Iran Sebut Tuntutan AS dalam Negosiasi Akhiri Perang Tidak Masuk Akal

Perwakilan Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahawa proposal yang diajukan Teheran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz adalah sebuah tawaran yang murah hati.

Seorang jurubicara Kementerian Luar Negeri Iran pada hari Senin menuding Amerika Serikat telah mengajukan tuntutan yang “tidak masuk akal” dan “sepihak” dalam negosiasi yang bertujuan menghentikan perang, ketika kedua pihak masih bertahan dalam gencatan senjata yang rapuh.

Menurut laporan media resmi Iran, negara tersebut pada hari Minggu menyerahkan respons tertulis terhadap proposal AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama dua bulan ini, melalui perantara Pakistan. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengecam syarat-syarat yang diajukan Iran sebagai “sama sekali tidak dapat diterima”

Dalam sebuah konferensi pers pada hari Senin, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menekankan bahawa proposal negaranya untuk mengakhiri konflik dan membebaskan alur pelayaran Selat Hormuz adalah sah dan merupakan sikap yang murah hati.

Ia menyerukan penghentian perang di seluruh kawasan dan pelepasan aset-aset beku di luar negeri sebagai respons atas proposal terbaru dari AS.

“Kami tidak meminta konsesi apa pun. Tuntutan kami adalah sah: menuntut diakhirnya perang, pencabutan blokade dan pembajakan oleh AS, serta pembebasan aset Iran yang secara tidak adil dibekukan di bank-bank akibat tekanan Amerika,” ujarnya.

“Lintas aman di Selat Hormuz dan pembangunan keamanan di kawasan serta di Lebanon merupakan tuntutan lain Iran, yang dianggap sebagai tawaran murah hati dan bertanggung jawab demi keamana kawasan.”

Trump dengan jelas menyatakan melalui unggahan di platform Truth Social pada hari Minggu bahwa ia akan menolak proposal balasan dari Teheran, meski ia tidak memberikan rincian mengenai isinya.

MEMBACA  Perang Israel-Gaza: PBB mengatakan anggota staf tewas di Rafah

“Baru saja saya membaca tanggapan dari para ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya — SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!” katanya.

Andrea Dessi dari Universitas Amerika Roma berpendapat bahwa kedua pihak tampaknya semakin mengukuhkan posisi masing-masing.

“Kabar pada hari Senin ini cukup negatif… karena kita melihat kedua belah pihak terus bertahan pada posisi-posisi yang cenderung maksimalis,” kata analis dari American University of Rome itu.

“Dan dalam kebuntuan ini, yang menjadi korban sesungguhnya adalah ekonomi internasional dan populasi di kawasan Teluk serta Timur Tengah secara lebih luas,” tambahnya.

Tinggalkan komentar