Ishara Danasekara, Redaktur Berita, BBC News Sinhala
BBC Sinhala dan
Koh Ewe
Tonton: Komunitas Sri Lanka Terendam Air setelah Banjir Katastrofik
Aktor dan musisi Sri Lanka GK Reginold mengendarai perahu motor melintasi pinggiran kota Kolombo, berharap dapat membawakan makanan dan air bagi mereka yang sangat membutuhkan.
Reginold menyatakan, beberapa keluarga belum menerima bantuan selama berhari-hari, terisolasi oleh bencana cuaca terparah di negara kepulauan Asia Selatan ini dalam beberapa tahun terakhir.
Siklon Ditwah menerjang negara itu pekan lalu, mengakibatkan banjir dan tanah longsor katastrofik yang menewaskan lebih dari 400 orang, membuat ratusan hilang, serta menghancurkan 20.000 rumah.
Namun, bencana ini juga telah menginspirasi semangat kerelawanan di antara warganya, saat mereka menghadapi apa yang oleh presiden mereka digambarkan sebagai “bencana alam paling menantang” dalam sejarah.
“Alasan utama saya ingin melakukan ini adalah setidaknya membantu mereka untuk mendapat satu kali makan,” kata Reginold kepada BBC. “Dan saya sangat bahagia karena mampu melakukannya.”
BBC Sinhala
Para relawan telah menggunakan perahu penangkap ikan untuk menyelamatkan korban banjir dan mengantarkan bantuan
Lebih dari satu juta orang terdampak bencana ini dan Presiden Anura Kumara Dissanayake telah menyatakan keadaan darurat.
Militer Sri Lanka telah mengerahkan helikopter untuk operasi penyelamatan, sementara bantuan kemanusiaan mengalir dari pemerintah asing dan organisasi non-pemerintah.
Namun, perjalanan pemulihan Sri Lanka akan masih panjang, mengingat negara ini telah mengalami cukup banyak gejolak dalam tahun-tahun belakangan.
Aktivis Rela di Dapur Umum
Di lingkungan Wijerama, Kolombo, para aktivis yang memprotes mantan presiden Gotabaya Rajapaksa pada 2022 kini membantu mengelola dapur umum yang memproduksi bantuan makanan.
Protes tiga tahun lalu dipicu oleh krisis ekonomi yang berlarut-larut yang menyebabkan kelangkaan bahan bakar, makanan, dan obat-obatan. Kemarahan publik meledak dan menyebabkan Rajapaksa digulingkan. Kini, aktivisme politik itu dialihkan untuk penanggulangan siklon.
“Beberapa relawan datang setelah bekerja, beberapa bergantian, dan ada pula yang mengambil cuti untuk hadir,” kata Sasindu Sahan Tharaka, seorang aktivis media sosial, kepada BBC.
“Kami mengaktifkan kembali kelompok itu segera setelah mendengar apa yang terjadi Kamis lalu,” ujarnya.
Sasindu Sahan Tharaka
Di sebuah dapur umum di Wijerama, para relawan menyiapkan makanan untuk warga yang terdampak banjir
Sahan juga menganggap dapur umum ini sebagai “perluasan” dari pekerjaan sukarelanya pada 2016, ketika hujan deras dan banjir menewaskan 250 orang di seluruh negeri.
Para relawan telah mengompilasi ratusan permintaan bantuan, mengirimkannya ke otoritas, dan mengorganisir distribusi makanan kepada warga, kata Sahan.
“Apa pun yang kami minta, respons yang kami dapat dari komunitas justru lebih dari cukup,” katanya.
Kampanye Daring untuk Bantuan
Serangkaian aktivitas juga terjadi di ranah daring, di mana pengguna media sosial menciptakan basis data publik untuk mengarahkan donasi dan relawan.
Situs web lain yang didukung relawan membantu pendonor menemukan posko bantuan dan barang apa yang paling dibutuhkan di area tersebut.
Perusahaan swasta mengorganisir penggalangan dana, sementara saluran televisi lokal meluncurkan upaya penyediaan makanan dan kebutuhan pokok seperti sabun dan sikat gigi.
Menghadapi kritik atas penanganan persiapan untuk Siklon Ditwah, Presiden Dissanayake mendesak warga Sri Lanka untuk “mengesampingkan semua perbedaan politik” dan “bersatu membangun kembali bangsa.”
Politisi oposisi menuduh otoritas mengabaikan peringatan cuaca, yang menurut mereka memperburuk dampak bencana.
Pada Senin, anggota parlemen oposisi melakukan walkout di parlemen, dengan klaim bahwa partai berkuasa berusaha membatasi debat mengenai bencana tersebut.
Namun, di lapangan, tetap ada rasa persatuan saat warga Sri Lanka menyusun kembali kehidupan mereka pascabanjir.
“Pada akhirnya, kebahagiaan menolong orang lain untuk menyelamatkan nyawa membuat rasa lelah itu memudar,” tulis Sahan dalam sebuah postingan Facebook pada Senin, setelah bekerja berjam-jam di dapur umum Wijerama dan lokasi bantuan lainnya.
“Bencana bukanlah hal baru bagi kami. Tetapi, empati dan kapasitas hati kami lebih besar daripada kehancuran yang terjadi saat bencana.”