Menteri Luar Negeri Hungaria: "Kami Tak Akan Menyerah pada Pemerasan Ini" Setelah Aliran Minyak dari Ukraina Terhenti
Hungaria akan memblokir pinjaman Uni Eropa untuk Ukraina senilai 90 miliar euro hingga negara tersebut melanjutkan pengiriman minyak mentah melalui Jalur Pipa Druzhba, demikian pernyataan Menteri Luar Negeri Hungaria, Peter Szijjarto, pada Jumat (20/2). Langkah ini diumumkan setelah Budapest menyatakan akan mencadangan stok strategis untuk mengatasi kelangkaan.
Hungaria dan Slowakia, yang memiliki kilang satu-satunya di UE yang masih menggunakan minyak Rusia via Druzhba, telah berupaya menjamin pasokan sejak aliran dihentikan pada 27 Januari lalu. Penghentian ini terjadi setelah Ukraina menyatakan serangan drone Rusia merusak infrastruktur pipa.
Rekomendasi Cerita Lainnya
Kedua negara telah menuduh Ukraina sengaja menunda pengembalian aliran minyak atas alasan politis. Kantor berita Reuters meminta tanggapan dari Kementerian Luar Negeri Ukraina dan perusahaan minyak dan gas negara pada Kamis.
“Dengan memblokir transit minyak ke Hungaria melalui Jalur Pipa Druzhba, Ukraina melanggar Perjanjian Asosiasi UE-Ukraina dan mengingkari komitmennya terhadap Uni Eropa. Kami tak akan menyerah pada pemerasan ini,” tulis Menteri Szijjarto di platform X.
Pemerintah Hungaria menerbitkan keputusan pada Kamis malam untuk melepas sekitar 1,8 juta barel minyak mentah dari cadangan strategisnya guna menutupi kekurangan.
Namun, operator pipa JANAF asal Kroasia pada Jumat menyatakan tidak perlunya Budapest mengambil langkah tersebut. Pernyataan ini disampaikan setelah perusahaan minyak Hungaria, MOL, menyebut bahwa JANAF harus mengizinkan transit minyak laut Rusia selama Druzhba terganggu.
“Pada saat ini, sejumlah signifikan minyak mentah non-Rusia sedang diangkut melalui pipa JANAF untuk Grup MOL. Selain itu, tiga kapal tanker lagi yang membawa minyak non-Rusia, juga untuk Grup MOL, sedang dalam perjalanan ke Terminal Omisalj,” jelas JANAF dalam sebuah pernyataan. “Tidak ada kebutuhan untuk mengambil dari cadangan mereka karena transportasi minyak via pipa JANAF menuju kilang-kilang MOL berlangsung terus-menerus dan tanpa penundaan.”
Keputusan pemerintah Hungaria menyebutkan, MOL berhak atas akses prioritas ke cadangan minyak mentah yang dilepaskan. Perusahaan dapat mengakses cadangan tersebut hingga 15 April dan wajib mengembalikannya paling lambat 24 Agustus.
Data dari Situs Asosiasi Penimbunan Hidrokarbon Hungaria menunjukkan, pada akhir Januari lalu, Hungaria memiliki cadangan minyak mentah dan produk minyak yang cukup untuk 96 hari.
Sementara kedua negara berupaya keras menjamin pasokan, MOL telah memesan kapal tanker yang mengangkut minyak dari Arab Saudi, Norwegia, Kazakhstan, Libya, dan Rusia untuk memasok kilangnya di Hungaria dan Slowakia. Perusahaan juga menghentikan pengiriman diesel ke Ukraina awal pekan ini.
MOL menyatakan, pengiriman pertama diperkirakan tiba di pelabuhan Omisalj di Kroasia pada awal Maret. Setelah itu, dibutuhkan waktu tambahan 5–12 hari agar minyak mentah sampai ke kilangnya.
Pemerintah Slowakia juga telah mendeklarasikan situasi darurat minyak dan berencana melepas 1,825 juta barel minyak menyusul permintaan dari kilang Slovnaft di Slowakia, yang dimiliki oleh MOL.