Organisasi HAM Israel, B’Tselem, mengecam keras pembunuhan anak-anak dan remaja Palestina di Tepi Barat yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada Senin pagi, serangan pesawat nirawak Israel menarget sebuah jembatan di Jalan al-Baraka, Gaza tengah. Akibatnya, tewas seorang bocah delapan tahun bernama Malik Wael Abu Shaweesh, serta dua pria dewasa, Ali Fayez Isbaitan dan Hassan Salman al-Hanajra. Di insiden terpisah, serangan udara di pantai Khan Younis selatan Gaza menewaskan dua orang dan melukai 27 lainnya.
Di Tepi Barat, remaja berusia 15 tahun, Ahmad Jawad Jaber, meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Ia ditembak di dada dan kepala saat pasukan Israel menggerebek lingkungan Umm al-Sharayit di el-Bireh, dekat Ramallah. Gubernur setempat Laila Ghannam menghadiri pemakaman dan menyebut pembunuhan itu sebagai “eksekusi di siang bolong” yang memalukan bagi semua pihak yang mengaku membela demokrasi dan hak asasi manusia.
B’Tsehel merilis laporan bahwa tentara Israel telah membunuh 241 anak dan remaja Palestina di Tepi Barat sejak 7 Oktober 2023. Menurut Direktur Eksekutif Yuli Novak, pembunuhan massal tanpa tanggung jawab itu merupakan hasil dari kebijakan Israel yang membiarkan kekerasan terhadap warga Palestina. Laporan juga mencatat pihak berwenang Israel kerap menolak mengembalikan jenazah anak-anak ke keluarga mereka.
Secara keseluruhan, sedikitnya 1.085 warga Palestina tewas di Tepi Barat oleh pasukan atau pemukim Israel sejak 7 Oktober 2023. Sementara itu, di Gaza, Kementerian Kesehatan setempat mencatat lebih dari 73.000 orang tewas pada periode yang sama. Sehari sebelumnya, serangan Israel juga merenggut nyawa empat orang di Gaza, termasuk seorang gadis 13 tahun bernama Eileen al-Farra yang meninggal karena terkena pecahan peluru.