Belfast, Irlandia Utara — Pada Malam Tahun Baru, ketika kembang api menerangi langit Belfast, jalanan kota riuh — bukan hanya oleh perayaan.
Ratusan orang berkumpul membulatkan dukungan bagi para aktivis kelompok Palestine Action yang tengah menjalani aksi mogok makan di penjara. Sorak-sorai mereka bergema melewati mural-mural yang bukan sekadar penghias kota, tetapi juga menjadi saksi bisu masa lalunya yang kelam.
Di sepanjang Falls Road, mural-mural republiken Irlandia berdampingan dengan mural Palestina. The International Wall, yang dahulu merupakan kanvas bergulir bagi perjuangan global, kini lebih dikenal sebagai Tembok Palestina. Puisi-puisi mendiang penulis Palestina, Refaat Alareer, yang tewas dalam serangan udara Israel pada Desember 2023, membentang di sepanjang dindingnya. Gambar-gambar yang dikirim seniman Palestina telah dilukis oleh tangan-tangan lokal.
Belakangan ini, kata-kata baru muncul di dinding-dinding termasyhur Belfast. “Berbahagialah mereka yang lapar dan haus akan keadilan.” Tertulis di samping gambar-gambar lama tahanan republiken Irlandia seperti Bobby Sands, adalah nama-nama baru yang kini tertoreh dalam kesadaran politik kota: keempat aktivis pro-Palestina yang saat ini mogok makan di penjara-penjara Inggris, kondisi tubuh mereka kian melemah seiring waktu.
“Ini bukan kota yang akan pernah menerima segala upaya untuk membungkam suara kami, hak kami untuk protes, atau hak kami untuk membela hak asasi manusia,” ujar Patricia McKeown, seorang aktivis serikat pekerja yang berbicara dalam unjuk rasa tersebut.
“Para anak muda ini ditahan secara tidak adil dan dalam kondisi yang menggelikan – dan mereka telah mengambil keputusan tertinggi untuk menyuarakan pandangan mereka … terutama mengenai apa yang menimpa rakyat Palestina – alasan apa lagi untuk tidak mendukung mereka?” tanyanya.
Aksi Mogok Makan Sampai ke Belfast
Unjuk rasa di Belfast adalah bagian dari kampanye internasional yang kian meluas, mendesak pemerintah Inggris untuk turun tangan seiring memburuknya kesehatan keempat tahanan di balik tembok penjara. Mereka semua terkait dengan Palestine Action dan ditahan sementara menunggu persidangan, suatu proses yang menurut para pengkampanye bisa membuat mereka terpenjara lebih dari setahun sebelum kasusnya disidangkan. Dengan jalur hukum yang telah habis, para pendukung menyatakan mogok makan telah menjadi pilihan terakhir.
Anggota-anggota Palestine Action ditahan terkait dugaan keterlibatan dalam pembobolan anak perusahaan Elbit Systems di Filton dekat Bristol, di mana peralatan dilaporkan dirusak, serta di pangkalan Angkatan Udara Kerajaan di Oxfordshire, di mana dua pesawat militer disemprot cat merah. Para tahanan membantah tuduhan terhadap mereka, yang mencakup pencurian dengan pemberatan dan kekacauan kekerasan.
Para tahanan itu menuntut dibebaskan dengan jaminan, dihentikannya apa yang mereka deskripsikan sebagai intervensi terhadap surat dan bacaan mereka, akses ke pengadilan yang adil, serta pencabutan pelarangan terhadap Palestine Action. Pada Juli lalu, pemerintah Inggris Perdana Menteri Keir Starmer melarang Palestine Action di bawah undang-undang anti-terorisme yang kontroversial.
