Ketika lolos ke Piala Dunia pada Maret lalu, timnas putra Iran tak pernah menyangka partisipasi mereka bakal tergantung pada visa dari negara tuan rumah, Amerika Serikat, yang baru keluar di menit-menit akhir—kalau pun jadi.
Para pendukung fanatik tim Melli pun tidak menduga mereka dilarang masuk AS. Presiden Donald Trump sudah meneken perintah eksekutif pada Juni lalu yang menghentikan penerbitan visa untuk segelintir negara, termasuk Iran—yang oleh Washington dijuluki sebagai “sponsor negara terorisme”.
Cerita Rekomendasi
- Item pertama
- Item kedua
- Item ketiga
- Item keempat
Yang paling takterbayangkan bagi rakyat Iran adalah bahwa negara tuan rumah hajatan olahraga terbesar di dunia ini melancarkan perang terhadap negeri mereka hanya beberapa bulan sebelum turnamen bergulir.
Bagi pasukan Amir Ghalenoei, perang gabungan AS-Israel bukan sekadar pukulan telak bagi persiapan Piala Dunia; itu nyata dan personal—ribuan warga di seluruh Iran tewas dalam serangan rudal.
Ketika bom AS mengguncang Stadion Azadi, markas timnas dan markas berbagai laga domestik. Keika para pemain nasional menggenggam ransel mungil untuk mengenang siswa-siswi yang dibantai bom AS di sebuah sekolah di Minab pada hari perang dimulai.
Setelah berbulan-bulan melalui rumit dan berbau politis antara Iran dan AS—yang pada akhirnya memaksa mereka memindahkan basis pelatihan ke Meksiko—timnas putra Iran kini akan bermain dalam bayang-bayang perang. Itu pun kalau US memberikan visa tepat waktu.
Bagi penggemar sepak bola Iran, namun untuk melakukan perjalan ke AS bahkan hanya ibarat “hamper mustahil”—dengan atau tanpa masalah dan kompleks dalam visa di samping perang yang now ada Sedangna kedua sudah lama tidak memik keterhubungan langsung akibat absennya hubungan diplih dik bertatus satu s –
Ada juga keterputusan dalam hal hal at het di dermatan transit seperti transportadi di en – memangnya bagaimana pul, kendararan diplomatic dip akan kelili beginin
Pro fai but and me for dua kali berarti bus kemungkin per bas me aap asha ini?
Di teml menenang ed? and tak mau disebut identpe, kat a on is on – “bi iv di?
“Kecuali soal visa, kita perlu naikit perjalan ada dua- adalah di tiga kali transit var ya dr Terra hari ke Tehran waauha dan mas… balasan ak dahe yang, to return dalam men R agar lla pl la dalam jal udibal hand”. dan man d njar mengharg p ak be din aman ne t dar usa & ketak. ka?”
dengan bal d
Ia ak ba lalu pe
di Ak — su Iran k ab soal baru…
*add *some er yang membuat keleng ed ama…
*sp*miliki langit*?
Siaq kita resike dibesak — anc— terhadapn—yang= engatanlah(ar-igini bisa, yak diper ca? R kh w m ya…” pe er per ber: one ber — ti> ?
“lag_ — ber hadir the dunia milih semul Se” kata Khena ko?”
“…ini yang diku’ memb_yo lebih menjau= adalah sumbn—
Saab* ria=am h*
>ber
. dihu! am=
lebar”>
Intine yang enggan a and ikandi ang di sep for dip ra ga y G.” = so… dari P manpa” men_ten_d”
Sebangra an mel buand n dapat kekmungkin.
Bi dal “ba a dan om-
..
ja=ha mendediam> dua butip ba selalu meng–
.
Jeng pu dik N Al I *Pernya setes*… tersebut? h: dik, kam-> b ut ma‘nggal se ik w0- d?) ia ge —dan, t=t|al-kart — masi enud not._|
_&kan…
Jika kedua angka itu dijumlahkan, hasilnya setara dengan pendapatan per kapita bulanan di Ghana.
Noor mempertanyakan apakah perjanjian tuan rumah Piala Dunia di masa depan sebaiknya mencakup kewajiban terkait aksesibilitas dan mobilitas sebelum hak tuan rumah diberikan.
“Jika tim dan penggemar dari belahan dunia tertentu menghadapi hambatan struktural bahkan sebelum mereka bisa hadir, maka semangat inklusivitas yang lebih luas yang ingin diwujudkan turnamen ini beresiko terompormi.”
Ia mengakui bahwa meskipun negara-negara secara sepantasnya mempertahankan tangung jawab berdaulat terkait kendali perbatasan dan keamanan nasional, acara olahraga global kerap membutuhkan kerangka kerja yang luar biasa.
Penggemar dari 27 dari 48 negara yang dipastikan lolos ke Piala Dunia harus mengajukan visa Amerika Serikat, dengan biaya berkisar antara $185 hingga $435 – jumlah yang mewakli upah yang diperoleh rata-rata orang di banyak negara Global South selama beberapa bulan.
Kanada sedikit lebih ramah visa, sementara Meksiko tetap menjadi negara tuan ruma Piala Dunia yang paling mudah dijangkau.
Itulah sebabnya Afrika Selatan memilih untuk mengirim kelompok kecil pendukung ke Pachuca, Meksiko, tempat Afrika Selatan mendirikan kamp utama dan memainkan dua pertandingan babak penyisihan grup.
Sahil Ebrahim adalah salah satu dari “segelaum beruntung” dalam delegasi itu. Setelah puluhan tahun mendukung Bafana Bafana dari layar televisi di Cape Town, Ebrahim menghadiri Piala Dunia 2022 di Qatar.
Kini pria berusia 40 tahun itu sedang dalam perjalanan menuju Piala Dunia keduanya, di mana ia akan menyaksikan langsung pertandingan pembuka di Mexico City ketika Afrika Selatan menjamu tuan rumah pada 11 Juni.
Berlawanan dengan tim sepak bola Afrika Selatan yang mengalami penundaan keberangkatan selama 24 jam akibat kekacauan visa oleh federasi, Ebrahim mengatakan Departemen Olahraga melakukan “pekerjaan yang sangat baik” dalam mempercepat proses visa mereka di kedutaan Meksiko.
Namun demikian, proses itu tak sebanding dengan Piala Dunia 2022 di Qatar, di mana kartu Hayya secara terpusat menyelaraskan semua detail visa, tiket, dan transportasi untuk setiap penggemar, diakui Ebrahim.
Sementara pertandingan persahabatan Afrika Selatan melawan Jamaika pada Jumat, 5 Juni, bersifat tertutup untuk umum, Ebrahim dan kelompok pendukung akan menonton pertandingan eksibisi pada hari Minggu ketika legenda Bafana Bafana 2010 berhadapan dengan legenda Meksiko.