Kuba kembali mengalami pemadaman listrik nasional untuk ketiga kalinya sejak awal tahun. Hal ini terjadi karena cadangan bahan bakar menipis dan jaringan listrik mulai tidak berfungsi akibat krisis energi yang dipicu oleh blokade bahan bakar dari Amerika Serikat.
Pemadaman di negara berpenduduk hampir 10 juta jiwa itu dilaporkan oleh Perusahaan Listrik Milik Negara pada hari Senin. Mereka mengatakan penyebabnya masih dalam penyelidikan.
Menteri Energi dan Pertambangan Kuba, Vicente de la O Levy, mengatakan protokol telah diaktifkan dengan cepat untuk memulihkan pasokan listrik. Ia menegaskan layanan penting tetap dilindungi di tengah situasi rumit yang diperparah oleh blokade energi.
Pengelola jaringan listrik, UNE, mengatakan mereka memasok listrik untuk beberapa layanan penting seperti rumah sakit dan pusat produksi makanan. Namun, hingga sore hari, mereka hanya bisa memenuhi 1 persen kebutuhan listrik ibu kota Havana.
Sebelumnya, akses terhadap bahan bakar di Kuba sudah sulit. Kondisi ini bertambah buruk setelah Presiden AS Donald Trump menghentikan pasokan minyak dari Venezuela pada Januari. Tindakan Trump, termasuk ancaman tarif terhadap negara mana pun yang menjual atau memberikan minyak ke Kuba, memperparah krisis ekonomi di pulau itu. Akibatnya, pemadaman dan pemotongan listrik semakin sering terjadi.
Sejak Januari, Washington hanya mengizinkan satu kapal tanker minyak dari Rusia untuk menyeberangi blokade dan merapat di Kuba. Kapal itu bagian dari kampanye sanksi yang bertujuan mengakhiri pemerintahan komunis yang telah enam dekade berkuasa.
Trump menyebut penculikan Presiden sosialis Venezuela oleh AS pada Januari serta pergantiannya dengan tokoh yang bisa ditekan untuk bekerja sama, sebagai cetak biru untuk Kuba.
Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, menuduh AS berusaha memicu kerusuhan dengan cara mencekik pasokan bahan bakar Kuba. Ia menulis di media sosial bahwa aksi para pekerja listrik di tengah blokade genosida itu adalah aksi heroik.
Pemadaman kali ini adalah pemadaman kedelapan di pulau berpenduduk 9,6 juta orang sejak akhir 2024. Pemadaman menyusul pemotongan listrik negara yang selama 30 jam di beberapa inti kota Havana, dan bahkan lebih dari 70 jam di sejumlah pedesaan, sebagai upaya putus asa untuk menghemat bahan bakar.
“Hidup seperti ini adalah siksaan,” ungkap Meyboll Font, manajer komunitas media sosial wiraswasta berusia 51 tahun kepada AFP. Font bercerita lingkungannya di Havana hanya memiliki pasokan listrik “tiga atau empat jam sehari”, namun pemadaman total lebih menyusahkan “karena kamu tidak pernah tahu kapan listrik akan kembali”.