Laporan: Penanganan Emisi Bisa Kurangi Dampak Krisis Iran terhadap Pasokan Energi Global
Dipublikasikan pada 4 Mei 20264 Mei 2026
Menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA), penanganan emisi metana di sektor bahan bakar fosil dapat membantu upaya mengerem perubahan iklim dan meningkatkan keamanan energi, terutama di tengah krisis Iran yang mengancam pasokan global.
Cetak biru Global Methane Tracker 2026 yang dirilis IEA pada Senin lalu mencatat bahwa industri minyak, gas, dan batu bara menyumbang sekitar 35 persen dari total emisi metana akibat aktivitas manusia. Namun, laporan tersebut menegaskan, hanya sedikit kemajuan dalam upaya pengurangannya.
Berita Rekomendasi
[daftar 4 item]
"Ia masih belum ada tanda-tanda bahwa emisi metana dari operasi bahan bakar fosil mengalami penurunan, padahal jalur mitigasi yang telah teruji dan terkenal sudah ada," ujar pernyataan IEA.
Metana, penyumbang kedua terbesar perubahan iklim, bertahan di atmosfer jauh lebih singkat dibandingkan karbon dioksida, namun efek pemanasannya sekitar 80 kali lebih kuat dalam kurun waktu 20 tahun.
IEA memperkirakan emisi rekor dari minyak, gas, dan batu bara mencapai total 124 juta ton per tahun. Minyak menjadi sumber terbesar dengan 45 juta ton, diikuti batu bara 43 juta ton, dan gas alam 36 juta ton.
"Sebanyak tambahan 20 juta ton bersumber dari produksi dan konsumsi bioenergi, mayoritas dari pembakaran tradisional yang tidak sempurna untuk memasak dan pemanas di negara berkembang," imbuh laporan itu.
Harga minyak melonjak sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari, yang direspons Teheran dengan menutup Selat Hormuz. Gencatan senjata pada April lalu kini masih berlaku, tapi pasokan energi global masih terbatas.
Krisis yang sedang berlangsung ini membentuk ulang sistem energi global dan mengganggu sekitar 20 persen arus perdagangan gas alam cair (LNG) internasional.
IEA menyebut, hampir 100 miliar meter kubik gas alam dapat tersedia setiap tahun lewat upaya global pemotongan emisi metana dari operasi minyak dan gas, dan diperkirakan hampir 15 miliar meter kubik bisa tersedia dalam waktu singkat untuk meredakan pasar gas.
Lebih lanjut, 100 miliar meter kubik gas lainnya dapat terbebaskan dari penghapusan pembakaran (flaring) non-darurat di seluruh dunia.
Inisiatif Paris
Prancis, dalam perannya sebagai ketua bergilir Kelompok Tujuh (G7) negara maju, mengumpulkan pejabat pemerintah, pemimpin industri, dan pakar pada Senin lalu untuk membangun momentum mengurangi emisi metana.
Konferensi tersebut bertujuan menekan emisi metana menjelang KTT COP31 PBB pada November nanti.
"Saya sangat berharap diskusi yang akan kita lakukan hari ini dapat menyatukan kekuatan kita untuk mempercepat penerapan solusi efektif mengurangi emisi metana," ujar Menteri Transisi Ekologis Prancis, Monique Barbut, dalam pidatonya.
"Tentu saja, aksi terhadap metana bukanlah pertarungan satu aktor pun, dan tak seorang pun bisa menang sendirian," imbuhnya, seraya mencatat dunia masih "sangat jauh" dari memenuhi janji mengurangi emisi metana sebesar 30 persen pada 2030 jika dibandingkan level 2020.
"REduksi emisi metana tetap menjadi salah satu langkah terbaik yang bisa kita lakukan guna memperlambat pemanasan global sekaligus membersihkan udara, meningkatkan kesehatan publik, dan menambah keamanaan energi kita," jelas Menteri Keamanan Energi Inggris, Ed Miliband, dalam pesan video.