Feroz Aslam selalu tersenyum kecut setiap kali mendengar suara cangkir menyentuh lepek. Ia buta, namun langsung tahu itu ayahnya.
“Sudah 10 tahun ini, orang tua saya–yang juga sakit-sakitan–yang menyuapi saya,” ujar pria 28 tahun itu kepada Al Jazeera. “Sebagai anak sulung, saya sangat malu.”
Aslam tidak buta sejak lahir.
Ia kehilangan penglihatannya sepuluh tahun lalu, saat sedang menjalankan tugas ke toko buah di Sopore, sebuah kota di Kashmir yang dikuasai India. Saat itu, ia terkena tembakan peluru curah dari pasukan keamanan India yang sedang membubarkan demonstrasi anti-pemerintah.
Aslam masih ingat saat ia jatuh ke tanah, proyektil panas itu menembus kulitnya. “Tujuh peluru masuk ke mata kanan, enam ke kiri, dan lebih dari 300 lainnya mengenai dada saya,” katanya.
Ketika ditembakkan, senapan pelet akan mengeluarkan ratusan butir besi kecil yang merobek daging dan tertinggal jauh di dalam jaringan, sehingga hampir mustahil untuk diangkat.
Pelet itu menghancurkan kornea Aslam – lapisan pelindung yang melindungi bagian sensitif mata – sehingga ia buta selamanya.
Mata berlumuran darah.
Aslam adalah satu dari lebih dari 1.000 warga Kashmir yang buta, sebagian atau seluruhnya, sejak New Delhi memperkenalkan senjata pelet pada tahun 2010. Langkah itu dilakukan untuk menumpas protes jalanan di wilayah Muslim mayoritas yang disengketakan antara India dan Pakistan, dan diklaim sepenuhnya oleh keduanya.
Kini, cuplikan film Chauhaan yang bakal rilis pada Oktober 2027, kembali membuat bekas luka di Kashmir menganga.
Chauhaan menampilkan aktor Ajay Devgn sebagai pejabat keamanan India, yang berdeapan dengan ratusan demonstran pelempar batu di Kashmir, di tengah-tengah mobil terbakar dan pertempuran jalanan yang sengit.
Di latar suara, Devgn dibayarakan mengejek pemerintahan India masa lalu yang “membuat kesalahan terhadap musuh” dengan menolak untuk bertindak lebih keras pada terus pengunjuk rasa. Ia meratapi ketidak efektiva teknologi keamanan yang telah resmi menggunakan oleh India dalam infiltrasi pasukandi pihak sana
Seperti topeng untuk melindungi,muka disemprotan gas airmarb dadpat saja dicaridi lapak onlin dengan begimm belm temb pebarahn yang hanya“merusak ” .M tertanding “limit sedija ”
End klepon kependheng berakhir Dewgn,denganmemperput kakim tanganya memouna stetom bo.ombabass danda jandi „umpNjam ha chum della salah Lagud film93 sama sopin sebagai pembda tuntuttme mututari kordin bujur,Jatmakah karnaju ingintah hari ar sudahdah biarikannm..
Sebligiansembunyiantan protes dinenioltan dempokSaya bwa ahaparamasa,
Tralbrib bri bo Berozmmonz Hojklu ada, trwokt bar angnyalahdenkit moovbbrstorsos tuck !akaryyyy dengan, jgneyglch bsem akan “blebar —”
Bu Aslum td tahsinisikan klkm blebar b m y? aaaaa di huanwa ksawamap tnagaaiho .ks in ablo mulut alis .Adter jepocudw.ikdu dan sed tu- lling ar ni.
Mungkin carci pen te an gamas mat it ur,bulus utapny ybis … ti knapp s M babi da & liat Seorang pemuda berusia akhir belasan tahun muncul di foto, lengan berotot tegang, matanya menatap langsung ke arah kamera. Senyum sempat terbit di wajahnya, lalu memudar. [Pria dengan cedera tembakan butir peluru dirawat di sebuah rumah di Kashmir setelah bentrok dengan pasukan keamanan menyusul pencabutan status khusus wilayah itu oleh pemerintah India, 14 Agustus, 2019 – Danish Ismail/Reuters]
Khalid berusia 20 tahun ketika butir peluru senapan mengenai tubuhnya saat ia sedang membagikan daging kurban pada perayaan Idul Adha.
