Penjara-penjara yang mereka jalankan adalah bagian dari sistem penahanan di mana Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui kantor hak asasi manusianya (OHCHR), mengatakan penyiksaan dan perlakuan buruk terhadap warga sipil sudah “sistematis dan meluas”.
OHCHR juga menyebut mantan tahanan melaporkan berbagai kekerasan seperti pemukulan, sengatan listrik, eksekusi pura-pura, serta kekerasan seksual. Warga sipil sering ditahan secara sewenang-wenang dan keluarga mereka nyaris tidak mendapat informasi.
Kremlin menuduh OHCHR tidak netral. Pada Mei lalu, PBB memasukkan Rusia ke daftar hitam negara yang diduga melakukan kekerasan seksual di wilayah konflik. Rusia menyebut tuduhan itu sebagai “kebohongan yang tidak berdasar”.
Otoritas Ukraina menyatakan lebih dari 16.000 warga sipil telah ditawan atau hilang. Sebagian kasus terjadi setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 2022, sementara lainnya sudah berlangsung sejak 2014, ketika Rusia mencaplok semenanjung Krimea di Ukraina selatan serta menduduki bagian timur Ukraina, yang memicu kecaman luas dari dunia internasional.
Saat itu, Liudmyla bekerja sebagai teknisi keselamatan di sebuah peternakan unggas di Novoazovsk, kota di wilayah Donetsk yang dekat perbatasan dengan Rusia.
Kelompok bersenjata yang didukung Rusia mengambil alih kota tersebut, memulai masa kekuasaan paramiliter selama beberapa tahun.
Liudmyla mengaku bahwa selama pendudukan, ia membantu merawat anak-anak yatim dan membawakan makanan untuk pasukan Ukraina. Mereka memberinya bendera Ukraina bertuliskan ucapan terima kasih. Ia percaya bahwa foto bendera yang ia bagikan ke teman tepercaya sampai ke tangan pasukan pro-Rusia. “Mungkin karena itulah mereka menangkap saya.”
Menurutnya, ia dituduh menjadi mata-mata dan dibawa ke Izolyatsia, sebuah pabrik yang diubah jadi galeri seni modern yang sudah dikuasai pasukan pro-Rusia. Tempat itu kemudian terkenal dan ditakuti karena banyak mantan tahanan melaporkan penyiksaan di lokasi tersebut.