Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa Iran telah menyimpan sebagian besar uranium yang diperkaya tingginya di kompleks terowongan bawah tanah di fasilitas Isfahan.
Dengarkan artikel ini | 4 menit
Diterbitkan Pada 27 Feb 2026
Lembaga pemantau nuklir PBB dalam sebuah laporan menyebutkan Iran menyimpan mayoritas cadangan uranium yang sangat diperkaya di kompleks terowongan bawah tanah di fasilitas Isfahan, mendesak Teheran untuk mengizinkan inspeksi di tengah tekanan yang kian membesar dari Amerika Serikat terkait program nuklirnya.
Laporan International Atomic Energy Agency (IAEA) yang disirkulasikan kepada anggota pada Jumat itu, mengonfirmasi temuan sebelumnya bahwa negara tersebut memperkaya uranium hingga 60 persen—hanya selangkah lagi menuju kemurnian tingkat senjata—dan meningkatkan kekhawatiran atas terbatasnya akses IAEA ke situs Isfahan. Situs ini merupakan satu dari tiga fasilitas yang klaim AS telah “dihancurkan” dalam perang 12 hari tahun lalu.
Laporan IAEA juga menyebutkan para inspekturnya tidak mengetahui lokasi pasti fasilitas keempat untuk pengayaan uranium yang disebutkan Iran sedang dibangun di Isfahan sebelum perang 12 hari, serta menambahkan bahwa mereka tidak menyadari status operasionalnya atau apakah fasilitas itu saat ini mengandung material nuklir.
IAEA menyatakan telah mengamati dalam citra satelit “aktivitas kendaraan rutin di sekitar pintu masuk kompleks terowongan di Isfahan tempat uranium yang diperkaya hingga 20% dan 60% U-235 … disimpan,” seraya menekankan pentingnya untuk dapat melakukan inspeksi di Iran tanpa penundaan lebih lanjut.
Belum ada tanggapan langsung dari Iran.
Laporan ini muncul sehari setelah negosiator AS dan Iran menyelenggarakan putaran ketiga pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Oman di Jenewa, yang tidak menghasilkan terobosan.
Laporan ini akan dibahas dalam pertemuan triwulanan dewan IAEA yang terdiri dari 35 negara, yang dimulai Senin depan di Wina, bertepatan dengan pertemuan lanjutan yang dimediasi Oman antara tim teknis di kota yang sama.
Terdapat ketidakpastian mengenai nasib stok Iran yang melebihi 400 kg uranium yang diperkaya 60 persen, yang terakhir kali dilihat oleh inspektur badan pengawas nuklir pada 10 Juni lalu.
Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir bulan itu, memulai perang 12 hari yang mana AS sempat bergabung untuk membom situs-situs nuklir Iran.
Teheran menangguhkan sebagian kerja sama dengan IAEA dan membatasi akses inspektur badan tersebut ke situs-situs yang dibom Israel dan Amerika Serikat, dengan tuduhan bahwa badan PBB itu berat sebelah dan gagal mengutuk serangan-serangan tersebut.
Koresponden Al Jazeera, Ali Hashem, menyatakan bahwa poin-poin teknis yang akan didiskusikan dalam pembicaraan yang dimediasi Oman pada Senin nanti akan “berkaitan” dengan upaya mengeluarkan 440,9 kg uranium yang diperkaya hingga 60 persen seperti yang dilaporkan IAEA sebelum perang 12 hari, seandainya ada “kecenderungan untuk mengarah pada weaponisasi program”.
Namun, tambah Hashem, IAEA menyadari bahwa “bahkan pihak Iran sendiri pun tidak dapat memasuki fasilitas-fasilitas tersebut.” “Jadi, telah banyak pekerjaan di sekitar fasilitas, setidaknya itu yang terlihat dalam citra satelit, namun tampaknya pihak Iran tidak berhasil memasukinya,” ujarnya.
Melaporkan dari Teheran, Tohid Asadi dari Al Jazeera menyatakan bahwa stok uranium yang diperkaya dan masalah inspeksi merupakan “poin tersangkut” utama dalam pembicaraan AS-Iran.
Usai pembicaraan kemarin, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan AS harus menghentikan “tuntutan-tuntutan berlebihannya.” Ia tidak merinci tuntutan tersebut, namun AS telah menyatakan keinginannya agar Iran membongkar seluruh infrastruktur nuklirnya, membatasi persenjataan rudal balistiknya, dan menghentikan dukungan kepada sekutu-sekutu regionalnya.