Yoane Wissa mengukir sejarah bagi Republik Demokratis Kongo (RDR Kongo) saat ia mencetak gol pertama timnya di Piala Dunia dalam pertandingan babak grup melawan Portugal, salah satu favorit turnamen, di Houston, ketika ia memanfaatkan sepak pojok lima menit memasuki babak kedua pada laga Rabu—sebuah sundulan yang menjebol gawang dan menorehkan tinta emas bagi kepulangan RDR Kongo ke perhelatan akbar setelah 52 tahun.
Gol tersebut menjadi penyama kedudukan setelah Joao Neves membawa Portugal unggul di menit keenam, menggiring suporter mereka—yang menyulap Stadion Houston di Amerika Serikat menjadi lautan merah—ke dalam euforia yang liar. Namun, gol Wissa pun dirayakan di tribun dan di sepanjang belahan dunia; para pengguna media sosial membagikan video tentang guyuran bahagia suporter Portugal dan Kongo di momen bersejarah yang lahir dari salah satu wajah paling terang Afrika ini.
Cerita yang Direkomendasikan
daftar 4 itemakhir daftar
Lima tahun silam, mungkin Wissa tak pernah memimpikan detik ini. Ia tengah pulih dari serangan asam yang membuatnya babak belur dan perlu menjalani operasi mata darurat setelah menderita luka bakar kimiawi yang parah. Pada 1 Juli 2021, ia membuka pintu rumahnya di depan seorang perempuan yang hendak menculik putrinya dan justru menyiram wajahnya dengan asam cair. Pelaku juga menyerang perempuan lain dengan cairan serupa keesokan harinya dan teridentifikasi pada 3 Juli. Ia dijatuhi hukuman 18 tahun penjara pada Januari 2025 setelah nyaris menghadapi vonis seumur hidup.
Butuh waktu enam bulan bagi Wissa untuk pulih dari serangan itu—sebuah peristiwa yang mengguncangnya tetapi tidak mematahkan tekadnya untuk terus melaju dalam kariernya, bahkan saat ia bermain di sepak bola profesional Perancis bersama FC Lorient. “Meski terguncang secara fisik dan mental, Yoane langsung menunjukkan determinasinya untuk sukses,” ujar Manajer Lorient, Christophe Pelissier, yang menjenguknya di rumah sakit delapan belas jam setelah kejadian, kepada BBC tahun lalu. “Yang membuat saya terkesan adalah kemauannya yang begitu keras dan caranya yang tak pernah menyerah.”
Pierre-Yves Hamel, satu tim dengan Wissa di Lorient, memuji pula. “Setelah peristiwa itu, ia tak pernah mengeluh,” kata Hamel pada BBC. “Ia langsung berhasrat melangkah maju, dan menemukan kemenangan hari ini adalah ganjaran tepat untuk jerih payahnya. Sekali Yoane mencengkeram sebuah gagasan di benak, dia akan melakukan segalanya untuk meraihnya, entah berapa lama pun waktu harus dihabiskan.”
Ucapan itu menuai makna jauhh lebih mendalam kini, begitu Wissa menjelma sebagai persona terpenting negerinya dalam pentas Piala Dunia—di mana Kongo menahan imbang Portugal 1-1 di Houston. Adapun, gol Neves mempertautkan bebannya sendiri dengan rasa getir: para pemain Portugal membawa kenangan almarhum rekan setim mereka, Diogo Jota, menghiasi turnamen ini. Jota, yang tewas dalam kecelakaan mobil bersama adiknya musim panas lalu dihormati di layar,layar stadion seusai laga pembuka Grup K—tatkala orangtuanya turut hadir; tim pun memakai gelang bertuliskan namanya.
Trauma seumur hidup, sulit tidur
Wissa memberikan pengaduan penuh perasaan di hadapan peradilan tempat Laetitia P, pelaku (36 tahun) diadili di Perancis. Ia mengulang bagaimana senyawa cair itu mengenai wajahnya, bagaimana istrinya menelepon ambulans yang lantas memandunya langsung untuk berenduh di dalam bilik mandi dengan mata dibasuh.** “Di rumah sakit,” ingatnya—jantungku baru tenang sewaktu Aku Tau janin,c mereka berkata lensaku terbakar—‘Seseorang harus selalu datang untuk mencernanya (mataku)t setiap jam; sebuah peristiwa durjana bencana ….—” ,ia berujar di dengar-dengartan sidang menurut ESPN UK.