Dengarkan artikel ini | 5 menit
Info
Sri Lanka telah mengevakuasi lebih dari 200 anggota kru dari sebuah kapal perang Iran kedua di lepas pantainya, sehari setelah kapal selam AS menenggelamkan sebuah fregat Iran di perairan yang sama, yang menewaskan 87 pelaut.
Presiden Anura Kumara Dissanayake mengumumkan pada Kamis bahwa angkatan lautnya akan mengambil alih kapal kedua itu dan memindahkannya ke pelabuhan Trincomalee di timur laut untuk diamankan, di tengah kekhawatiran kapal tersebut bisa menjadi sasaran. Ia menyatakan pemerintahnya mengadakan pembicaraan dengan pejabat Iran dan kapten kapal.
Cerita yang Direkomendasikan
Daftar 3 item
Akhir daftar
Pejabat Sri Lanka menyebutkan 87 jenazah berhasil ditemukan dan 32 orang diselamatkan dari sekitar 180 orang yang diperkirakan berada di atas IRIS Dena yang tenggelam pada Rabu.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Rabu mengonfirmasi bahwa sebuah kapal selam AS menenggelamkan kapal tersebut di tengah serangan AS-Israel terhadap Iran.
Juru bicara kabinet Nalinda Jayatissa memberitahu parlemen bahwa kapal itu berada di dekat Kolombo, di dalam zona ekonomi eksklusif Sri Lanka namun di luar perairan teritorialnya, menambahkan bahwa pihak berwenang melakukan “segala upaya untuk menyelamatkan nyawa”.
Perkembangan ini terjadi ketika Washington mengonfirmasi telah menghancurkan IRIS Dena dengan torpedo, sebuah fregat Iran yang sedang dalam perjalanan pulang dari latihan angkatan laut masa damai yang diadakan India, menandai kali pertama sebuah kapal selam AS menenggelamkan kapal perang musuh dengan torpedo sejak Perang Dunia Kedua.
Penjaga pantai Sri Lanka menerima panggilan darurat dari IRIS Dena pada pukul 05.08 waktu setempat hari Rabu, dengan kru yang selamat menggambarkan suatu ledakan. Kapal-kapal penyelamat tiba untuk menemukan fregat itu telah hilang, ujar juru bicara angkatan laut Buddhika Sampath, dengan hanya lapisan minyak dan rakit penyelamat yang mengapung tersisa di lokasi.
Tiga puluh dua orang yang selamat, semuanya luka berat, dibawa ke Rumah Sakit Nasional Galle. Delapan puluh tujuh jenazah berhasil diangkat dari laut, kata Menteri Luar Negeri Sri Lanka Vijitha Herath. Lebih dari 10 pelaut masih dinyatakan hilang.
Fregat tersebut, yang membawa sekitar 180 kru, sedang berlayar pulang setelah berpartisipasi dalam latihan angkatan laut multinasional besar di Teluk Benggala yang melibatkan kapal dari 74 negara ketika diserang sekitar 44 mil laut (81 km) di lepas pantai selatan Sri Lanka.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengonfirmasi serangan itu dalam taklimat di Pentagon, merilis rekaman hitam-putih sebuah torpedo Mark 48 yang menghantam buritan fregat. “Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” katanya. “Kematian yang sunyi.”
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebutnya sebagai “kekejaman di laut, 2.000 mil [3.219 km] dari pantai Iran,” mencatat bahwa kapal itu merupakan tamu dari angkatan laut India ketika diserang tanpa peringatan.
“AS akan sangat menyesali preseden yang telah mereka tetapkan,” tulisnya di media sosial. Ia kemudian membalas klaim Trump bahwa operasi tersebut berjalan lebih cepat dari jadwal, “Rencana A untuk kemenangan militer cepat dan bersih gagal, Tuan Presiden.”
IRIS Dena adalah satu dari lebih dari 20 kapal angkatan laut Iran yang telah dihancurkan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran pada 28 Februari, menyasar kepemimpinan negara, gudang rudal, dan infrastruktur nuklir dalam sebuah operasi yang bertujuan menggulingkan pemerintah saat ini.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas pada hari kedua serangan, memicu protes di dalam dan luar negeri.
Per Selasa, tidak ada satu pun kapal perang Iran yang masih beroperasi di Teluk Persia, Selat Hormuz, ataupun Teluk Oman, ujar Panglima Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper.
Pertanyaan juga muncul mengenai kelegalan serangan di perairan internasional tersebut.
Serangan Israel-AS telah menewaskan lebih dari 1.000 orang di Iran dan mengungsi lebih dari 100.000 warga dari Tehran, menurut PBB.
Dalam gambaran mencolok tentang seberapa jauh tujuan perang Washington telah merambah, Trump memberitahu Reuters pada Kamis bahwa AS bermaksud memainkan peran dalam memilih pemimpin tertinggi Iran berikutnya.
“Kami ingin terlibat dalam proses memilih orang yang akan memimpin Iran di masa depan,” ujarnya.
Sri Lanka, yang telah menyatakan netralitas dan menyerukan “pengendalian diri dan deeskalasi segera,” kini mendapati dirinya menampung reruntuhan kemanusiaan dari perang yang berlangsung di depan pintunya.
“Netralitas dan kemanusiaan adalah prioritas. Kami memiliki tanggung jawab sebagai negara netral. Semua pihak harus berkomitmen pada perdamaian,” kata Presiden Sri Lanka pada Kamis.