Pemimpin oposisi Uganda, Bobi Wine, menyatakan kepada BBC bahwa ia tidak akan menggugat hasil pemilihan umum Kamis lalu di pengadilan. Hal ini disampaikan karena ketidakpercayaannya terhadap lembaga peradilan. Alih-alih, ia mendorong para pendukungnya untuk turun ke jalan dan melakukan protes secara damai.
Berbicara dari persembunyiannya, Wine menyatakan akan terus melawan Presiden Yoweri Museveni meski mengkhawatirkan keselamatannya sendiri. “Lembaga peradilan di Uganda sudah dikuasai dan kami mendorong warga Uganda untuk menggunakan segala cara hukum untuk melawan dan melindungi demokrasi mereka,” ujar mantan bintang pop berusia 43 tahun itu.
Museveni yang berusia 81 tahun memenangkan pemilu dengan telak dan menuduh oposisi berusaha membalikkan hasil melalui kekerasan, menyebut mereka sebagai “teroris”. Ia meraih 72% suara sementara Wine, pesaing terdekatnya, memperoleh 25%.
Wine, yang nama aslinya adalah Robert Kyagulanyi, bersikukuh bahwa hasil tersebut “palsu” dan menyebut adanya “penggelembungan surat suara” tanpa merinci lebih lanjut.
Dalam wawancaranya, Wine juga menyoroti tindakan pasukan keamanan yang tidak mengizinkan makanan masuk ke kediaman keluarganya, di mana istri dan kerabatnya efektif berada dalam tahanan rumah. Ia mengaku melarikan diri dari rumahnya di pinggiran ibu kota Kampala pada Jumat malam saat terjadi penggerebekan oleh pasukan keamanan.
“Kami menolak hasil itu karena palsu dan sama sekali tidak mencerminkan pola pemungutan suara yang sebenarnya. Hasil itu sangat berbeda dari rekapitulasi di tempat pemungutan suara dan dalam formulir deklarasi,” kata Wine kepada BBC dari lokasi yang dirahasiakan.
Pihak berwenang belum menanggapi tuduhannya, namun Komisi Hak Asasi Manusia Uganda (UHRC) menyatakan bahwa tantangan “teknis dan prosedural” yang diamati pada hari pemungutan suara tidak merusak keadilan pemilu secara keseluruhan.
Dalam laporannya, pengamat pemilu Uni Afrika (AU) menyatakan “tidak menemukan bukti penggelembungan surat suara”, tetapi mengutuk pemadaman internet yang berlangsung berhari-hari—yang baru dipulihkan beberapa jam setelah Presiden Museveni dinyatakan sebagai pemenang pada Sabtu.
Setelah kalah dari Museveni pada 2021, Wine sempat menggugat hasil pemilu namun kemudian menarik kembali permohonannya dengan alasan keberpihakan dan ketidaknetralan pengadilan.
Wine, yang gagal dalam pencalonan presidennya untuk kedua kalinya, juga menuduh terjadi “pembantaian senyap” yang berlangsung saat para aktivis politik menjadi sasaran tindakan keras. Dalam sebuah unggahan media sosial, ia menyebut lebih dari 100 orang tewas dalam kekerasan pemilu—tanpa menyertakan bukti.
Surat kabar Daily Monitor melaporkan, lebih dari 100 pemuda telah ditahan di penjara dengan berbagai tuduhan terkait insiden pemilu di seluruh Kampala.
Dalam unggahan di X pada Senin, panglima tentara Uganda, Jenderal Muhoozi Kainerugaba—yang juga putra Presiden Museveni dan calon penerusnya—menyatakan pasukan keamanan telah membunuh 22 pendukung oposisi selama kekerasan terkait pemilu. Jenderal Kainerugaba juga mengancam Wine, memberinya “tepat 48 jam untuk menyerahkan diri kepada polisi”.
“Jika tidak, kami akan memperlakukannya sebagai penjahat/pemberontak dan menanganinya sesuai dengan itu,” ujarnya.
Dalam wawancaranya dengan BBC, Wine mengatakan ia melarikan diri dari rumah setelah mengetahui pasukan keamanan berencana “menyerang” dirinya. “Mereka melompati pagar rumah saya dan memutus listrik serta kamera pengawas. Saya anggap berbahaya untuk tetap tinggal,” kata Wine, yang sudah beberapa hari tidak terlihat di publik.
“Anda telah mendengar putra Museveni berjanji akan menyakiti saya. Dia telah berjanji untuk menyakiti orang-orang dan… dia telah mewujudkannya. Anda telah membaca kicauan terbarunya. Itulah mengapa saya harus berhati-hati,” tambahnya.
Meskipun internet dipulihkan pada Sabtu malam, Wine menyatakan tidak dapat menghubungi istrinya karena gangguan sinyal di dekat rumahnya. Polisi telah membantah menggeledah rumah pemimpin oposisi itu, dengan alasan penempatan pengamanan adalah untuk melindunginya sebagai calon presiden.
Wine kemudian menyerukan “pergantian rezim secara damai”, dengan menyatakan bahwa protes adalah hak konstitusional. “Kami mendorong warga Uganda untuk menggunakan segala cara konstitusional untuk melawan,” tegasnya.
Pada Selasa, seorang kepala kepolisian setempat di Kampala, Donald Muhwezi, mengatakan kepada media lokal bahwa polisi tidak mempersoalkan keberadaan Wine, “selama dia dalam keadaan aman”.
Dalam pidato kemenangannya pada Minggu, Museveni menyatakan kemenangan pemilunya menunjukkan dominasi partainya, National Resistance Movement (NRM). Museveni pertama kali berkuasa sebagai pemimpin pemberontak pada 1986 dan sejak itu telah memenangkan tujuh pemilihan umum. Uganda belum pernah menyaksikan peralihan kekuasaan presiden secara damai sejak kemerdekaan.