanyahu, dan hal itu tidak lagi bisa diterima oleh rakyat Amerika.
AS dan Israel perlu berada di halaman yang sama mengenai tujuan mereka sekarang bahwa kita sedang dalam masa jeda pertempuran. Ini sangat kritis untuk memenangi gencatan senjata ini.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak selalu mencerminkan sikap editorial Al Jazeera.