Teheran, Iran – Pemerintah Iran telah memberikan sinyal kesiapan untuk mempertahankan negara mereka seiring ancaman serangan militer Amerika Serikat yang terus bergulir, di tengah upaya-upaya diplomasi regional untuk mencegah konflik baru.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, akan mengadakan pembicaraan tingkat tinggi di Turki pada Jumat mendatang, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei.
Rekomendasi Cerita
Daftar 3 item
Akhir daftar
Baghaei menambahkan bahwa Teheran berupaya untuk “terus memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga berdasarkan kepentingan bersama”.
Kunjungan ini terjadi di tengah maraknya pembicaraan tingkat tinggi, saat para pemimpin regional berharap dapat meyakinkan AS untuk tidak menyerang, serta mengupayakan kompromi antara kedua belah pihak.
Namun “armada” AS – sebagaimana disebit Presiden Donald Trump pada Rabu – terus berposisi di dekat perairan Iran, dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln.
Dan di Iran, para pejabat tinggi politik, militer, dan yudikatif terus menyampaikan pesan penentangan, mengindikasikan bahwa fokus Iran adalah pada pertahanan, bukan perundingan.
“Prioritas Teheran saat ini bukanlah bernegosiasi dengan AS, tetapi memiliki kesiapan 200 persen untuk mempertahankan negara kita,” ujar Kazem Gharibabadi, anggota senior tim negosiasi Iran, seperti dikutip media pemerintah pada Rabu.
Gharibabadi menyatakan bahwa pesan-pesan telah dipertukarkan dengan AS melalui perantara belakangan ini. Namun ia menegaskan bahwa bahkan jika kondisi memungkinkan untuk dialog, Iran akan tetap siaga penuh untuk bertahan, mengingat negara itu sebelumnya diserang – pertama oleh Israel lalu AS – pada Juni lalu, tepat ketika negosiasi hendak dimulai.
Kesiapan Angkatan Darat
Iran telah menekankan kekuatan militernya dalam beberapa hari terakhir, menyusul serangkaian latihan militer yang digelar sejak perang 12 hari di Juni lalu, saat sejumlah pejabat militer seniornya tewas dan situs-situs nuklir diserang.
Angkatan Darat Iran mengumumkan pada Kamis bahwa 1.000 drone “strategis” baru telah bergabung dengan pasukannya. Menurut AD, drone tersebut mencakup drone kamikaze satu arah, serta pesawat tempur, pengintai, dan pesawat berkemampuan perang siber yang dapat menghantam target tetap atau bergerak di darat, udara, dan laut.
“Sesuai dengan ancaman yang kita hadapi, agenda angkatan darat mencakup mempertahankan dan meningkatkan keunggulan strategis untuk pertempuran cepat dan respons tegas atas segala agresi,” kata komandan angkatan darat Amir Hamati dalam pernyataan singkat.
Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) juga sebelumnya telah menegaskan kemampuannya untuk bertahan dari serangan dan terus meluncurkan misil balistik dan krus ke Israel, serta aset-aset AS di seluruh kawasan jika diperlukan.
‘Rakyat Kami yang Akan Mati’
Di Teheran dan seluruh penjuru negeri, rakyat Iran telah mengikuti retorika Trump yang kerap kontradiktif – memperbarui ancaman sembari menyatakan kesediaannya untuk berbicara.
Pendukung paling fanatik Republik Islam tampak teguh mendukung pemerintah, sekalipun Washington menyatakan bahwa negara Iran berada dalam titik terlemahnya sejak berkuasa hampir setengah abad lalu, menyusul protes yang mengguncang negara itu bulan ini dan menewaskan ribuan orang.
“Amerika tidak bisa berbuat apa-apa,” kata seorang perempuan muda kepada Al Jazeera di Teheran, mengulang frasa yang kerap diucapkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan para pejabat tinggi lainnya.
“Bahkan jika, na’udzubillah, mereka meluncurkan semacam misil ke arah kita, Republik Islam-lah yang akan memberikan respons tegas dan meratakan pangkalan mereka,” ujarnya.
Tapi sementara pemerintah dan pendukungnya tetap berfokus pada seberapa besar kerusakan yang mungkin dapat dibuat Iran terhadap Israel dan AS jika diserang, banyak warga Iran yang khawatir akan makna konflik kedua dalam kurun setahun bagi mereka.
“Saya pikir perang lagi akan sangat mengerikan bagi kedua negara [Iran dan Israel], dan rakyat negeri kitalah yang akan mati karenanya,” kata perempuan muda lain, seorang mahasiswi, dari Teheran pada Kamis.
“Jika perang pecah, kita akan menghadapi kehancuran dan kerusakan. Saya harap ini tidak terjadi,” ujar seorang pria berusia 50-an. Semua narasumber yang diwawancarai meminta untuk tidak disebutkan namanya demi alasan keamanan.
Kesiapsiagaan
Pemerintah telah bekerja untuk meningkatkan kesiapsiagaan sipil jika perang terjadi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mendelegasikan beberapa kewenangan kepada gubernur provinsi perbatasan Iran, mengizinkan mereka mengimpor barang-barang esensial, terutama makanan, dalam keadaan perang.
Perhatian juga tertuju pada mendesaknya kebutuhan akan tempat perlindungan umum untuk melindungi warga Iran selama serangan udara.
Alireza Zakani, anggota parlemen garis keras yang kini menjadi Wali Kota Teheran, mengatakan dalam pernyataan pada Kamis bahwa pemerintah kota akan membangun “tempat parkir bawah tanah yang juga berfungsi sebagai shelter” sebagai “proyek prioritas”.
Tapi Zakani menambahkan bahwa proyek itu hanya akan selesai “dalam beberapa tahun mendatang”, yang berarti warga Iran sekali lagi akan memiliki sedikit lokasi untuk melindungi diri selama serangan bom jika konflik benar-benar pecah dalam waktu dekat.
Konflik baru juga kemungkinan besar berarti kembalinya pemadaman komunikasi, skenario yang terjadi selama perang Juni dan selama protes paling baru.
Akses internet dan seluler seluruhnya diputus oleh negara di seluruh Iran pada malam 8 Januari, di puncak protes nasional, dalam salah satu bab paling berdarah di Republik Islam sejak revolusi 1979.
Setelah memberlakukan pemadaman total selama hampir tiga pekan yang memengaruhi lebih dari 90 juta orang – salah satu yang terpanjang dan terluas dalam sejarahnya – pemerintah Iran telah memulihkan sebagian bandwidth internet dalam beberapa hari terakhir, tetapi komunikasi bagi kebanyakan orang tetap terputus atau sangat terganggu.
Tapi mereka yang berhasil daring kini melihat gambar-gambar pertumpahan darah beberapa pekan terakhir dan cemas akan potensi lebih banyak lagi jika pertempuran benar-benar terjadi.
“Saya takut sebentar lagi kita akan terbangun lagi oleh suara ledakan keras di malam hari karena perang,” kata seorang perempuan muda di Teheran, seraya menambahkan bahwa ia telah dibanjiri gambar dan video memilukan para demonstran yang tewas di seluruh negeri. “Tapi bahkan tanpa perang sekalipun, kematian sudah ada di sekeliling kita.”
Dalam mendalami suatu bidang, kerangka konseptual yang kokoh amatlah vital. Ia berperan sebagai fondasi yang memandu analisis sekaligus menjembatani pemahaman antar beragam perspektif. Tanpanya, diskusi cenderung kehilangan fokus dan menjadi terlalu subjektif.