Heba Muraisi telah memasuki hari ke-61 tanpa makanan. Teuta Hoxha hari ke-55. Kamran Ahmed hari ke-54. Lewie Chiaramello hari ke-41. Hoxha dan Ahmed telah sempat dirawat di rumah sakit. Para pengkampanye menggambarkannya sebagai mogok makan terbesar di Britania sejak 1981, yang dikatakan secara gamblang terinspirasi oleh mogok makan Irlandia.
Pada 1981, tahanan-tahanan Tentara Republik Irlandia dan republiken lainnya melakukan mogok makan di Irlandia Utara, menuntut pemulihan status politik mereka. Sepuluh orang meninggal, termasuk pemimpin mereka, Bobby Sands, yang terpilih menjadi anggota parlemen Inggris selama aksi tersebut. Margaret Thatcher mengambil sikap publik yang keras, namun di balik layar, pemerintah akhirnya mencari jalan keluar seiring pergeseran opini publik.
Salah satu tahanan, Martin Hurson (29 tahun), meninggal pada hari ke-46. Yang lain, termasuk Raymond McCreesh, Francis Hughes, Michael Devine, dan Joe McDonnell, meninggal antara hari ke-59 dan ke-61. Sands meninggal setelah 66 hari mogok makan.
Sue Pentel, anggota Jews for Palestine Ireland, mengingat periode itu dengan jelas.
“Saya di sini selama mogok makan berlangsung,” katanya. “Saya mengalami masa-masa mogok makan itu, berbaris, berdemonstrasi, mengadakan pertemuan, memprotes, jadi saya ingat kekejaman pemerintah Inggris yang membiarkan sepuluh orang mogok makan meninggal.”
“Kata-kata Bobby Sands, ‘Balas dendam kita akan adalah tawa anak-anak kita’. Dan kita membesarkan keluarga di sini, dan mereka adalah orang-orang yang sama, generasi baru yang kini berdiri dalam solidaritas dengan Palestina.”
‘Jika Ini Berlanjut, Beberapa Akan Meninggal’
Berdiri di bawah mural Bobby Sands, Pat Sheehan khawatir sejarah berjalan terlalu dekat untuk terulang kembali. Ia menghabiskan 55 hari dalam mogok makan sebelum aksi itu dihentikan pada 3 Oktober 1981.
“Saya adalah yang terlama dalam mogok makan itu ketika berakhir pada 1981, jadi secara teori saya akan menjadi orang berikutnya yang meninggal,” ujarnya.
Pada tahap itu, katanya, hatinya mulai gagal. Penglihatannya hilang. Ia terus-menerus muntah cairan empedu.
“Setelah melewati 40 hari, Anda memasuki zona bahaya,” kata Sheehan. “Secara fisik, para pemogok makan pasti sangat lemah sekarang bagi mereka yang telah mogok makan lebih dari 50 hari.”
“Secara mental, jika mereka telah mempersiapkan diri dengan benar untuk mogok makan, kekuatan psikologis mereka akan meningkat seiring lamanya aksi berlangsung.”
“Saya pikir jika ini berlanjut, niscaya beberapa dari para pemogok makan akan meninggal.”
Sheehan, yang kini mewakili Belfast Barat sebagai Anggota Majelis Legislatif untuk Sinn Fein, meyakini bahwa para pemogok makan yang terkait Palestine Action adalah tahanan politik, serta menambahkan bahwa orang-orang di Irlandia memahami Palestina dengan cara yang tidak dimiliki oleh sebagian besar negara Barat.
“Irlandia mungkin adalah satu-satunya negara di Eropa Barat di mana dukungan untuk perjuangan Palestina hampir mutlak,” ucapnya. “Karena kami memiliki sejarah penjajahan yang serupa; genosida dan penahanan.”
“Jadi ketika orang Irlandia melihat di layar TV mereka apa yang terjadi di Gaza, ada empati yang sangat besar.”
Posisi Irlandia
Empati itu kian banyak diterjemahkan menjadi aksi politik. Irlandia secara resmi mengakui negara Palestina pada 2024 dan telah bergabung dengan gugatan Afrika Selatan di International Court of Justice, menuduh terjadinya genosida di Gaza, suatu tuduhan yang dibantah Israel.
