Arab Saudi Sebut Kegiatan Operasional Terhenti di Sejumlah Situs Energi

Serangan Terhadap Fasilitas Energi Saudi Hentikan Operasi dan Kurangi Pasokan Minyak

Riyadh, 9 April 2026 – Aktivitas operasional di sejumlah fasilitas energi Arab Saudi terhenti akibat serangan baru-baru ini, menurut kantor berita resmi Saudi Press Agency (SPA) yang mengutip sumber resmi di Kementerian Energi.

Serangan yang menyasar lokasi minyak, gas, dan listrik di Riyadh, Provinsi Timur, serta Kota Industri Yanbu tersebut mengakibatkan tewasnya satu warga Saudi dari personel keamanan industri perusahaan energi setempat, dengan tujuh orang lainnya terluka, sebagaimana dilaporkan SPA pada Kamis.

Negara-negara Teluk, yang terdiri atas Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Oman, dan Qatar, telah berulang kali menghadapi serangan drone dan rudal dari Iran selama beberapa pekan terakhir. Serangan ini merupakan balasan atas perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.

Serangan terhadap situs-situs energi Saudi menyebabkan penurunan kapasitas produksi minyak kerajaan tersebut sekitar 600.000 barel per hari, sebagaimana disebutkan dalam laporan SPA.

‘Peningkatan Volatilitas’

Sumber resmi yang berbicara kepada SPA menyatakan bahwa kelanjutan serangan mengakibatkan pasokan yang berkurang, memperlambat pemulihan, dan berkontribusi pada peningkatan volatilitas di pasar minyak karena memengaruhi keamanan pasokan bagi negara-negara konsumen.

Harga minyak melonjak naik setelah sehari berada dalam tren penurunan pada Rabu, seiring dunia mempertimbangkan prospek gencatan senjata Iran-AS yang goyah dan kemungkinan dibukanya kembali penuh Selat Hormuz—titik transit minyak vital yang secara efektif diblokir Iran selama konflik.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian perang terhadap Iran selama dua pekan, dan Tehran mengatakan akan membuka kembali jalur air yang biasa mengangkut seperlima dari minyak dan gas dunia.

MEMBACA  Apakah Constellation Energy (CEG) Saham Energi Nuklir Terbaik untuk Investasi?

Namun, gencatan senjata itu diragukan kelangsungannya, terutama oleh serangan harian Israel yang berlanjut di Lebanon dan serangan Iran terhadap negara-negara Teluk setelah pengumuman gencatan senjata pada Rabu. Israel dan AS menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata, sementara Iran dan mediator Pakistan menyatakan sebaliknya.

Sejumlah pemimpin dunia telah menyerukan agar Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata.

Tehran juga menyatakan akan memberlakukan biaya tol bagi kapal-kapal yang melintasi Hormuz.

Tinggalkan komentar