REUTERS/Sebastian Castaneda
Polisi mengepung gedung DPR.
Polisi dan para demonstran muda anti-pemerintah bentrok di ibu kota Peru, Lima, pada akhir pekan.
Sebuah kelompok hak asasi manusia menyatakan setidaknya 18 pengunjuk rasa terluka dalam protes yang digelar pada Sabtu dan Minggu, yang dijuluki “Aksi Muda Generasi Z” oleh para penyelenggara. Seorang perwira polisi menderita luka bakar, menurut para pejabat.
Kelompok-kelompok pemuda, sebagian besar berusia di bawah 30 tahun, didukung oleh para supir bus dan taksi, bergerak menuju DPR untuk menyalurkan kemarahan mereka atas skandal korupsi dan rasa tidak aman yang kian meningkat.
Para pengunjuk rasa, yang beberapa di antaranya melemparkan batu dan proyektil lain, dibubarkan oleh polisi dengan menembakkan gas air mata dan peluru karet, seperti dilaporkan kantor berita AFP.
John Reyes Mejia/EPA/Shutterstock
Kaum feminis, mahasiswa, dan pekerja transportasi bergabung dalam aksi unjuk rasa.
Protes ini pertama kali meletus pada Sabtu, 20 September, dipicu oleh reformasi pensiun yang disahkan awal bulan ini, yang mewajibkan para pemuda untuk membayar iuran kepada dana pensiun swasta.
Tingkat persetujuan terhadap Presiden Dina Boluarte telah berada di angka satu digit selama berbulan-bulan dan banyak warga Peru menyatakan ingin ia lengser dari jabatannya.
“Kami berdemo menentang korupsi, untuk kehidupan, dan melawan kejahatan yang membunuh kita setiap hari,” kata Adriana Flores (28) kepada AFP.
Para pengunjuk rasa Generasi Z ini didukung oleh pekerja transportasi yang menilai pemerintah tidak cukup bertindak untuk memerangi pemerasan.
Para supir taksi dan bus menyatakan bahwa geng-geng, termasuk Tren de Aragua yang berbasis di Venezuela, mengancam mereka untuk membayar “uang perlindungan”.
Mereka juga menuduh polisi tutup mata terhadap praktik pemerasan yang merajalela itu.
Beberapa pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan “Kami menuntut hidup tanpa ketakutan”.
Para wartawan melaporkan sebagian pengunjuk rasa dari Generasi Z berusaha menerobos pagar pengaman yang dipasang polisi di sekitar DPR.
John Reyes Mejia/EPA/Shutterstock
Polisi memasang penghadang logam di jalan-jalan utama di pusat kota bersejarah Lima.
Namun, kelompok hak asasi manusia CNDDHH menilai tanggapan polisi berlebihan.
“Tidak ada pembenaran untuk menembakkan gas air mata dalam jumlah besar, apalagi untuk menyerang warga,” kata pengacara CNDDHH, Mar Perez, kepada AFP.
Para demonstran yang bergerak menuju DPR meneriakkan yel-yel “Bersatu untuk Peru yang layak kita dapatkan”.
Sesampainya di pagar pengaman, mereka juga menyanyikan lagu kebangsaan.
Banyak warga Peru yang kritis terhadap DPR, menuduh lembaga legislatif itu tidak mewakili kepentingan rakyat.
“Orang-orang [anggota DPR] ini menaikkan gaji mereka sendiri, mereka membunuh kita seperti lalat dan tidak peduli apa pun. Kami butuh perubahan total, kami muak dengan situasi ini,” kata seorang perempuan muda kepada situs berita lokal RPP.
Presiden Boluarte, yang dilantik menjadi presiden setelah pendahulunya dimakzulkan karena berusaha membubarkan DPR pada 2022, menggandakan gajinya pada bulan Juli—langkah yang dinilai banyak pihak sebagai “keterlaluan” mengingat tingkat persetujuannya yang sangat rendah.
Masa jabatannya berakhir pada Juli tahun depan.