Oleh AFP, AP, EPA, dan Reuters
Diterbitkan pada 22 Mar 2026
Rudal-rudal Iran menghantam dua permukiman di Israel selatan, meninggalkan bangunan-bangunan yang hancur dan puluhan orang terluka dalam serangan ganda yang tidak jauh dari pusat penelitian nuklir utama Israel.
Serangan Iran pada Sabtu malam itu terjadi setelah fasilitas pengayaan nuklir utama Teheran di Natanz terkena serangan lebih awal pada hari yang sama. Israel menyangkal tanggung jawab atas serangan di Natanz, yang terletak sekitar 220 km di tenggara Tehran.
Kementerian Pertahanan AS menolak berkomentar mengenai serangan di Natanz, yang juga pernah diserang pada minggu pertama perang dan selama perang 12 hari pada Juni tahun lalu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan serangan-serangan semacam itu menimbulkan “risiko nyata bencana katastrofik di seluruh Timur Tengah”.
Iran membalas berjam-jam kemudian.
Militer Israel menyatakan tidak dapat mencegat rudal-rudal yang menghantam kota-kota selatan, Dimona dan Arad, permukiman terbesar di dekat pusat penelitian nuklir di gurun Negev yang jarang penduduknya itu. Ini merupakan kali pertama rudal-rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel di area sekitar situs nuklir tersebut.
Kementerian Kesehatan Israel menyatakan sedikitnya 180 orang terluka dalam serangan rudal terhadap kota Dimona dan Arad yang berdekatan di selatan.
Dimona terletak sekitar 20 km di barat pusat penelitian nuklir, sementara Arad berada sekitar 35 km di sebelah utaranya.
Israel diyakini sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir, meski para pemimpinnya menolak untuk mengonfirmasi atau menyangkal keberadaannya. Badan pengawas nuklir PBB menyatakan di platform X bahwa mereka belum menerima laporan mengenai kerusakan di pusat penelitian Israel ataupun tingkat radiasi yang tidak normal.