Inditex Berencana Menghidupkan Kembali Merek Budget Lefties di Prancis, Eksplorasi Pasar Baru

Lefties sebelumnya beroperasi di Prancis dari tahun 2009 hingga 2012. Detail mengenai lokasi peluncuran merek ini di Prancis masih belum diungkapkan.

Kembalinya Lefties merupakan bagian dari strategi Inditex untuk menarik konsumen muda dan memperkuat posisinya di sektor fesyen low-cost yang kompetitif, di mana merek seperti Shein dan Primark menawarkan opsi lebih ekonomis dibandingkan Zara, menurut laporan Reuters.

Dalam presentasi ke investor, CEO Inditex Oscar Garcia Maceiras mengungkapkan bahwa perusahaan juga sedang mengeksplor pasar baru untuk Lefties.

Saat ini, Lefties beroperasi di 18 negara termasuk Spanyol, Portugal, Andora, Italia, Rumania, dan Uni Emirat Arab.

Pada 2020, merek ini mulai berdagang online di Spanyol dan Portugal.

Untuk memperkuat identitas merek, Lefties baru-baru ini memperkenalkan logo dan slogan baru melalui unggahan Instagram.

Meski Spanyol dan Portugal tetap menjadi pasar utama, CEO Inditex Oscar Garcia Maceiras menyebutkan bahwa perusahaan sedang mengevaluasi peluang untuk Lefties di wilayah baru.

Selain ekspansi Lefties, Garcia Maceiras juga menyampaikan dalam rapat pemegang saham tahunan bahwa Inditex sedang mengembangkan merek lainnya di tingkat internasional.

Inditex melaporkan kenaikan penjualan sebesar 1,5% pada Q1 FY25 menjadi €8,27 miliar ($9,44 miliar), naik dari €8,15 miliar di kuartal yang sama tahun sebelumnya.

“Inditex berencana menghidupkan kemballi merek budget Lefties di Prancis dan eksplor pasar baru” awalnya dibuat dan diterbitkan oleh Just Style, merek milik GlobalData.

Informasi di situs ini disertakan dengan itikad baik untuk tujuan informasi umum semata. Tidak dimaksudkan sebagai nasihat yang harus diandalkan, dan kami tidak memberikan pernyataan, jaminan, atau garansi, baik tersurat maupun tersirat, mengenai keakuratan atau kelengkapannya. Anda harus mencari saran profesional sebelum mengambil atau tidak mengambil tindakan berdasarkan konten di situs kami.

MEMBACA  HRW menuduh Israel melakukan tindakan genosida terkait akses air di Gaza