Perundingan berintensitas tinggi antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan. Ketua negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyalahkan AS atas kegagalan perundingan yang digelar di Islamabad, Pakistan, selama gencatan senjata dua pekan dalam perang mereka.
Ghalibaf, yang juga merupakan Ketua Parlemen Iran, menyatakan pada Minggu bahwa delegasinya mengajukan inisiatif-inisiatif “yang berorientasi ke depan” selama pembicaraan pada Sabtu, namun AS gagal memperoleh kepercayaan dari delegasi Iran.
Rekomendasi Cerita
Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi AS, sebelumnya mengatakan pembicaraan berakhir tanpa hasil. “Kabur buruknya adalah kita tidak mencapai kesepakatan, dan saya rasa ini lebih merupakan kabar buruk bagi Iran daripada bagi Amerika Serikat,” ujarnya, enam pekan setelah perang AS-Israel terhadap Iran dimulai.
Perundingan ini—yang merupakan keterlibatan langsung pertama kedua negara di level ini sejak Revolusi Iran 1979—membuka kedok perbedaan mendalam pada isu-isu inti, termasuk program nuklir Iran dan Selat Hormuz, yang secara efektif telah berada di bawah kendali Tehran sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Blokade de facto jalur air tersebut, yang dilalui seperlima pasokan minyak mentah global, telah memicu krisis energi dunia dan menggoyang pasar saham internasional.
Jurnalis Al Jazeera, Kamal Hyder, melaporkan dari Islamabad bahwa perundingan yang dimediasi Pakistan, yang berlangsung lebih dari 21 jam, “bukanlah sebuah terobosan, namun juga bukan kebuntuan total”.
Berikut adalah pandangan mengenai pernyataan masing-masing pihak dan titik-titik perselisihan kunci antara Tehran dan Washington:
Apa yang Disampaikan AS?
AS menyoroti tidak adanya terobosan terutama seputar penolakan Iran yang dituduhkan untuk memenuhi tuntutan inti mereka: komitmen kuat untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
“Kami perlu melihat komitmen afirmatif bahwa mereka tidak akan memburu senjata nuklir dan tidak akan mengupayakan alat-alat yang memungkinkan mereka meraih senjata nuklir dengan cepat,” kata Vance kepada wartawan dalam konferensi pers.
“Itulah tujuan inti Presiden Amerika Serikat, dan itulah yang kami coba capai melalui negosiasi ini.”
Vance menyatakan Washington telah memperjelas “batas merah”-nya dan menyampaikan apa yang ia deskripsikan sebagai “penawaran terakhir dan terbaik”.
Wakil presiden itu tidak menyebutkan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selama negosiasi, Presiden AS Donald Trump tampaknya menyelipkan diri ke dalam pembicaraan, dengan menyatakan bahwa kesepakatan tidak sepenuhnya diperlukan.
“Kami sedang bernegosiasi. Apakah kami membuat kesepakatan atau tidak, bagi saya tidak ada bedanya karena kami sudah menang,” ujarnya kepada wartawan di Washington, DC.
Namun, fakta bahwa Trump mengutus Vance ke Islamabad menunjukkan AS serius dalam menangani perundingan ini, kata jurnalis Al Jazeera John Hendren, melaporkan dari Washington, DC.
“Fakta bahwa Vance meninggalkan [Islamabad] tidak serta merta berarti perundingan berakhir,” tambahnya, seraya menyatakan bahwa titik perselisihan utama tampaknya adalah Selat Hormuz dan kesenjangan mengenai program nuklir Iran.
“AS telah bernegosiasi dengan Iran dari waktu ke waktu. Pembicaraan itu dapat dilanjutkan dari jarak jauh, dan meninggalkan perundingan mungkin sekadar sikap keras,” tambah koresponden Al Jazeera tersebut.
Apa yang Disampaikan Iran?
Iran mengecilkan ekspektasi dan menyalahkan AS karena melakukan apa yang mereka sebut sebagai tuntutan yang tidak masuk akal.
“Keberhasilan proses diplomatik ini bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lawan, pantang dari tuntutan berlebihan dan permintaan melawan hukum, serta penerimaan terhadap hak dan kepentingan sah Iran,” tulis Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei di X.
Ia menambahkan bahwa kedua pihak mendiskusikan serangkaian isu, termasuk “Selat Hormuz, masalah nuklir, reparasi perang, pencabutan sanksi, dan penghentian total perang terhadap Iran”.
Baghaei menekankan bahwa tidak adanya kesepakatan tidak boleh dilihat sebagai kegagalan proses yang lebih luas, dengan menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang memiliki ekspektasi seperti itu.”
Menurut kantor berita IRNA, ketika ditanya apakah diplomasi telah berakhir, Baghaei menjawab, “Diplomasi tidak pernah berakhir.”
Ghalibaf membubuhkan postingan di X: “AS telah memahami logika dan prinsip-prinsip Iran, dan sekarang mereka harus memutuskan apakah mampu mendapatkan kepercayaan kami.”
Mohsen Farkhani dari Universitas Isfahan mengatakan Tehran masuk ke dalam perundingan bukan untuk sebuah terobosan, melainkan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Washington tidak serius.
