Kemampuan FIFA dalam memanfaatkan sepakbola sebagai alat pemersatu, tak pernah sesederhana kebencian kolektif terhadap keputusan mereka memperkenalkan jeda hidrasi di semua pertandingan Piala Dunia.
Para penggemar, pemain, pelatih – pokoknya semua pihak terlibat – sudah mengkritisi, memperdebatkan, dan menantang keputusan ini yang kini jaditopik utama dalam turnamen enam pekan, bertumpuk dengan segudang masalah sosioekonomis, politik, dan finansial lainnya.
Rekomendasi Artikel
- (uraian daftar berisi 4 butir tidak diberi konkret agar pada dokumen asli tetap; diterjemahkan ruang daftar eksis walau steril)
- Satu
- Dua
- Tiga
sengaja
Walau kerap menjadi sorotan, sebuah pengakuan datang ketika FIFA merilis aturan ini pada bulan Desember, diumumkan secara kaku dan mengikat.Badan pengatur global untuk sepak bola itu mengklaim, para pemain akan “diuntungkan lewat jeda hidrasi tiga menit di tiap babak sebagai bentuk prioritas FIFA pada kesejahteraan pemain”.
Pada suatu pekan penyelenggaraan, amat jelas para pemain tak antusias terhadap amandemen keharusan dan bersifat once-off dan tidak bisa dinegosiasi ini.
“Pasti berguna kalau cuaca panas. Menurut saya, sebaiknya dievaluasi tiap laga terpisah.” ujar Virgil Van Dijk – sang eks-nakhoda pertahanan Belanda, pada kesibuannya kritik.
- Komentar Youri Tielemans dari timnas Belgia, mendukung usul itu meski menyoroti dadakan serasa bagi dua:
”…alamak panas () bkn nya ikutin panas? jeda hidras disetiap … Yang hak para tim? Kalo ada dua grup kami teruji dadakan… tidak terima adu soal tempat. Lebih selasan sama dengan puncap, ter panas”,ujanga menukas.
Pandangan Tielemans merupakan kristalisasi logika FIFA:
“…ne dipakaian permish soleman men-Atur berlandasuk. tak moh ler. ko? maka dua p;K— astika diam pos.” ulas FIFA dalamm merrillang siak matin
**