Pemerintah Irlandia juga telah mengambil langkah untuk membatasi penjualan obligasi Israel, sementara Irlandia memboikot Kontes Lagu Eurovision atas partisipasi Israel dan menyerukan agar tim sepak bola nasionalnya diskors dari kompetisi internasional.
Namun, banyak pengkampanye menyatakan langkah pemerintah belum cukup jauh. Mereka berargumen bahwa RUU Wilayah Pendudukan, yang berupaya melarang perdagangan dengan permukiman ilegal Israel, telah mandek sejak 2018, dan menyatakan kemarahan karena pesawat militer Amerika Serikat yang mengangkut senjata ke Israel masih diizinkan melintas melalui Bandara Shannon milik Irlandia.
Sementara itu, di bagian utara Irlandia yang masih menjadi bagian Britania, perang di Gaza mendominasi politik domestik.
Majelis Stormont dilanda krisis setelah Menteri Pendidikan Partai Persatuan Demokratik (DUP), Paul Givan, melakukan perjalanan ke Yerusalem dalam kunjungan yang dibiayai pemerintah Israel, memicu mosi tidak percaya di tengah kritik pedas dari kelompok-kelompok politik republiken Irlandia, nasionalis, sayap kiri, dan yang tidak terafiliasi.
Keputusan Balai Kota Belfast bulan lalu untuk mengibarkan bendera Palestina juga ditentang keras oleh dewan-dewan dari kalangan unionis sebelum akhirnya disetujui.
Bagi beberapa kelompok loyalis dan unionis, dukungan untuk Israel telah terjalin dengan kesetiaan kepada Britania, dengan bendera Israel juga berkibar di kawasan-kawasan Belfast yang secara tradisional loyalis.
Dengan warisan identitas yang berakar pada garis-garis sektarian, genosida di Gaza kadang terbaca ulang melalui garis patahan perpecahan lama.
‘Solidaritas Sampai ke Palestina’
Namun, di jalan-jalan Belfast, para pengunjuk rasa bersikeras bahwa solidaritas mereka tidak berakar pada identitas nasional, melainkan pada kemanusiaan.
Damien Quinn (33 tahun), anggota gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS), mengatakan mogok makan selalu memiliki bobot khusus di Irlandia.
“Kami di sini hari ini untuk mendukung para pemogok makan di Britania. Tetapi kami juga di sini untuk rakyat Palestina, bagi mereka yang dibantai setiap harinya,” katanya.
Palestine Action, ujarnya, “telah memperjelas bahwa mereka telah mencoba petisi, mereka telah mencoba lobi, mereka telah mencoba segalanya”.
“Jadi, ketika saya melihat cara mereka diperlakukan di penjara, karena berdiri menentang genosida, itu sangat memilukan.”
Bagi Rita Aburahma (25 tahun), seorang warga Palestina yang telah menemukan rumah di Belfast, mogok makan ini terasa sangat familiar dan menyakitkan.
“Rakyat saya tidak memiliki kemewahan untuk bersuara, berada di Palestina – solidaritas sangat berarti,” ujarnya.
“Saya rasa para pemogok makan sangat berani – mogok makan selalu menjadi bentuk perlawanan. Hal ini mengkhawatirkan saya, dan banyak orang lain, betapa lamanya waktu yang dibutuhkan pemerintah untuk memperhatikan mereka, atau mengambil tindakan apapun.”
“Tidak ada yang akan menyelamatkan orang-orang itu jika pemerintah tidak berbuat sesuatu. Jadi ini mengejutkan, tetapi tidak terlalu mengejutkan karena pemerintah yang sama telah menyaksikan genosida terjadi dan meningkat tanpa melakukan apapun.”
“Setiap bentuk solidaritas sampai kepada rakyat Palestina.”