Harga minyak Brent melonjak setelah sebuah kapal kargo diserang di jalur pelayaran utama.
Diterbitkan pada 26 Juni 2026
Harga minyak bumi melambung tinggi setelah badan maritim Perserikatan Bangsa-Bangsa membatalkan rencana evakuasi kapal-kapal yang terdampar di sekitar Selat Hormuz, menyusul serangan terhadap sebuah kapal kargo di jalur perairan tersebut.
Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik hingga 4 persen pada hari Kamis setelah Organisasi Maritim Internasional menghentikan rencana evakuasinya di tengah meningkatnya kembali kekerasan di selat itu.
Berita Rekomendasi
daftar 4 barangakhir daftar
Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Agustus berada di harga $74,89 per barel pada pukul 02.00 GMT, setelah sebelumnya anjlok di bawah $72,48—harga penutupan sehari sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran.
Setelah merosot tajam pasca penandatanganan nota kesepahaman antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang pekan lalu, harga Brent saat ini tercatat sekitar 3 persen di atas level sebelum perang.
Pasar Asia dibuka lebih rendah pada hari Jumat, dengan indeks-indeks utama di Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan Taiwan mengalami kerugian signifikan.
Nikkei 225 Tokyo dan Kospi Seoul sama-sama turun lebih dari 3 persen pada perdagangan pagi, sementara Taiex merosot sekitar 1 persen.
Di Hong Kong, Indeks Hang Seng melemah sekitar 1 persen.
Serangan terbaru di selat yang di masa damai menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair global ini, mencipratah harapan untuk kembalinya pelayaran normal di kawasan tersebut setelah belakangan ini terjadi peningkatan lalu lintas.
Pada hari Rabu, 70 kapal melintasi jalur perairan itu—meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari sebelumnya dan merupakan angka harian tertinggi sejak 1 Maret, menurut platform pelacakan kapal MarineTraffic dan Kpler.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) pada hari Kamis melaporkan bahwa sebuah kapal kargo dilaporkan terkena “proyektil tak dikenal” di sisi kanannya saat berusaha melintasi selat dekat pantai Oman.
Sejumlah kantor media, termasuk The New York Times, CBS News, dan kantor berita Reuters, mengutip pejabat AS tak disebutkan namanya yang menyatakan bahwa serangan tersebut dilakuakan oleh Iran.
Otoritas Selat Teluk Persia Iran, yang mengklaim hak untuk mengatur pelayaran di selat tersebut, menyatakan setelah serangan itu bahwa setiap kapal yang mencoba menggunakan rute di luar “kerangka” yang telah ditentukan tidak akan dijamin keamanan lintasnya.
“Konsekuensi yang timbul dari pelayaran melalui jalur yang tidak sah menjadi tanggung jawab pemilik,operator, dan nahkoda kapal,” kata otoritas tersebut di akun X.
June Goh, analis senior pasar minyak di Sparta Singapura, mengatakan serangan ini merupakan pengingat bagi pasar akan rapuhnya perdamaian di selat tersebut di tengah gencatan senjata AS-Iran yang masih renggang.
“Ada kebutuhan mendesak bagi kapal tanker untuk masuk dan membongkar stok minyak mentah yang tinggi dari tangki darat agar produksi normal dapat kembali berjalan,” kata Goh kepada Al Jazeera.
“Dengan demikian, keamanan jalur pelayaran menjadi sangat penting untuk memulihkan pasokan yang hilang.”