Bismillah Khan baru saja pulang ke kampung halamannya di perbatasan Provinsi Paktia, Afghanistan, awal bulan ini. Dia bermimpi untuk menghabiskan sisa hidupnya di rumah yang dia bangun sendiri dengan hasil jerih payah selama 12 tahun bekerja di Teluk.
Laki-laki berusia sekitar 50 tahun itu telah menginvestasikan semua uang yang dikumpulkannya di luar negeri untuk membangun rumah dua lantai buat anak dan cucunya. Namun mimpi itu sirna dalam sekejap, saat dia terbangun dari tidurnya sebelum subuh pada hari Senin. Yang dia dengar adalah suara ledakan besar yang menggetarkan desa Mandikhil di distrik Chamkani.
Rumah Khan adalah satu dari puluhan rumah warga yang dihantam dalam serangan udara Pakistan, kata Afghanistan. Serangan itu terjadi di provinsi Paktika, Paktia, dan Kunar, yang semuanya berada di perbatasan yang disengketakan antara kedua negara. Pemerintah Afghanistan mengatakan serangan itu setidaknya menewaskan 36 warga sipil dan melukai 163 orang lainnya. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Pakistan sendiri mengklaim pasukannya melakukan "serangan presisi" terhadap tempat persembunyian kelompok bersenjata di tiga provinsi Afghanistan tersebut. Mereka mengatakan operasi udara dan darat telah menewaskan 29 pejuang.
Berdiri di tengah-tengah tumpukan batu dan lumpur yang baru beberapa saat lalu merupakan rumahnya, Khan berusaha keras memahami apa yang telah terjadi.
“Di dalam rumah itu cuma ada perempuan dan anak-anak,” katanya dengan suara bergetar—istri dan anak perempuannya tewas dalam serangan itu, sementara sekitar sepuluh kerabat lainnya terluka.
“Saya tidak mengerti kenapa rumah kami dijadikan sasaran.”
Tapi rasa sakitnya tidak berhenti di situ. Beberapa jam setelah serangan pertama, ketika orang-orang masih mencari korban di antara reruntuhan dan melarikan yang terluka ke fasilitas medis terdekat, serangan udara kembali terjadi. Warga mengatakan rudal-rudal mendarat di dekat kelompok-kelompok yang sedang dalam misi penyelamatan, dan menyebabkan lebih banyak korban lagi.
Marzia Khan Wali,seorang warga, menggambarkan saat dia bersama yang lain lagi terlibat dalam misi pertolongan. "Kami sedang mencari anak-anak dan perempuan yang tertimbun reruntuhan," katanya. "Kami sedang membawa korban selamat ke kendaraan untuk ke rumah sakit, lalu kami dengar pesawat lagi. Baru beberapa detik, mereka yang tadi berusaha menyelamatkan nyawa jadi korban juga."
¶Di desa Jilan, provinsi Paktika, seorang ibu lima anak bernama Zarmina duduk di samping puing-puing rumahnya yang hancur. Suami dan anak perempuannya yang masih kecil tewas dalam serangan itu. “Kami sedang tidur ketika bom berjatuhan,” katanya sambil memegang selimut dari antara sisa reruntuhan. “Tidak ada peringatan. waktu aku[buka mata], semua[ sudah]hilang.” “Kami ^~tidak tahu apa-apa politik atau grup bersenjatasementara keluarga datang mengungsi —— – Ini m[…Kami hanya ….. (lan tapi maks-["]( *