LSD, Partai Pro-Demokrasi Terakhir di Hong Kong, Bubar Diri karena Tekanan Politik
Didirikan pada 2006, LSD merupakan partai pro-demokrasi terakhir yang menggelar unjuk rasa di tengah pengetatan keamanan nasional.
Liga Demokrat Sosial (LSD), satu-satunya partai pro-demokrasi yang masih aktif di Hong Kong di bawah pemerintahan China, mengumumkan pembubarannya akibat "tekanan politik yang luar biasa".
Keputusan "sulit" yang diumumkan pada Minggu itu secara efektif meninggalkan pusat keuangan ini tanpa kekuatan oposisi yang menggelar protes jalanan setelah diberlakukannya undang-undang keamanan nasional beberapa tahun terakhir.
Dalam pernyataannya, partai kiri yang relatif kecil ini menyatakan telah sampai pada kesimpulan setelah "pertimbangan matang", terutama terkait "dampak" bagi anggotanya.
"Selama 19 tahun ini, kami menghadapi konflik internal dan hampir seluruh pimpinan kami dipenjara, sambil menyaksikan kemunduran masyarakat sipil, suara akar rumput yang meredup, batasan yang semakin ketat, serta penindasan keras terhadap perbedaan pendapat," tambahnya.
Namun, "jalan semakin sempit hingga tak bisa dilalui," ujar LSD, sambil memperingatkan bahwa "medan ke depan lebih berbahaya."
Undang-Undang Keamanan Nasional
China memberlakukan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong pada 2020, menghukum tindakan seperti subversi dengan hukuman penjara seumur hidup setelah gelombang protes pro-demokrasi 2019. Di bawah undang-undang ini, banyak aktivis terkenal diadili atau dipenjara, puluhan kelompok masyarakat sipil dibubarkan, dan media kritis terhadap pemerintah ditutup.
Serangkaian hukum kedua, dikenal sebagai Pasal 23, disahkan pada 2024 oleh legislatif pro-Beijing. Hukum ini menjatuhkan hukuman untuk berbagai tindakan, termasuk pengkhianatan, sabotase, hasutan, pencurian rahasia negara, campur tangan asing, dan spionase, dengan hukuman mulai dari beberapa tahun hingga seumur hidup.
LSD merupakan satu-satunya partai pro-demokrasi yang masih sesekali menggelar protes kecil dan kegiatan kampanye di jalanan meski menghadapi risiko.
Meski tak sepopuler Partai Demokrat dan Partai Sipil yang lebih moderat, LSD pernah memenangkan tiga kursi dalam pemilu legislatif 2008—prestasi terbaiknya.
LSD terkenal dengan taktik lebih agresif dalam memperjuangkan perubahan. Anggotanya pernah melempar pisang, telur, dan daging kaleng ke pejabat atau anggota legislatif pro-Beijing sebagai bentuk protes. Platform partai menyatakan mereka mendukung perlawanan tanpa kekerasan, tetapi tak menghindari konflik fisik—sikap yang membedakan mereka dari kelompok pro-demokrasi tradisional.
‘Tak Ada Pilihan Lain’
Pemimpin partai, Chan Po-ying, tak merinci tekanan yang diterima LSD tetapi mengatakan bangga bahwa partainya tetap berkontribusi pada gerakan pro-demokrasi di kota itu.
"Kami tetap setia pada prinsip awal dan tak mengecewakan kepercayaan mereka yang dipenjara," katanya. "Meski kini terpaksa bubar dan merasa bersalah, kami tak punya pilihan lain."
Pengumuman ini muncul jelang peringatan 28 tahun kembalinya Hong Kong—bekas koloni Inggris—ke bawah kekuasaan China pada Selasa.
Kota ini dulu menjadi saksi protes tahunan pro-demokrasi pada hari bersejarah itu dan demonstrasi menuntut kebijakan yang lebih baik, namun semua berhenti setelah sebagian besar kelompok pembubar dan aktivis dijebloskan ke penjara.
Para kritikus mengatakan perubahan politik drastis di bawah undang-undang keamanan mencerminkan menyusutnya kebebasan di Hong Kong, meski Beijing berjanji mempertahankannya setelah penyerahan 1997. Namun, pemerintah Beijing dan Hong Kong bersikeras langkah-langkah ini diperlukan demi stabilitas, dengan klaim bahwa keamanan dan hak-hak warga seimbang.
Pada April lalu, Partai Demokrat—partai pro-demokrasi terbesar di Hong Kong—juga memutuskan memberikan mandat kepada pimpinannya untuk menuju pembubaran. Voting akhir dijadwalkan pada waktu mendatang.