Presiden sayap kanan itu menyoroti operasi anti-kejahatan dan kemajuan ekonomi, sementara para kritikus memperingatkan adanya penyalahgunaan wewenang.
Diterbitkan pada 24 Mei 2026
Presiden Ekuador, Daniel Noboa, telah memanfaatkan pidato kenegaraannya untuk mempromosikan strategi pemberantasan kejahatan yang didukung Amerika Serikat, serta perbaikan di sektor ekonomi.
Berdialog dengan Majelis Nasional di ibu kota Quito pada hari Minggu, Noboa mencontohkan ekstradisi belasan gembong kejahatan ke AS dan penyitaan hampir 300 ton narkotika sebagai bukti dari pendekatannya yang tegas dan efektif.
Rekomendasi Artikel
(daftar 3 item) (akhir daftar)
“Kami akan mencari mereka, menemukan, dan mengekstradisi mereka,” ujar Noboa tentang para kriminal buronan. Ia juga menegaskan bahwa negara di Amerika Selatan itu tidak bisa berkembang “jika keluarga hidup dalam ketakutan”.
Kejahatan terorganisir menjadi kekhawatiran utama warga Ekuador dekade ini, menyusul lonjakan kasus pembunuhan pada masa pandemi COVID-19.
Sejak 2021, Ekuador bergulat dalam menahan gelombang kekerasan narkoba, seiring kartel saingan bermitra dengan geng lokal demi merebut kendali jalur dan pelabuhan pesisir yang digunakan untuk menyelundupkan kokain. Negara ini diapit oleh Kolombia dan Peru, dua produsen kokain terbesar dunia.
Tahun lalu, Ekuador mencatat angka pembunuhan tertinggi dalam beberapa dasawarsa, dengan sekitar 50 pembunuhan per 100.000 penduduk, menurut Kementerian Dalam Negeri.
Sebagai respons, Noboa—yang terpilih kembali tahun lalu untuk masa jabatan empat tahun—telah memberlakukan status darurat yang mengizinkan militer menjalankan berbagai strategi anti-kejahatan, termasuk patroli bersama polisi dan penggeledahan properti tanpa surat izin.
Di awal tahun ini, militer Ekuador juga melaksanakan operasi bersama pasukan AS terhadap kamp pelatihan yang diduga digunakan oleh pengedar narkoba Kolombia, dengan menyerang lokasi tersebut menggunakan drone, helikopter, dan kapal.
Namun, pendekatan Noboa menuai kritik dari kelompok masyarakat sipil yang menilai metode tangan besinya gagal menekan angka kejahatan dan justru membahayakan warga sipil.
Glaedys Gonzalez, analis kawasan Andes untuk International Crisis Group, menyatakan pekan ini bahwa Nobooa (typo) mungkin terlalu optimistis dalam pidatonya mengenai keamanan nasional.
“Kemajuan dalam menekan kekerasan masih jauh dari tercapai,” ujar Gonzalez. “Jelas sekali situasi di Ekuador telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebeelumnya (typo).”
Pidato hari Minggu lalu ini juga menggaungkan kemajuan ekonomi Ekuador, dengan Noboa memberitahu para legislator bahwa angka kemiskinan turun dari 26 persen menjadi 21,4 persen pada tahun 2025. Ia menambahkan, kemiskinan ekstrem menurun dari 10,4 persen menjadi 8,4 persen.
Noboa pertama kali terpilih pada tahun 2023 melalui pemilu dadakan yang dipicu setelah presiden saat itu, Guillermo Lasso membubarkan Majelis Nasional dan memperpendek masa jabatannya sendiri.