Leveugle ditangkap pada tahun 2024 setelah mengunjungi saudaranya di departemen Isère sekitar Grenoble, sebuah kota di Prancis tenggara. Saat itu, Leveugle berdomisili di Maroko.
Keponakan laki-lakinya—yang telah menaruh kecurigaan terhadap pamannya—memanfaatkan ketidakhadiran Leveugle suatu hari di Oktober 2023 untuk memeriksa drive USB miliknya. Perangkat tersebut diduga berisi “15 jilid materi yang sangat padat”—foto-foto dan catatan tertulis mengenai “hubungan seksualnya” dengan anak di bawah umur, ungkap Manteaux.
“Korban yang kami ajak bicara menyatakan bahwa ia menghabiskan banyak waktu membantu mereka mempelajari bahasa asing, merangsang minat budaya mereka… Dia memiliki kepribadian yang kompleks,” kata jaksa penuntut itu.
“Banyak upaya telah dilakukan untuk mengidentifikasi semua korbannya. Namun dalam jurnalnya, beberapa hanya tercantum nama depan, dan di situ kami menemui jalan buntu. Karena itulah kami memutuskan untuk meluncurkan imbauan ini—juga untuk mengantisipasi jika ada korban lain yang tidak tercatat dalam jurnalnya,” tambah Manteaux.
Jaksa itu mengungkapkan bahwa selama pemeriksaan, Leveugle juga diduga mengakui telah membunuh ibunya dan bibinya sendiri dengan cara mencekik mereka menggunakan bantal.
Ia dituduh membunuh ibunya pada 1974 saat sang ibu berada dalam fase terminal kanker, dan diduga melakukan hal yang sama terhadap bibinya yang berusia 92 tahun pada 1992.
“Ia menjelaskan kepada kami bahwa ia berkata (pada bibinya) bahwa ia harus berangkat ke Cévennes. Sang bibi memohon agar ia tidak pergi, sehingga ia memutuskan untuk membunuhnya juga,” papar jaksa tersebut.
“Ia membenarkan pembunuhan tersebut dengan mengatakan bahwa ia berharap seseorang akan melakukan hal yang sama padanya jika ia berada dalam situasi serupa di akhir hidupnya.”
Penyelidikan yudisial terpisah telah dibuka terkait dugaan pembunuhan ini.
Di bawah hukum Prancis, dugaan kejahatan yang terjadi sebelum 1993 tunduk pada kedaluwarsa, sehingga penuntutan untuk kasus-kasus tersebut tidak memungkinkan. Namun Manteaux menyatakan bahwa tetap penting untuk mendapatkan gambaran lengkap atas kejahatan yang diduga dilakukan Leveugle.
Dalam dua kasus pelecehan seksual yang baru-baru ini terkenal di Prancis, pelaku menyimpan catatan aktivitas mereka yang kemudian menjadi kunci untuk membawa mereka ke pengadilan.
Dalam kasus pemerkosaan Pélicot, Dominique Pélicot menyimpan rekaman video pria-pria yang melecehkan istrinya yang tertidur, Gisèle, setelah ia beri obat. Ia dihukum penjara 20 tahun.
Di Brittany, mantan dokter Joêl Le Scouarnec mengompilasi catatan komputer rinci mengenai ratusan anak yang dilecehkannya di rumah sakit. Tanpa bukti ini, ia mungkin tidak pernah dihukum. Ia juga menjalani hukuman penjara 20 tahun.