Getty Images
Para demonstran menggelar unjuk rasa di Bogota, Kolombia, menyusul penangkapan Nicolás Maduro.
Saat situasi di Caracas mulai mereda, rakyat Venezuela menyambut berita penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh AS dengan perasaan harap, takut, dan ketidakpastian.
Warga mulai muncul di jalanan pada hari Sabtu setelah satu malam diguncang ledakan-ledakan di Lembah Caracas, dengan suasana hati yang beragam mulai dari perayaan hingga kecaman.
Dina, seorang warga setempat, kepada BBC mengaku saat ini ia bersyukur kepada AS karena telah “mengeluarkan Maduro dari sini” sehingga kini ia “setidaknya dapat kembali melihat secercah harapan”.
Namun, iklim politik tetap tegang, sebagian alasan mengapa ia tidak memberikan nama aslinya kepada BBC.
Jorge, warga Venezuela lain yang tinggal di dekat Caracas, mengatakan kepada BBC bahwa meski ia bersyukur mendapat “dukungan penuh dari Trump dan seluruh Amerika Serikat”, ia khawatir hari-hari mendatang tidak akan mudah.
“Kini setelah pria ini diambil, apa yang akan terjadi?” ujar Jorge. “Itu tidak menjamin apa pun bagi kami. Jadi ada sedikit ketidakpastian. Kami tidak tahu apa yang akan dibawa hari-hari mendatang.”
Para pendukung pemerintahan Maduro juga telah berunjuk rasa di jalan-jalan Caracas, menuntut AS melepaskan pemimpin mereka. Wali Kota Caracas Carmen Meléndez, seorang loyalis pemerintah yang tangguh, bergabung dalam unjuk rasa untuk memprotes apa yang ia sebut “penculikan” terhadap Maduro.
Pada Sabtu dini hari, pasukan AS di bawah Presiden Donald Trump melancarkan serangkaian serangan terarah di ibu kota Venezuela, yang berujung pada penahanan pemimpin negara tersebut oleh Amerika Serikat.
AS menuduh Maduro menjalankan rezim “narco-teroris”. Ia secara luas dianggap oleh oposisi di dalam negeri maupun pemerintah asing sebagai pemenang tak sah pemilu Venezuela 2024.
Maduro—pemimpin Partai Sosialis Bersatu yang telah berkuasa sejak 2013—sering dituduh menindas kelompok oposisi dan membungkam perbedaan pendapat di Venezuela, terkadang dengan penggunaan kekerasan.
Saat Maduro dan istrinya diekstradisi ke New York City untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba dan senjata, masa depan Venezuela masih belum jelas. Trump menyatakan AS akan menjalankan pemerintahan negara itu—dan mengelola cadangan minyaknya—sampai pengganti permanen untuk Maduro dapat dibentuk.
Maduro sebelumnya telah menampik klaim AS bahwa ia terlibat langsung dalam perdagangan narkoba.
Namun, bahkan bagi mereka yang bersyukur melihat Maduro pergi, tetap ada banyak ketakutan dan ketidakpastian, kata beberapa warga Venezuela kepada BBC.
Dina tidak terlalu mempercayai Trump.
“Ia mengatakan sesuatu hari ini dan besoknya berubah pikiran,” kata Dina tentang Trump. “Maksudku, saya tidak terbiasa memandang serius ucapannya.”
Satu-satunya hal yang baik dari pernyataan Trump pasca penangkapan Maduro, tutur Dina, adalah bahwa AS akan berinvestasi di Venezuela, yang ia harap akan membawa “situasi ekonomi yang lebih baik” bagi negara yang sedang berjuang ini.
Wakil Presiden Venezuela: Maduro adalah ‘satu-satunya presiden’
Bahaya menyuarakan penolakan terhadap Maduro masih sangat nyata di dalam Venezuela, setelah Majelis Nasional—yang didominasi loyalis Maduro—mengeluarkan undang-undang beberapa minggu lalu yang menyatakan siapa pun yang mendukung blokade laut AS sebagai “pengkhianat”.
Jorge mengatakan ia melihat pengendara motor dari *colectivos*—kelompok paramiliter pro-pemerintah di Venezuela—berkeliaran di jalanan dengan senjata kemarin.
“Itu membuatmu agak takut sekadar pergi membeli roti saat ini,” katanya. “Kita harus menunggu yang terbaik dan bersabar.”
Jorge menambahkan bahwa ia khawatir dengan pengaruh sekutu Maduro, Diosdado Cabello, Menteri Dalam Negeri, Kehakiman, dan Perdamaian Venezuela.
“Dia orang yang sangat jahat, pendendam,” ujar Jorge tentang Cabello. “Saya tidak tahu berapa banyak orang yang ada di sisinya. Semoga tentara berpihak pada rakyat dan ia kehilangan kendali.”
Sandra, yang tinggal di kota Punto Fijo, Venezuela, menggemakan perasaan lega Jorge dan Dina atas tergulingnya Maduro. Namun, ia juga skeptis tentang masa depan dan implikasinya bagi warga Venezuela di pengasingan.
Hampir delapan juta warga Venezuela telah meninggalkan negara itu sejak Maduro berkuasa—dan banyak dari mereka secara terbuka merayakan penangkapan Maduro di jalan-jalan kota tempat mereka menetap.
Di samping jutaan orang di pengasingan, yang lainnya “hilang, dipenjara, tewas, atau sekadar bertahan hidup”—sebuah “tragedi sejati yang belum pernah ditangani oleh negara mana pun”, kata Sandra.
“Ini baru permulaan; kita tahu masih ada jalan panjang ke depan,” tambah Sandra. “Sebelumnya, tidak ada negara yang mendengar jeritan rakyat Venezuela dalam menghadapi tragedi ini.”
Tom Bateman, Cristobal Vasquez, dan Kristina Volk berkontribusi pada laporan ini.