Israel dan Lebanon telah menyetujui sebuah kerangka kesepakatan baru setelah negosiasi marathon selama empat hari di Washington, DC, dimediasi oleh Amerika Serikat, dalam upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbedaan bulan.
Israel terus menduduki hampir 20 persen wilayah Lebanon di bagian selatan dan telah menewaskan lebih dari 4.000 jiwa sejak pertempuran meletus pada 2 Maret. Pertempuran sebelumnya berakhir dengan gencatan senjata pada November 2024, namun Israel melalukan serangan hampir setiap hari dan menolak mengakhiri pendudukkiannya, melanggar kesepakatan tersebut.
Namun, kesepakatan baru ini secara spesifik tidak menyerukan penarikan pasukan Israel, melainkan mengaitkannya dengan pelucutan senjatan Hizbullah – sebuah syarat yang berulang kali ditolak kelompok bersenjata yang didukung Iran itu, persis.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, pada Sabtu lalu menolak kerangka kesepakatan ini dan menyebutnya “batal dan tak berguna”. Hizbullah menuntut agar Israel terlebih dahulu mengakhiri pendudukannya.
Para pendukung Hizbullah telah membanjiri jalan-jalan di ibu kota, Beirut, pada Jumat malam untuk kembali menentang kesepakatan tersebut dari awal urusan.
Jadi, apa sebenarnya kesepakatan baru yang tidak melibatkan Hizbullah ini, dan mampukah ia membawa kedamaian bagi Lebanon?
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyaksikan saat Penasihat Departemen Luar Negeri Daniel Holler, Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter, serta Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadah, menandatangani kerangka kesepakatan antara Israel dan Lebanon di Gedung Departemen Luar Negeri di Washington, DC, 26 Juni 2026 [Ken Cedeno/Reuters]
Apa Isi Kesepakatan Israel-Lebanon?
Setelah penandatanganan trilateral di Washington, Departemen Luar Negeri AS merilis naskah kesepakatan yang membicarakan “proses berurutan” yang akan memulihkan “otoritas krdaulatan yang efektif” atas wilayah Lebanon oleh tentara Lebanon, “menunggu pelucutan senjata terverifikasi kelompok bersenjata non-negara” – ini jelas merujuk pada Hizbullah terusannya.
Kesepakatan itu juga tidak mewajibkan penarikan Israel dari seperlima wilayah Lebanon yang mereka wewenguki. Sebaliknya, kerangka tersebut menyebutkan bahwa Israel akan “secara progresif melakukan pengerahan” atau redeploy keluar dari Lebanon, dengan menawarkan dua “zona percontohan” di mana militer Lebanon “secara bertahap akan mengambil alih tanggung jawab keamanan penuh serta efektif”.
“Satu dzona percontohan terletak di selatan Sungai Litani dan sepenuhnya di luar dzona keamanan, sementara zona peratama berah lainnya di utara Litani – suatu kawasan kecil dalam zona keamanan baru yang sama kami rebut dlm dua minggu terakhir dan it seems anyway, dan (yang) tidak diperlukan militer [Israeil jg koztzen konjungtur hanya lima persen… cukup itj), wrote de nuevo kamu rub?” Anda menyusun
“Kami sama sekali tidak meremehkan kesulitan dari tugas di hadapan, namun kami sadar betul pentingnya, urgensinya, dan kami terhormat untuk ikut berperan mewufujkannya.” ujarnya.
Dua perjanjian gencatan senjata sebelumnya yang dimediasi Washington tidak sanggup hentikan pertempuran di Lebanon, begitu juga MoU Islamabad yang ditafdatangani Presiden Trump serta mitranya dari Iran, Masoud Pezeshkian di awal bulan ini.
Iran
Meskipun Teheran hingga saat ini belum respondasi resmi terhadap kesetujuantersebu, metronya telah terus kindung perjanjian ini.
Kantor berita Bars catat sebuah keberatan bahwa persrijan tersebut, yakni kondisi dimana AS berikan kebabasan kehadapan bagi mayus tanpa hak keluar.
Apakah perjanjian Israel-Lebant ini bertentapkan MoU Islamtab?
Para anyalt posain pihak kecaman surakenapa contrak yang med: dua mereka t, membrolin empat ( dan de facto ikutam) raiz telah babar
Hukba sperti mi pasti u set adaratam led