Warga Kuba menderita di bawah blokade bahan bakar AS sembari Presiden Donald Trump menyebut negara Karibia tersebut sebagai ‘negara gagal’.
Dengarkan artikel ini | 3 menit
info
Terbit Pada 17 Feb 2026
Klik untuk membagikan di media sosial
share2
Krisis bahan bakar yang diberlakukan Amerika Serikat di Kuba juga berubah menjadi krisis sampah dan kesehatan, karena banyak truk pengumpul terpaksa mangkrak lantaran tangki bahan bakarnya kosong, sehingga menyebabkan sampah menumpuk di jalan-jalan ibu kota Havana serta kota-kota lainnya.
Hanya 44 dari 106 truk sampah Havana yang masih dapat beroperasi akibat kelangkaan bahan bakar, memperlambat pengumpulan sampah, sementara timbunan limbah kian menggunung di sudut-sudut jalan Havana, demikian dilaporkan kantor berita Reuters pada Senin, mengutip outlet berita milik negara Cubadebate.
Rekomendasi Cerita
Kota-kota lain juga menyaksikan penumpukan sampah, dan para penduduk telah ramai-ramai menggunakan media sosial untuk menyalakan alarm atas risiko terhadap kesehatan publik, menurut Reuters yang mengutip media Kuba.
“Sampah berserakan di seluruh kota,” ujar Jose Ramon Cruz, seorang penduduk Havana.
“Sudah lebih dari 10 hari sejak truk sampah terakhir datang,” kata Cruz kepada Reuters.
Krisis sampah yang kian memburuk ini menambah penderitaan negara kepulauan kecil tersebut, yang oleh Presiden AS Donald Trump digambarkan pada hari Senin sebagai “negara gagal”.
“Kuba kini adalah negara gagal. Mereka bahkan tidak punya bahan bakar jet untuk menerbangkan pesawatnya, mereka memblokir landasan pacu mereka sendiri,” ucap Trump.
“Kami sedang berbicara dengan Kuba saat ini, dan Marco Rubio juga sedang berbicara dengan Kuba, dan mereka seharusnya benar-benar membuat kesepakatan. Karena ini sungguh merupakan ancaman kemanusiaan,” tambahnya.
Krisis bahan bakar parah di Kuba merupakan akibat dari diputuskanya pasokan minyak krusial yang sebelumnya diimpor dari Venezuela oleh AS. Langkah Washington ini menyusul serangan militer berdarah AS di Caracas serta penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya pada awal Januari.
Pelanggaran AS terhadap ‘perdamaian, keamanan, dan hukum internasional’
Trump telah berbulan-bulan mengancam Kuba dan kepemimpinannya, serta mengencangkan cengkeramannya pada perekonomian Kuba dengan baru-baru ini mengeluarkan perintah eksekutif yang memungkinkan AS menjatuhkan sanksi yang melumpuhkan kepada negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba.
Ditanya apakah AS bermaksud menggulingkan pemerintahan Kuba, serupa dengan penculikan Maduro di Venezuela oleh Washington, Trump menjawab: “Saya kira itu tidak akan diperlukan.”
Bulan lalu, Trump memperingatkan para pemimpin Kuba untuk “membuat kesepakatan, sebelum terlambat”, tanpa merinci konsekuensi jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Di tengah krisis, Meksiko mengirim dua kapal angkatan laut yang membawa 800 ton bantuan kemanusiaan ke Kuba pekan lalu, dan pada hari Senin, Spanyol menyatakan akan menggunakan Badan Kerja Sama dan Pembangunan Internasional Spanyol serta Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menyalurkan bantuan ke Havana.
Pengumuman itu disampaikan ketika Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares bertemu dengan rekan sejawatnya dari Kuba, Bruno Rodriguez Parrilla, di Madrid pada hari Senin, di mana keduanya “membahas situasi terkini di Kuba pasca pengencangan embargo”.
Dalam sebuah unggahan di X, Rodriguez mengkritik “pelanggaran terhadap perdamaian, keamanan, dan hukum internasional serta meningkatnya permusuhan Amerika Serikat terhadap Kuba”.
Kunjungan menteri luar negeri Kuba ke Madrid tersebut menyusul kunjungannya ke Tiongkok dan Vietnam, di mana ia telah mencari dukungan di tengah blokade de facto AS.
Wisatawan Rusia berusaha naik ke penerbangan pulang ke Rusia di bandara Jose Marti, Havana, pada hari Senin, karena krisis bahan bakar memaksa beberapa maskapai asing menangguhkan penerbangannya, meninggalkan banyak pengunjung terdampar [Yamil Lage/AFP]