Pemerintah di Havana mengklaim bahwa kesepuluh orang di atas kapal cepat tersebut telah merencanakan aksi teror di Kuba.
Dengarkan artikel ini | 2 menit
**Dipublikasikan pada 7 Mar 2026**
Pemerintah Kuba mengumumkan satu orang kelima tewas sebagai akibat dari baku tembak mematikan bulan lalu yang melibatkan kapal cepat bermerek Florida yang diduga menembaki prajurit di lepas pantai utara negara kepulauan tersebut.
Kementerian Dalam Negeri pulau itu menyatakan dalam rilis pada Kamis malam bahwa Roberto Alvarez Avila meninggal pada 4 Maret akibat lukanya.
Pernyataan itu menambahkan bahwa para tahanan yang terluka lainnya “terus menerima perawatan medis spesialis sesuai dengan kondisi kesehatan mereka.”
Pada 26 Februari, otoritas Kuba menyebutkan prajurit mereka menghadapi kapal cepat yang membawa 10 orang saat mendekati pulau dan menembaki pasukan. Mereka menyatakan penumpangnya adalah warga Kuba bersenjata yang tinggal di Amerika Serikat dan berupaya menyusup ke pulau untuk “melancarkan aksi teror.” Kuba menyatakan pasukannya menewaskan empat orang dan melukai enam lainnya.
“Pernyataan dari para tahanan sendiri, bersama serangkaian prosedur investigasi, memperkuat bukti terhadap mereka,” ungkap Kementerian Dalam Negeri Kuba. Mereka juga menyebutkan “unsur-unsur baru sedang diperoleh yang menetapkan keterlibatan individu lain yang berdomisili di AS.”
Awal pekan ini, Kuba menyatakan telah menjerat enam tersangka dari kapal cepat tersebut dengan dakwaan terorisme. Pemerintah juga memamerkan barang-barang yang diklaim ditemukan di kapal, termasuk selusin senjata api berdaya tinggi, lebih dari 12.800 butir amunisi, serta 11 pistol.
Otoritas Kuba memberikan sedikit detail tentang penembakan tersebut, namun menyebut kapal berada sekitar 1,6 kilometer di timur laut Cayo Falcones. Mereka memberikan nomor registrasi kapal, namun The Associated Press tidak dapat segera memverifikasi rinciannya karena registrasi kapal di Florida tidak bersifat publik.
Insiden ini berpotensi meningkatkan ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan otoritas Kuba. Perekonomian pulau itu, hingga belum lama ini, sebagian besar ditopang oleh minyak Venezuela—sebuah situasi yang kini diragukan setelah operasi militer AS menculik dan menggulingkan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.