Diterbitkan pada 6 Jan 2026
Klik untuk membagikan di media sosial
share2
Aceh Tamiang, Indonesia – Rahmadani dan putranya yang berusia sembilan tahun, Dimas, kehilangan rumah mereka ketika banjir besar menghancurkan tempat tinggal yang mereka sewa di Aceh Tamiang, yang terletak di provinsi Aceh bagian timur Indonesia.
Setelah awalnya mencari perlindungan di pinggir jalan tepat pasca bencana, mereka berpindah ke sebuah tenda yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah mereka yang rusak tiga minggu kemudian.
Banjir dahsyat pada bulan Desember itu menewaskan setidaknya 1.170 orang di seantero provinsi Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh. Berminggu-minggu setelah bencana, banyak korban yang mengungsi masih berlindung di tenda-tenda sementara.
Provinsi Aceh menanggung dampak paling parah, dengan Aceh Tamiang termasuk wilayah yang terpukul paling keras.
Bagi Rahmadani, kesehatan putranya tetaplah menjadi perhatian utamanya. Dimas, yang mengalami cedera saat masih bayi, tidak dapat berjalan ataupun berbicara.
“Sebelum banjir, kami selalu membawanya ke dokter, dan dia terawat dengan baik, sehingga kesehatannya terjaga. Setelah banjir, kami tidak bisa pergi ke dokter. Kalaupun ada bantuan, itu hanya bantuan makanan,” ujarnya.
“Kepalanya membengkak, jadi dia perlu minum obat dan vitamin. Obatnya tidak mahal, tapi sekarang kami tidak punya uang sama sekali. Anak saya kesakitan, tetapi saya hanya bisa menggendongnya sambil berusaha mencari penghasilan.”