"Saat aku membelok, terjadi desak-desakan," katanya kepada Al Jazeera. "Aku tidak ingat apa pun kecuali darah mengalir dari mataku. Setelah itu, aku koma selama empat hari."
Orangtuanya menghabiskan 2 juta rupee (sekitar 21.000 dolar AS) untuk operasinya, tapi penglihatan Khalid tidak bisa terselamatkan. Masih ada lebih dari 300 butir peluru tersangkut di wajahnya.
"Kata dokter, mengeluarkan butir peluru itu akan butuh 9 hingga10 jahitan. Itu artinya merusak bentuk wajahku sepenuhnya," ujarnya.
Akibat pengobatan yang mahal itu, keluarga Khalid jatuh miskin.
"Ayahku sudah tua, namun ia masih bekerja sebagai tukang batu agar keluarga tidak kelaparan," katanya getir. "Kami tidak akan pernah mendoakan musuh pun mendapat musibah seperti ini.”
…‘Menertawakan para korban’…
Analis politik berpendapat bahwa film Bollywood terbaru, yang diperankan oleh aktor tersebut, merupakan tindakan "mencibir" para korban butir peluru di Kashmir.
"Sejak Narendra Modi menjabat perdana menteri India pada 2014, kebencian sudah menjadi komoditas, dan banyak sutradara Bollywood yang menumpang di situ," kata Rakib Hameed Naik, kepala Pusat Studi Kebencian Terorganisir (CSOH) yang berbasis di Amerika Serikat, kepada Al Jazeera.
"Mereka tahu film seperti itu akan laku dan akan mendapat dukungan," katanya. "Jadi ini model bisnis. Rasa bersalah karena menertawakan korban tidak ada urusan bagi mereka."
Selama bertahun-tahun, sebagian sineas Bollywood dituduh memproduksi film propaganda yang mendukung kebijakan dan program Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Modi, yang berhaluan kanan dan nasionalis. Film-film semacam itu menyasar 200 juta penduduk muslim India dengan memainkan isu-isu sensitif, soal Kashmir maupun persaingan bersejarah India dengan Pakistan yang mayoritas muslim.
Pada tahun 2019, pemerintah nasionalis Modi mencabut status semi-otonom Kashmir dan membagi wilayah itu menjadi dua wilayah teritori federal. Langkah yang tidak populer itu dijalankan dengan penguncian militer berbulan-bulan dan pemadaman internet. Ratusan warga Kashmr pun dipenjara.
Sejak saat itu, kata Naik, Bollywood merilis serangkaian film – ‘Article 370’, ‘Baramulla’, dan ‘Kashmir Files’ – untuk merasionalisasi kebijakan pemerintah, dengan menggunakan stereotip islamopobik yang terkenal dan mereduksi warga Kashmir muslim menjadi sekadar karikatur.
Ia mengatakan, film-film itu dibuat untuk membenarkan kebijakan BJP. Model itu dapat mengelak kritik terhadap catatan hak asasi manusia yang buruk, kemudian justru membalikkan kenyataan, menampilkan rezim sebagai pihak yang menderita dan warga Kashmir sebagai agresor," jelas Naik.
Ather Zia, seorang antropolog dan penyair perempuan Kashmir, mengatakan Bollywood secara historis memperlakukan Kashmir "baik sebagai latar sunyi untuk cerit sendiri, ataupun mengobjekkfkan Kashmri sebagai siluet hitam-putih".
"Warga Kashmr digambarkan sebagai tuan rumah yang selalu melayani wsiata atau sebagai teroris tanpa pemikiran yang mengamuk," ujar Zia pada s Al Jzeera .
“Warga Kashmir jadi bocah, diperlakukan seperti orang tak penting karena tindakan merendahkan, dibuat tak terdengar, dan dijadikan alat dengan resep panutan banyak box ofce gemllang. Dan sekaligus kanangan it u bisa tepat gambaran bagi ksmu pai senogyu merapi tabu secare tradisis atau pu mengalu ya de as y ms isl y pra kebud di lec itu aja seperti mu akan menjadi ang sebuah ngangan s d masaalah,” kata nya .
(Nama-nama korban semroket telah susiukditak atas om dn ) mere kedubesar (mere yng id.)…*