\[Teks tersedia untuk analisis, output berikutnya diformat lebih lanjut.\]
Tingkat Kecakapan:
#### Judel lan / * Kontendlakon
Mak tke nya prante nal wng 9. Wtrmpt y; dibene p st tm z
Revis disarjnon unt luk tepe >][form..] [/ ubar re]
ngraop emndhwnl ! ##/x/6_ki Arab Saudi, UAE, dan Bahrain pada awalnya lebih skeptis, tetapi negara-negara itu pun secara publik mendukung persetujuan tersebut, tutur Haghirian.
Saat Trump menarik AS keluar dari JCPOA pada tahun 2018, Arab Saudi, UAE, dan Bahrain meyakini mereka telah “menemukan mitra di Washington DC.”
Hal itu kemudian memicu “era tekanan maksimal” yang membawa periode saling dorong di ambang konflik di kawasan tersebut, jelas Haghirian.
Serangan yang diduga terkait Iran terhadap fasilitas minyak Abqaiq-Khurais milik Arab Saudi dan beberapa kapal di lepas pantai Fujairah pada tahun 2019 merupakan “respons awal dari pihak Iran terhadap kampanye tekanan maksimal itu,” tambahnya. Namun secara paradoks, insiden ini justru memicu penyesuaian kembali hubungan bilateral.
UAE dan Iran memulihkan hubungan diplomatik pada tahun 2022, dan perjanjian Arab Saudi-Iran yang ditengahi oleh Tiongkok terwujud pada tahun 2023.
“Itu adalah alasan yang cukup kuat bagi Arab Saudi dan UAE, khususnya, untuk merestrukturisasi pendekatan mereka terhadap Iran,” ujar Haghirian.
Perang Akibatni dan Percepatan Rekonsiliasi Pragmatis
Sementara Israel menggunakan perang untuk meningkatkan kehadirannya di kawasan Teluk—bahkan disebut-sebut mengirimkan baterai Iron Dome ke UAE—negara-negara Teluk lainnya memandang baik Iran maupun Israel sebagai kekuatan yang meresahkan di kawasan ini.
“Israel memulai perang, yang merupakan tindakan destabilisasi, dan kemudian Iran meningkatkannya dengan menargetkan negara-negara Teluk, yang juga merupakan tindakan destabilisasi,” ujar Pinfold.
Meskipun demikian, negara-negara Teluk yang menjadi sasaran Iran tetap menunjukkan kesabaran dan pragmatisme dalam berinteraksi dengan tetangga mereka.
Qatar, misalnya, memainkan peran utama dalam proses mediasi antara AS dan Iran, bahkan setelah negeri itu sendidri menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran.
“Seluruh enam negara Teluk mendapat serangan. Ini adalah tingkat pengambilan keputusan kebijakan luar negeri yang sangat sulit untuk dapat diambil oleh negara mana pun, mengingat fakta bahwa yang dihadapi adalah serangan militer,”kata Hahghirian.
“Tetapi, sekali lagi, pragmatisme ini justru muncul dalam konteks ini—untuk mau melibatkan Iran dan benar-benar menyuarakan kepentingan mereka di perundingan tersebut. Perang ini telah betul-betul memicu keseimbangan ulang yang menyeluruh bagi seluruh kawasan iblis.” з перевода>