Badan pengungsi PBB menyatakan pengungsian paksa kemungkinan meningkat seiring AS dan Israel melanjutkan serangan mematikan di seluruh Iran.
Dengarkan artikel ini | 3 menit
Diterbitkan Pada 12 Mar 2026
Lebih dari tiga juta orang telah mengungsi di Iran sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan perang terhadap negara itu pada akhir bulan lalu, menurut PBB, di tengah kekhawatiran yang kian membesar atas krisis kemanusiaan yang memburuk.
Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengatakan pada Kamis bahwa sebanyak 3,2 juta orang – mewakili sekitar 600.000 hingga satu juta rumah tangga Iran – telah terpaksa mengungsi sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Rekomendasi Cerita
“Sebagian besar dari mereka dilaporkan melarikan diri dari Teheran dan wilayah perkotaan besar lainnya ke arah utara negara itu serta daerah pedesaan untuk mencari keamanan,” kata pejabat UNHCR Ayaki Ito dalam sebuah pernyataan.
“Angka ini kemungkinan akan terus meningkat selama permusuhan berlanjut, menandai eskalasi yang mengkhawatirkan dalam kebutuhan kemanusiaan.”
Militer AS dan Israel telah terus membombardir Iran meski mendapat kecaman internasional yang kian keras dan seruan untuk meredakan ketegangan.
Lebih dari 1.300 orang telah tewas dalam serangan AS-Israel di seluruh negara itu hingga saat ini, menurut data terbaru dari pejabat Iran.
Sementara AS dan Israel menyatakan mereka menargetkan para pemimpin Iran beserta infrastruktur militer dan nuklirnya, Iran menyebutkan ribuan situs sipil, seperti sekolah dan rumah sakit, telah diserang.
Wakil Menteri Kesehatan Iran Ali Jafarian kepada Al Jazeera pada Kamis menyatakan bahwa tim medis telah menangani jumlah korban yang semakin banyak seiring intensifikasi serangan di wilayah perkotaan dalam beberapa hari terakhir.
“Mayoritas dari mereka adalah warga sipil,” ujar Jafarian, seraya menambahkan bahwa lebih dari 30 rumah sakit dan fasilitas kesehatan telah rusak akibat serangan-serangan tersebut.
Pada Kamis, ledakan terdengar di beberapa bagian ibu kota Teheran dan kota-kota Iran lainnya seiring berlanjutnya serangan.
Jurnalis Al Jazeera Tohid Asadi melaporkan bahwa tim penyelamat sedang menggali tumpukan puing setelah beberapa bangunan apartemen bertingkat rusak parah dalam serangan baru-baru ini di kawasan timur Teheran yang terdampak berat.
“Kami melihat jenazah dikeluarkan [dari reruntuhan] … dan situasinya jauh lebih buruk dari yang bisa saya sebut sebagai bencana,” kata Asadi.
Iran telah membalas serangan AS-Israel dengan meluncurkan sejumlah besar misil dan drone ke pangkalan AS serta lokasi-lokasi lain di berbagai negara di kawasan Timur Tengah yang lebih luas.
Iran juga telah menutup Selat Hormuz, jalur air penting di Teluk tempat sekitar seperlima minyak dunia transit, yang memicu kekhawatiran serius atas gangguan pasokan energi global.