Dengarkan artikel ini | 6 menit
Perkenalkan, saya Krishna Nandi. Seorang Hindu, seorang pengusaha, dan juga calon anggota parlemen dari Bangladesh Jamaat-e-Islami.
Bagi banyak pembaca, kombinasi ini tampak tak biasa. Bagi saya, ini merefleksikan kebenaran yang lebih mendalam tentang politik di Bangladesh yang lama terselubung oleh ketakutan, disinformasi, dan kepentingan politik sesaat.
Pencalonan saya memicu debat nasional karena menggugat asumsi lama bahwa partai politik Islam tidak dapat mewakili kaum minoritas agama secara genuin. Saya menyambut debat ini. Kandidatur saya ada justru untuk menghadapi asumsi tersebut secara langsung dan terbuka.
Saya ingin menyatakan dengan jelas apa yang telah berulang kali saya sampaikan kepada masyarakat di daerah pemilihan saya. Jika Jamaat-e-Islami berkuasa, tidak ada satu pun umat Hindu yang harus meninggalkan Bangladesh. Tidak ada paksaan untuk pergi ke India. Sebaliknya, umat Hindu akan hidup di negeri ini dengan martabat, keamanan, dan rasa hormat. Ketika saya mengatakan umat Hindu akan diperlakukan dengan terhormat, ini bukan sekadar retorika simbolis. Saya berbicara tentang jaminan konkret: keamanan, keadilan, dan kesetaraan kewarganegaraan di bawah hukum.
Selama beberapa dekade, rasa takut sengaja ditanamkan dalam pikiran komunitas minoritas. Umat Hindu diberitahu bahwa politik Islam identik dengan penganiayaan terhadap mereka. Narasi ini secara politik menguntungkan bagi sebagian pihak, namun sangat merusak bagi persatuan nasional. Pencalonan saya sendiri merupakan kontradiksi hidup dari klaim tersebut, dan telah mengembalikan kepercayaan banyak orang yang sebelumnya putus asa terhadap politik.
Saya bergabung dengan Jamaat-e-Islami pada 2003, bukan karena kemudahan, tetapi karena keyakinan. Saya menemukan kedisiplinan, akuntabilitas, dan kejelasan moral di dalam partai. Jamaat tidak membeli suara dengan uang. Jamaat tidak bergantung pada intimidasi, pemerasan, ataupun kekerasan.
Ini bukan klaim retoris belaka. Ini adalah prinsip yang ditegakkan secara internal. Itulah sebabnya banyak warga biasa, termasuk dari kalangan minoritas, kini menilai ulang pilihan politik mereka.
Masyarakat mulai kehilangan kepercayaan pada partai-partai politik tradisional. Termasuk partai-partai yang dahulu berbicara tentang demokrasi, namun lambat laun menormalisasi korupsi, kekerasan, dan impunitas. Warga tidak sekadar memilih ‘melawan’ sesuatu. Mereka mencari alternatif yang serius dalam menegakkan keadilan, tata kelola pemerintahan, dan tanggung jawab moral.
Jamaat semakin dipandang sebagai alternatif tersebut. Di daerah pemilihan saya, Khulna-1, masyarakat telah menderita bertahun-tahun akibat pemerasan, kekerasan politik, dan ketakutan. Umat Hindu, khususnya, menghadapi serangan terarah, diskriminasi, dan marginalisasi ekonomi. Banyak yang kehilangan pekerjaan secara tidak adil. Keluarga-keluarga hidup di bawah tekanan konstan.
Saya telah tegaskan bahwa ketidakadilan ini tidak akan diabaikan. Mereka yang diberhentikan secara tidak fair akan memperoleh keadilan melalui prosedur hukum. Kekerasan dan intimidasi terhadap komunitas manapun tidak akan ditoleransi.
Saya tidak percaya pada politik yang berbasis calo. Saya tidak beroperasi melalui perantara. Nomor telepon saya ada pada masyarakat, dan akan tetap demikian. Perwakilan rakyat harus langsung, dapat dipertanggungjawabkan, dan berkesinambungan — bukan sesuatu yang dihidupkan hanya pada musim pemilu.
Ada upaya-upaya untuk mengintimidasi saya. Struktur kekuasaan lokal, termasuk oknum-oknum yang terkait dengan partai mapan, telah mencoba memberikan tekanan. Tanggapan saya tegas. Saya tidak bisa dibungkam dan tidak bisa disingkirkan. Ketakutan telah mendominasi politik kita terlalu lama. Jika kita menyerah padanya, tidak akan ada perubahan.
Isu lain yang membutuhkan kejujuran adalah sejarah. Saya tidak menyangkal bahwa minoritas di Bangladesh pernah menderita pada momen-momen tertentu di bawah pemerintahan yang berbeda. Penderitaan itu tidak bisa dihapus oleh retorika. Yang penting adalah apakah sebuah gerakan politik bersedia menghadapi ketidakadilan, bukan menyangkalnya.
Keberadaan saya di dalam Jamaat-e-Islami bukan upaya menulis ulang sejarah, melainkan untuk membentuk masa depan. Banyak yang bertanya, apakah Jamaat hanya untuk Muslim? Jawaban saya lugas. Jamaat adalah partai Islam dalam nilai, tetapi partai nasional dalam tanggung jawab. Keadilan, akuntabilitas, dan martabat kemanusiaan bukan milik eksklusif satu agama tertentu.
Selama pergolakan Juli 2024 di Bangladesh, wajar jika banyak dari kalangan komunitas agama minoritas merasa tidak aman. Namun, justru anggota dari organisasi seperti Jamaat-e-Islami yang memberikan perlindungan serta mengamankan kuil dan tempat ibadah kami.
Negara yang diatur oleh keadilan melindungi minoritas lebih baik daripada negara yang diatur oleh slogan. Ketika keluarga jatuh miskin, jaringan amal yang terkait Jamaat turun tangan tanpa bertanya tentang agama atau loyalitas politik. Budaya pelayanan inilah yang menjelaskan mengapa banyak warga melihat Jamaat bukan sebagai partai slogan, melainkan partai dengan disiplin, struktur, dan tanggung jawab.
Bagi pengamat internasional, saya ingin sama jelasnya. Pemilu ini bukan tentang mengimpor ideologi atau mengekspor ketakutan. Ini tentang memulihkan kepercayaan antara warga negara dan negara.
Bangladesh adalah masyarakat plural secara realita, bukan karena belas kasihan. Kekuatan politik apa pun yang mengabaikan fakta itu tidak dapat memerintah secara berkelanjutan. Kandidatur saya bukan hanya tentang memenangkan kursi, tetapi juga tentang membuka percakapan politik baru di Bangladesh. Sebuah percakapan yang melampaui ketakutan, melampaui kecurigaan komunal, dan melampaui pemikiran bahwa identitas harus memecah belah kita.
Saya berdiri sebagai calon Hindu, bukan *meskipun* dari Jamaat-e-Islami, tetapi karena saya yakin prinsip-prinsipnya dapat membantu membangun Bangladesh yang lebih aman dan adil bagi semua. Negara ini adalah milik kita bersama.
Pandangan dalam artikel ini adalah pendapat penulis sendiri dan tidak necessarily mencerminkan kebijakan editorial Al Jazeera.