“Iran berada dalam negosiasi ini dengan semacam pandangan yang sangat realistik dan penuh ketidakpercayaan… untuk membuktikan kepada dunia bahwa, untuk ketiga kalinya, AS tidak memiliki keseriusan yang cukup untuk menyelesaikan masalah atau tantangan dalam perdamaian dan perundingan,” katanya kepada Al Jazeera.
Apa yang Disampaikan Pakistan?
Pakistan menyerukan agar gencatan senjata terus berlanjut sambil menjaga diplomasi tetap hidup.
Menteri Luar Negeri Ishaq Dar menekankan bahwa “sangat penting” bagi kedua belah pihak untuk menepati komitmen mereka pada gencatan senjata, dengan secara implisit memperingatkan risiko konflik baru jika gencatan senjata itu runtuh.
“Kami harap kedua pihak akan melanjutkan dengan semangat positif untuk mencapai perdamaian dan kemakmuran yang berkelanjutan bagi seluruh kawasan dan sekitarnya,” kata Dar.
Pakistan akan terus “memainkan perannya untuk memfasilitasi keterlibatan dan dialog antara” Iran dan AS “di hari-hari mendatang”, tambahnya.
Apa Titik Perselisihan Utamanya?
Program Nuklir Iran
Ini tetap menjadi perselisihan sentral antara Tehran dan Washington.
AS menginginkan komitmen yang jelas dan dapat ditegakkan bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir—atau bahkan kemampuan untuk melakukannya dengan cepat.
Iran secara konsisten menolak tuduhan bahwa mereka berupaya membangun senjata nuklir, namun menyatakan kesediaan untuk merundingkan pembatasan aktivitas nuklirnya jika sanksi dicabut.
Iran menyatakan program nuklirnya untuk tujuan sipil dan tidak ada niat membuat senjata nuklir. Washington dan Tehran menandatangani kesepakatan nuklir pada 2015 di bawah Presiden AS Barack Obama. Perjanjian itu membatasi pengayaan uranium Iran hingga 3,67 persen sebagai imbalan keringanan sanksi. Tetapi Trump, yang menggantikan Obama, menarik Washington dari kesepakatan itu tiga tahun kemudian dan mengenakan kembali sanksi pada Iran. Sejak saat itu, Iran telah mempercepat pengayaan uraniumnya hingga 60 persen. Untuk membuat bom atom, diperlukan pengayaan 90 persen.
Trump secara terbuka telah menyerukan agar uranium yang diperkaya disingkirkan dari Iran.
Selama perang 12 hari Israel terhadap Iran pada Juni lalu, Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke tiga situs nuklir utama Iran. Setelahnya, Trump mengklaim bahwa program nuklir Iran telah dihancurkan. Namun, delapan bulan kemudian, ia justru memulai perang melawan Iran dengan menyatakan salah satu tujuan utamanya adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Perang diluncurkan ketika perundingan yang dimediasi Oman tengah berlangsung antara Iran dan AS. Oman sendiri, sesaat sebelum serangan dimulai, menyatakan bahwa kesepakatan “hampir tercapai”.
**Selat Hormuz**
Persoalan siapa yang mengendalikan jalur air strategis ini—yang dilalui hampir seluruh ekspor minyak dan gas alam dari negara-negara Teluk—telah menjadi titik sentra konflik.
Iran mengusulkan penerapan biaya transit bagi kapal yang melintasi selat tersebut. Sementara itu, AS bersikukuh bahwa selat harus dibuka kembali tanpa pungutan apa pun.
Tertutupnya hampir seluruh pengiriman melalui selat itu telah melambungkan harga energi global. Banyak negara, khususnya di Asia, terpaksa menerapkan langkah penghematan tak terdahulu untuk meredam dampak kelangkaan bahan bakar.
Para ahli menyatakan bahwa hampir tertutupnya selat ini telah menyebabkan guncangan ekonomi terburuk sejak [embargo minyak 1973](https://www.aljazeera.com/news/2026/3/24/how-does-the-current-global-oil-crisis-compare-with-the-1973-oil-embargo). Embargo kala itu menghilangkan 4,5 juta barel per hari dari pasokan global. Kini, penutupan Selat Hormuz memblokade 20 juta barel.
### Memperluas Gencatan Senjata ke Lebanon
Iran mendorong gencatan senjata regional yang lebih luas, termasuk mengakhiri pertempuran yang melibatkan sekutunya seperti Hezbollah di Lebanon.
Meski Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dukungan atas [keputusan](https://www.aljazeera.com/news/2026/4/7/trump-suspends-iran-bombing-for-two-weeks-following-dire-threats) Washington untuk menunda serangan ke Iran, ia menegaskan bahwa gencatan senjata tidak akan berlaku bagi operasi militer Israel yang masih berlangsung di Lebanon.
Hanya dalam beberapa jam setelah gencatan senjata dimulai pada Rabu lalu, Israel melancarkan puluhan serangan di seantero Lebanon, menewaskan lebih dari 300 orang dalam satu hari.
Namun, Tehran bersikeras bahwa gencatan senjata mencakup Lebanon, mengutip pernyataan gencatan senjata Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di X, yang secara tegas menyatakan hal tersebut.
Trump mendukung pernyataan Netanyahu, menyebutnya sebagai “bentrokan terpisah”. Vance pekan ini memperingatkan Iran bahwa akan “konyol” membahayakan gencatan senjata dengan Washington hanya karena serangan Israel di Lebanon.